Part 3- pertanyaan-pertanyaan tentang kejahatan

Why-Does-God-Allow-Suffering-and-Evil-

Part 3- pertanyaan-pertanyaan tentang kejahatan

Pada awal 1999 seorang anak tertabrak oleh sebuah mobil dan meninggal. Setelah acara penguburan, pertanyaan yang terus membayangi pikiran dari para anggota keluarga yang berduka adalah “Mengapa hal seperti ini harus terjadi?”, ini adalah pertanyaan sama yang telah ditanyakan orang dari masa ke masa ketika sebuah tragedy melanda- Mengapa hal hal buruk terjadi kepada orang orang baik?. Dan apa yang dikatakan oleh kejadian seperti ini mengenai Allah?, coba pikirkan pergumulan apa yang telah dialami oleh teman teman dan keluarga dari hampir 3000 orang yang kehilangan nyawa pada tahun 2001. Pensurvei George Barna pernah ditugaskan untuk menanyakan orang tentang pertanyaan apakah yang akan mereka tanyakan mengenai Allah jika mereka memiliki kesempatan. Dengan hasil yang cukup menakjubkan, pertanyaan yang paling ingin ditanyakan adalah:

MENGAPA BANYAK SEKALI PENDERITAAN DI DUNIA?

Tujuan saya adalah untuk secara singkat menguji beberapa pertanyaan pertanyaan sulit mengenai kejahatan. Saya mendekati topic ini dengan beberapa kehati hatian yang disebabkan karena memang faktanya penanganan yang benar memerlukan satu buku penuh, bukan hanya sebuah bagian yang pendek. Penanganan singkat selalu memiliki resiko kedangkalan. Saya mendorong para pembaca untuk melengkapi pembahasan singkat saya ini dengan beberapa karya yang lebih lengkap yang dikutip pada catatan akhir dan dalam sumber sumber yang disarankan di akhir bagian ini.

Sebelum sampai kepada pertanyannya, alangkah baiknya untuk mencatat beberapa pemikiran mendasar mengenai kejahatan. Kejahatan bukanlah sesuatu yang memiliki keberadaan pada dirinya sendiri: namun, kejahatan merupakan kerusakan atau deviasi dari apa yang sudah ada. Kejahatan adalah absennya atau ketiadaan dari sesuatu yang baik.

Kelapukan pada kayu pohon, misalnya, dapat muncul hanya selama pohon itu ada. Kebusukan pada gigi dapat terjadi hanya selama gigi itu ada. Karat pada mobil dan bangkai yang membusuk mengilustrasikan maksud yang sama. Kejahatan ada sebagai kerusakan dari sesuatu yang baik, kejahatan merupakan ketiadaan dari sesuatu dan tidak memiliki esensinya sendiri. Norman Geiler mengatakan kepada kita, “Kejahatan itu seperti luka pada lengan atau lubang pada sebuah kain. Kejahatan hanya ada di dalam sesuatu dan bukan di dalam dirinya sendiri”.

Tentu, untuk mengatakan bahwa kejahatan bukan sesuatu hal di dalam dirinya sendiri tidak sama dengan mengatakan bahwa kejahatan itu tidak nyata. Kejahatan mungkin bukan sesuatu yang substansi actual, tetapi ini melibatkan ketiadaan dan kerusakan actual pada substansi substansi kebaikan. Geilser mencatat, “Kejahatan bukan merupakan etintas actual tetapi kerusakan nyata dalam entitas yang actual”.

Pohon yang lapuk, mobil yang berkarat, gigi yang busuk, kanker otak, kematian Greg, semua ini adalah contoh bagaimana kejahatan adalah kerusakan dari sesuatu yang baik. Mengerti apakah kejahatan itu merupakan satu hal dan mengerti bagaimana kejahatan semacam itu dapat ada dalam dunia yang diciptakan oleh Allah merupakan hal yang sangat berbeda. Masalah kejahatan dapat dipandang dalam bentuk yang sederhana sebagai konflik yang lelibatkan 3 konsep: Kuasa Allah, Kebaikan Allah dan kehadiran kejahatan di dalam dunia.

Akal sehat memberitahu kita bahwa ketiganya tidak mungkin benar pada saat bersamaan. Solusi terhadap masalah kejahatan biasanya melibatkan modifikasi satu atau lebih dari tiga konsep yang ada: membatasi kuasa Allah, membatasi kebaikan Allah atau memodifikasi keberadaan kejahatan (seperti menyebutnya sebagai sebuah ilusi)

Jika Allah tidak membuat klaim bahwa diriNya baik, maka pastilah lebih mudah untuk menjelaskan keberadaan kejahatan. Tetapi Allah kenyataannya mengklaim diriNya baik. Jika Allah dibatasi kuasaNya sehingga ia tidak cukup kuat untuk menghambat kejahatan, keberadaan kejahatan akan lebih mudah untuk dijelaskan. Tetapi Allah nyatanya mengklaim diriNya maha kuasa. Jika kejahatan hanya sebuah ilusi yang tidak memiliki realita, maka masalah itu tidak akan pernah muncul. Tetapi kejahatan bukanlah ilusi, ini merupakan kenyataan.

