Part 2- Pertanyaan-pertanyaan tentang kejahatan

6d735807970e2ef2307f821b8f7c0da8

 

Part 2- Pertanyaan-pertanyaan tentang kejahatan

APA TUJUAN KEJAHATAN?

Pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran orang yang menderita adalah, “MENGAPA?”, “Mengapa saya kehilangan kaki saya?”, “Mengapa anak perempuan saya yang masih kecil harus mati?”, “MENGAPA?”, sayangnya, kita tidak selalu bisa memberikan jawaban yang memuaskan bagi jiwa orang yang terluka dan membuat penderitaan mereka masuk akal. Tetapi bagi orang orang yang menggunakan ini sebagai dalih untuk menyangkal keberadaan atau kebaikan Allah, kita bisa memberikan jawaban. Argument mereka adalah seperti ini:

  1. Tidak ada tujuan yang baik bagi kebanyakan penderitaan
  2. Allah yang mahabaik pasti punya rencana yang indah untuk segala sesuatu
  3. Jadi, pasti tidak bisa ada Allah yang mahabaik

Kita bisa menangani problem ini dengan 2 cara. Pertama, kita perlu membuat perbedaan. Ada perbedaan antara pengetahuan kita tentang tujuan kejahatan dan Allah yang memiliki rencana untuk itu. Sekalipun kita tidak mengetahui rencana Allah, Ia mungkin masih memiliki alasan yang baik untuk mengizinkan terjadinya kejahatan dalam hidup kita. Jadi, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa tidak ada rencana yang baik untuk sesuatu hanya karena kita tidak tahu apa rencana itu.

Selain itu, kita tahu beberapa rencana Allah atas kejahatan. Misalnya, kita tahu bahwa Allah kadang kadang menggunakan kejahatan untuk memperingatkan kita akan kejahatan yang lebih besar. Seorang yang sudah membesarkan anak telah melalui masa beberapa bulan dengan perasaan takut bahwa bayinya akan menyentuh kompor yang panas untuk pertama kalinya. Kita membenci pemikiran tentang itu, tetapi kita tahu bahwa setelah bayi melakukan hal itu, ia tidak akan melakukannya lagi. Ia akan dengan segera memiliki kesadaran berdasarkan pengalaman tentang arti kata “panas” dan akan siap mentaati peringatan kita jika kita menggunakannya. Penderitaan kecil untuk pertama kali diijinkan untuk menghindari bahaya yang lebih besar pada waktu demikian.

Karunia rasa sakit

“Dr. Paul Brand, periset dan ahli terapi penyakit Hansen yang terkenal memberikan wawasan yang penting tentang problem rasa sakit. Setelah memeriksa 3 pasien, Lou, yang bisa kehilangan jempolnya terinfeksi karena bermain siter, Hector- yang tidak bisa merasakan kerusakan yang ia lakukan pada tangannya ketika mengepel, dan Jose – yang tidak bersedia untuk memakai sepatu khusus untuk mencegah hilangnya gumpalan kecil yang sebelumnya adalah kakinya. Dr. Brand mengatakan ini:

“Rasa sakit, seringkali dipandang sebagai penghambat terbesar yang membatasi aktivitas tertentu. Tetapi saya memandangnya sebagai pemberi kebebasan terbesar. Lihatlah ketiga orang ini, Lou- kami berusaha sungguh sungguh untuk menemukan cara untuk memberikan kebebasan sederhana kepadanya untuk bermain siter. Hector- ia bahkan tidak bisa mengepel lantai tanpa melukai dirinya sendiri, Jose- terlalu sombong untuk menjalani pengobatan yang sesuai, ia diberi sepatu pengganti sementara yang bisa mencegah dia kehilangan kakinya. Ia tidak bisa berpakaian rapi dan berjalan dengan normal, untuk itu, ia membutuhkan karunia penderitaan” (Where Is God When It Hurts?, Philip Yancey, Grand Rapids: Zondervan, 1977, P.37).

Penderitaan juga mencegah kita untuk tidak merusak diri sendiri. tahukah anda mengapa penderita kusta kehilangan jari tangan, jari kaki, dan hidung mereka?, biasanya, hal itu tidak langsung berkaitan dengan penyakit kusta itu sendiri. sebaliknya, penyakit itu membuat mereka kehilangan perasan secara ekstrem, dan mereka secara harafiah merusak diri mereka sendiri. mereka tidak bisa merasakan sakit ketika mereka menyentuh panci panas, sehingga mereka terus memegangnya sampai tangan mereka terbakar. Karena tidak dapat merasakan benda benda yang akan dibenturnya, mereka menendang benda itu dengan kekuatan penuh tanpa memperlambat geraknya. Tanpa perasaan sakit, mereka mendatangkan kerusakan yang sangat besar bagi diri mereka sendiri dan bahkan tidak menyadarinya.

Meskipun tampaknya seperti harga yang mahal yang harus dibayar, beberapa kejahatan membantu mendatangkan kebaikan yang lebih besar. Alkitab memberikan beberapa contoh tentang hal ini dalam diri orang orang seperti Yusuf, Ayub, dan Simson. Mereka masing masing menjalani penderitaan yang nyata. Bagaimana bangsa Israel bertahan hidup menghadapi bencana kelaparan dan mengungsi supaya bisa berkembang jika Yusuf tidak dijual sebagai budak oleh saudara saudaranya dan dipenjarakan secara tidak adil?, apakah Ayub mampu mencapai pertumbuhan rohani yang pesat jika ia tidak terlebih dahulu menderita? (Ayub 23:10). Jenis pemimpin seperti apa jadinya Rasul Paulus jika ia tidak dijadikan rendah hati setelah ia mendapatkan pernyataan Allah yang luar biasa? (2 Korintus 12). Yusuf menyimpulkan peristiwa yang ia alami ketika ia memberitahu saudara-saudaranya, “memang kamu telah mereka rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka rekakannya untuk kebaikan” (Kejadian 50:20).

Akhirnya, mengizinkan terjadinya kejahatan sesungguhnya membantu mengalahkan kejahatan. Salah satu langkah pertama dalam program rehabilitasi penyalahgunaan miras dan narkoba (alcohol, tembakau, mariyuana, kokain) adalah dengan memberikan miras atau narkoba dalam jumlah besar yang bisa ia tahan sampai ia merasa muak. Anda lebih mudah berhenti jika sudah mengalami pengalaman yang buruk. Proyek proyek seperti progam “Scared Straight” di penjara Rahway rtelah menghentikan banyak anak muda untuk mengikuti kehidupan sebagai penjahat, tetapi narapidana yang mengajar mereka tentang kehidupan di penjara telah menyebabkan penderitaan dan sedang menderita. Dan ada contoh utama: Salib. Tampaknya ada ketidakadilan yang luar biasa yang dikenakan pada orang yang tidak bersalah sehingga kebaikan bisa dialami oleh semua orang. Kejahatan yang Ia tanggung sebagai pengganti kita mengizinkan kita untuk datang kepada Allah dengan bebas tanpa rasa takut, karena rasa bersalah dan hukuman kita sudah disingkirkan.

C S. Lewis mengatakan, “Allah berbisik kepada kita dalam kesenangan kita, berbicara dalam hati nurani kita, tetapi berteriak dalam penderitaan kita, penderitan merupakan megafonNya untuk membangunkan dunia yang bisu”. Dalam beberapa pengertian, kita membutuhkan penderitaan supaya kita tidak dikuasai oleh kejahatan yang akan kita pilih jika hal itu tidak mendatangkan rasa sakit. Ia memperingatkan kita akan fakta bahwa ada hal hal yang lebih baik daripada kesengsaraan.

 

Di Kayu Salib

Mengapa Allah mengizinkan anakNya menderita dan mati dengan cara yang kejam dan keras seperti penjahat padahal Ia tidak melakukan sesuatu yang salah, dan berdasarkan kodratnya, tidak perlu mati?, ketidakadilan ini sangat sulit dijelaskan kecuali ada kebaikan yang lebih besar yang dihasilkan melalui kematian Kristus yang mengajalahkan kejahatan hal itu. Penjelasalan Yesus sendiri adalah bahwa Ia datang untuk memberikan hidupNya sebagai tebusan bagi orang banyak (Markus 10:45), dan mengatakan, “tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat sahabatnya” (Yohanes 15:13). Ibrani 12:2, mengatakan rencana Yesus, “dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul Salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia”. Artinya pendamaian orang berdosa itu pantas untuk dibayar dengan penderitaanNya. Seperti dikatakan Yesaya, “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan padanya, dan oleh bilur bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:5). Tujuan yang lebih tinggi dan kebaikan yang lebih besar dihasilkan melalui kematian Kristus sebagai pengganti kita sebab membayar utang dosa kita jauh lebih penting daripada kejahatan yang menyatu dalam proses itu”.

 

APAKAH HARUS ADA BEGITU BANYAK KEJAHATAN?

Besarnya kejahatan memperhadapkan problem bagi kita. Tentu saja tidak perlu ada kejahatan yang begitu besar untuk menggenapi rencana Allah. tidak bisakah ada sesuatu yang lebih ringan dari pada pemerkosan atau sopir yang mabuk?, itu akan membuat dunia menjadi lebih baik. Dan tentu saja teori, “penderitaan yang lebih ringan” bisa diperluas sampai tidak ada kejahatan sama sekali. Ini bahkan bisa diperluas sampai kasus ekstrim, Bagaimana dengan neraka?, tidakkah akan lebih baik jika orang yang masuk neraka itu berkurang satu?, karena kedua pertanyaan ini memiliki jawaban yang sama, mari kita membahasnya dengan kasus yang ekstrim.

  1. Kebaikan terbesar adalah menyelamatkan semua manusia.
  2. Bahkan satu orang yang masuk ke neraka akan mengurangi kebaikan yang terbesar
  3. Sebab itu, Allah tidak mungkin mengirimkan manusia ke neraka

Untuk menjawab keberatan ini, kita kembali kepada topic kehendak bebas. Memang benar bahwa Allah menghendaki semua orang untuk diselamatkan (2 Petrus 3:9), tetapi itu bahwa mereka harus memilih untuk mengasihi Dia dan percaya kepadaNya. Nah, Allah tidak bisa memaksa seorang pun untuk mengasihi Dia. Kasih yang dipaksakan bertentang dengan sifatNya. Kasih itu harus bebas, itu adalah pilihan bebas. Jadi, meskipun Allah menghendaki, beberapa orang memilih untuk tidak mengasihi Dia (Matius 23:37). Semua orang yang masuk neraka mengalami itu karena pilihan bebas mereka sendiri. mereka mungkin tidak ingin pergi ke neraka (siapa yang mau?), tetapi mereka menghendaki itu. Mereka membuat keputusan menolak Allah, sekalipun mereka tidak ingin mendapatkan hukuman. Orang orang tidak masuk neraka karena Allah mengirim mereka ke sana, mereka memilih itu dan Allah menghormati pilihan mereka. “Pada akhirnya ada dua jenis orang: orang yang berkata ya kepada Allah, “KehendakMu jadilah”, dan orang yang kepadanya Allah berkata, pada akhirnya, “KehendakMu jadilah”, semua orang yang masuk neraka memilih itu””.

Sekarang, jika demikian caranya nasib kekal itu diputuskan, seseorang masuk neraka itu bukan kejahatan, sebaliknya yang lebih tepat itu sungguh sungguh perlu (yaitu, seorang yang memilih Allah tetapi tetap dikirim ke neraka). Andaikan, dunia dimana beberapa orang masuk neraka bukan yang terbaik dari semua dunia yang bisa dipahami, tetapi itu mungkin merupakan yang terbaik dari semua dunia yang bisa dicapai. Jika kehendak bebas tetapi dipelihara. Sama halnya, dunia mungkin dibuat lebih baik oleh kurangnya satu kejahatan, tetapi pilihan harus diserahkan kepada calon penjahat untuk membuat keputusan itu. Apakah kita membicarakan tentang dosa sehari hari sepanjang jalan, atau dosa yang terbesar dari semua (menolak Allah), jawabn untuk pertanyaan itu sama.

Manusia memilih neraka

“Yohanes 3:18- “Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum, barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah””.

“Yohanes 3:36 – Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya””.

“Yohanes 5:39-40 – Kamu menyelidiki Kitab kitab suci, sebab kamu menyangka bahwa olehNya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab kitab suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu””

“Yohanes 12:48 – Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanKu, ia sudah ada hakimnya, yaitu Firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman””

“Lukas 10:16 – Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku, dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku, dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku”

 

TIDAKKAH ALLAH BISA MEMBUAT DUNIA TANPA KEJAHATAN?

Keberatan terakhir yang perlu kita bahas adalah bahwa Allah seharusnya bisa membuat pekerjan yang lebih baik ketika merancang dunia pada mulanya. Ia seharusnya bisa menciptakan dunia yang tidak mengandung kejahatan. Inilah argumennya:

1. Allah mengetahui segala sesuatu

2. Jadi, Allah tahu kejahatan akan terjadi ketika ia menciptakan dunia

3. Allah memiliki kemungkinan non kejahatan lainnya. Allah bisa saja

a. tidak menciptakan apa apa

b. menciptakan dunia tanpa makhluk yang bebas

c. menciptakan makhluk yang bebas tidak akan berbuat dosa

d. menciptakan makhluk yang bebas yang akan berbuat dosa tetapi semua akan diselamatkan pada akhirnya

4. Sebab itu, Allah bisa menciptakan dunia yang tidak melibatkan kejahatan maupun neraka

Tampaknya seperti argumen lagu yang merdu, karena Allah memiliki semua opsi itu. Pertanyaannya adalah, “Apakah semua pilihan itu sungguh sungguh lebih baik daripada dunia yang kita miliki?”, mari kita memeriksa satu per Satu

ALLAH BISA TIDAK MENCIPTAKAN APA APA

Argument ini secara salah menyiratkan bahwa tidak ada apa apa lebih baik daripada sesuatu. Ia menyiratkan bahwa lebih baik tidak ada apa apa daripada kejahatan muncul. Tetapi itu mengabaikan fakta bahwa pada mulanya benda benda diciptakan dalam keadaan baik dan bagi mereka sekedar ada itu sudah baik. Kebaikan itu tidak akan ada jika Allah tidak mencipta. Di samping itu, keberatan ini sungguh sungguh tidak masuk akal. Itu seperti mengatakan, “Secara moral lebih baik bagi Allah untuk menciptakan dunia non moral”. Tetapi sesuatu yang tidak memiliki moralitas yang melekat padanya tidak bisa bersufat lebih baik atau lebih buruk. Ia tidak memiliki status moral, ia bahkan tidak memiliki status realitas. Ini bahkan tidak seperti membandingkan apel dengan jeruk karena kedua duanya ada. Di sini perbandinganya adalah antara tidak apa apa dengan sesuatu.

 

ALLAH BISA MENCIPTAKAN DUNIA TANPA MAKHLUK YANG BEBAS

Allah seharusnya bisa memenuhi bumi dengan segala binatang atau robot yang hanya melakukan kehendakNya. Tetapi pilihan ini menghadapi problem yang sama seperti yang pertama: pilihan non moral, artinya, dunia non moral tidak bisa menjadi dunia yang baik secara moral. Sekali lagi, kita tidak bisa membandingkan apa yang non baik (maksudnya, secara moral netral), dengan apa yang jelek. Ada perbedaan yang tidak ternilai di antara apa yang tidak memiliki nilai moral dengan apa yang memiliki nilai moral, sebesar apapun. Selain itu, bahkan jika tidak ada kerusakan moral dalam dunia semacam itu, masih ada kemungkinan terjadi kerusakan secara fisik. Binatang binatang masih mengalami degenarasi secara fisik dan membusuk. Jadi hanya karena tidak ada makhluk yang bebas tidak berarti bahwa tidak akan ada kejahatan fisik. Sebab itu, itu hanya mengganti satu bentuk kejahatan dengan yang lainnya.

Dunia yang mungkin ada

Screen Shot 05-09-17 at 08.18 PM

Ada sebuah kisah tentang seorang imam Irlandia yang baru saja menyampaikan sebuah pesan tegas denouncing dosa dan menyampaikan salam kepada jemaatnya di akhir kebaktian. Di antara mereka yang salut kepadanya karena keberaniaannya adalah seorang janda yang dengan gembira memeluk tangan sang imam dan berkata, “Peter, saya senang mendengarkan pesan anda hari ini dan saya mau memberitahu anda bahwa selama ini saya menjalani hidup kudus. Mengapa, selama 30 tahun terakhir saya meninggalkan dosa”. Sang Imam mendengar ungkapan ini dengan sedikit membual, menjawab, “Bagus, pertahankan itu, anakku, tiga tahun lagi dan engkau memecahkan rekor!”. Dosa mungkin tidak terhindarkan dalam sikap sekalipun ia tidak terlihat oleh mata jasmani kita.

 

ALLAH SEHARUSNYA BISA MENCIPTAKAN MAKHLUK YANG BEBAS YANG TIDAK BERDOSA

Secara logis ada kemungkinan untuk memiliki kehendak bebas dan tidak berdosa. Adam melakukan hal itu sebelum ia jatuh ke dalam dosa. Yesus melakukan hal itu sepanjang hidupNya (Ibrani 4:15). Alkitab mengatakan bahwa suatu hari nanti akan ada dunia di Surga dimana setiap orang memiliki kehendak bebas tetapi tidak ada dosa lagi (Wahyu 21:8,27). Tidak ada problem dengan ide tentang dunia semacam itu, tetapi tidak semua yang secara logis mungkin akan sungguh sungguh menjadi kenyataan. Secara logis ada kemungkinan bahwa Amerika Serikat seharusnya bisa menghindari perang revolusi, tetapi yang sesungguhnya terjadi tidak seperti itu. Sama halnya, bisa dipahami bahwa makhluk yang bebas bisa tidak pernah berdosa, tetapi membuat hal itu terjadi adalah masalah lain. Bagaimana Allah bisa menjamin bahwa mereka tidak pernah berdosa?, salah satu caranya adalah dengan menghalangi kebebasan mereka. Ia bisa saja membuat satu mekanisme sehingga ketika mereka hampir memilih sesuatu yang jahat, satu gangguan akan muncul untuk mengubah keputusan mereka. Atau mungkin Ia akan memprogram makhluk hanya untuk melakukan hal hal yang baik. Tetapi apakah makhluk semacam itu sungguh sungguh bebas?, sulit menyebut satu pilihan bebas jika sudah diprogram supaya tidak ada alternative?, dan jika tindakan kita sekedar membelokkan dari melakukan kejahatan, tidakkah sudah ada motif yang jahat dalam keputusan yang akan kita buat?, jadi dunia dimana tidak ada orang yang berdosa bisa dipahami, tetapi sesungguhnya tidak bisa dicapai.

Di luar ini semua, dunia yang bebas tanpa kejahatan sesungguhnya secara moral lebuh buruk dari pada dunia saat ini. Dalam dunia ini, orang ditantang untuk melakukan hal yang baik dan mulia dan untuk mengatasi kecenderungan untuk berbuat jahat. Itu tidak akan terjadi dalam dunia tanpa kejahatan. Kebaikan tertinggi dan kesenangan terbesar tidak mungkin dicapai jika tidak ada rasa takut yang nyata terhadap bahaya. Pengorbanan diri hanya disebut mulia jika ada kebutuhan da nada keegoisan yang menentangnya untuk diatasi. Seperti perkataan pepatah, “Tanpa penderitaan, tidak ada hasil yang dicapai”. Lebih baik memiliki kesempatan untuk mencapai kebaikan tertinggi daripada dibatasi untuk mencapai kebaikan yang kurang dari itu dengan tanpa pertentangan.

 

ALLAH SEHARUSNYA BISA MENCIPTAKAN MAKHLUK YANG BEBAS YANG AKAN BERDOSA, TETAPI SEMUA AKAN DISELAMATKAN PADA AKHIRNYA.

Pilihan ini membuat kesalahan yang sama seperti sebelumnya dengan menyimpulkan bahwa Allah bisa memanipulasi kebebasan manusia untuk memilih kebaikan. Beberapa orang mengatakan bahwa Allah tidak akan pernah berhenti mengejar seseorang sampai ia membuat pilihan yang benar. Tetapi pandangan ini tidak memperhatikan pengajaran Alkitab dengan serius bahwa mereka itu nyata bagi beberapa orang. Pandangan semacam itu menyiratkan bahwa Allah akan menyelamatkan orang orang tidak peduli apa yang harus Ia kerjakan. Tetapi kita harus mengingat bahwa Ia tidak bisa memaksa mereka untuk mengasihi Dia. Kasih yang dipaksakan adalah pemerkosaan, dan Allah bukanlah pemerkosa ilahi, Ia tidak akan melakukan apapun untuk memaksa keputusan mereka. Allah tidak akan menyelamatkan manusia dengan cara apapun, Ia menghormati kebebasan mereka dan setuju dengan pilihan mereka. Ia bukan dalang, tetapi seorang yang penuh kasih yang membujuk manusia untuk datang kepadaNya.

 

JADI, MENGAPA ALLAH MEMILIH DUNIA INI?

Apakah ini adalah dunia yang terbaik yang bisa diciptakan Allah?, ini mungkin bukan merupakan yang terbaik dari semua dunia yang mungkin ada, tetapi ini merupakan cara yang terbaik bagi dunia yang terbaik. Jika Allah harus mempertahankan kebebasan dan mengalahkan kejahatan, ini merupakan cara terbaik untuk melakukan hal itu. Kebebasan tetap dipertahankan dalam arti setiap orang membuat pilihan bebasnya sendiri untuk menentukan nasibnya. Kejahatan diatasi dalam arti, sekali seseorang menolak Allah dipisahkan dari yang lain, keputusan semuanya dijadikan permanen. Orang yang memilih Allah akan diteguhkan di dalamnya dan dosa akan berhenti. Orang yang menolak Allah akan disingkirkan dan tidak bisa merusak dunia yang sempurna yang akan datang. Tujuan akhir dunia yang sempurna dengan makhluk yang bebas akan tercapai, tetapi cara untuk sampai di sana menuntut agar orang yang menyalahgunakan kebebasan mereka disingkirkan. Allah telah menjamin kita bahwa sebanyak mungkin orang akan diselamatkan, yaitu semua orang yang akan percaya (Yohanes 6:37). Dan Allah telah menyediakan keselamatan bagi semua orang dalam Kristus (1 Yohanes 2:2). Ia menunggu dengan sabar dan menghendaki semua orang untuk diselamatkan (2 Petrus 3:9), tetapi, seperti Yesus menangisi Yerusalem, “Berkali kali Aku rindu mengumpulkan anak anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Matius 23:37). Seperti dicatat seorang ateis Jean Paul Sartre dalam dramanya, No Exit, gerbang neraka dikunci dari dalam oleh kehendak bebas manusia.

Screen Shot 05-09-17 at 08.18 PM 001

Referensi:

C.S. Lewis, A Grief Observed, New York: Bantam Books, Inc, 1976, P. 33-35

C.S. Lewis, The Problem Of Pain, New York: Macmillan, 1962, p.93

C.S. Lewis, The Great Divorce, New York: Macmillan, 1946, p.69

quote-i-am-suffering-incessant-temptations-to-uncharitable-thoughts-at-present-one-of-those-c-s-lewis-72-40-87

Normal Geisler, When Skeptis Asks, Baker Books, 2004.

 

NLG2004