Sekarang kita menghadapi realita baik kejahatan moral atau moral evil (kejahatan yang dilakukan oleh agen moral bebas, seperti perang, criminal, kejahatan, pertentangan antar golongan, diskriminasi, perbudakan, pembantaian etnis, bom bunuh diri, dan berbagai macam ketidakadilan) dan kejahatan alami atau natural evil (seperti hujan, badai, banjir, gempa bumi, dan hal hal serupa lainnya). Allah itu baik, dan Allah maha kuasa, namun kejahatan itu ada. Ini adalah masalah kejahatan dalam bentuk yang paling dasar.

Para pemikir terutama David Hume, H.G. Wells, dan Betrand Russel telah menyimpulkan, berdasarkan observasi mereka mengenai penderitaan dan kejahatan, bahwa Allah Alkitab tidak ada. Hume secara singkat mengatakan ketika ia menulis mengenai Allah, “Apakah Ia berkeinginan mencegah kejahatan, namun tidak dapat?, Maka Ia tidak maha kuasa. Apakah Ia dapat, namun tidak ingin?, maka Ia jahat. Apakah Ia dapat maupun ingin: bagaimana bisa ada kejahatan?”, jika memang ada Allah, dan Ia maha baik dan maha kuasa, maka semua malapetaka seperti pembunuhan Hitler terhadap 6 juta orang Yahudi tidak akan pernah terjadi.

Pastilah orang orang Kristen setuju bahwa Hitler lakukan terhadap orang orang Yahudi adalah kejahatan yang sangat mengerikan. Tetapi saya harus buru buru mengingatkan, sebelum menyajikan pandangan Alkitabiah mengenai masalah kejahatan, bahwa perlakuan mendasar mengkategorikan tingkah laku Hitler sebagai kejahatan mengangkat satu masalah filosofis yang penting. Seperti yang telah ditangkap oleh para pemikir, jika seseorang ingin mengklaim bahwa ada kejahatan di dalam dunia, pertama tama orang itu harus bertanya dengan kriteria apa sesuatu itu dikatakan sebagai kejahatan. Bagaimana seseorang dapat mengatakan bahwa beberapa hal adalah jahat dan hal lainnya tidak?, Alat pengukur moral apakah yang dipakai untuk mengukur orang maupun kejadian secara moral?, dengan proses apa kejahatan dibedakan dari kebaikan dan sebaliknya?

Kenyataannya adalah mustahil untuk membedakan kejahatan dari kebaikan kecuali seseorang memiliki sebuah titik acuan yang tidak terbatas yang benar benar baik. Jika tidak, maka seseorang adalah seperti seorang di dalam perahu yang berada di lautan luas pada malam hari yang mendung tanpa sebuah kompas (dimana tidak ada cara untuk membedakan utara dari selatan tanpa titik acuan absolut dari jarum kompas).

Titik acuan yang tidak terhingga untuk membedakan kebaikan dari kejahatan dapat ditemukan hanya di dalam pribadi Allah, karena Allah sendiri dapat memenuhi kriteria atau definisi, “benar benar baik atau baik secara absolut”. Jika Allah tidak ada, maka tidak ada standar moral yang absolut dimana seseorang berhak mengatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu sebagai sesuatu yang jahat. Lebih spesifik lagi, jika Allah tidak ada, tidak akan ada dasar ultimat untuk mengatakan atau memutuskan, misalnya kejahatan yang dilakukan Hitler. Dilihat dari sudut pandang demikian, realita kejahatan sebenarnya membutuhkan keberadaan Allah dan bukan malah meniadakannya.

 

APAKAH ASAL USUL KEJAHATAN?

Awal ciptaan adalah “sangat baik” (Kejadian 1:31). Tidak ada dosa, tidak ada kejahatan, tidak ada rasa sakit, dan tidak ada kematian. Namun sekarang dunia penuh dosa, kejahatan, rasa sakit dan kematian. Apa yang membawa ini semua?, Alkitab mengindikasikan bahwa kemerosotan ini terjadi pada saat Adam dan Hawa menggunakan kehendak bebas yang diberikan Allah untuk memilih tidak tat kepada Allah (lihat kejadian 3)

Beberapa orang bertanya tanya, mengapa Allah tidak menciptakan manusia, yang entah bagaimana, dimana kita tidak akan pernah berdosa dan oleh sebab itu dapat terhindar dari kejahatan. Faktanya adalah, scenario seperti ini akan berarti bahwa kita bukanlah benar benar manusia. Kita tidak akan pernah memiliki kapasitas untuk membuat keputusan keputusan dan untuk mencintai dengan bebas. Scenario ini akan mengharuskan Allah menciptakan robot robot yang hanya akan bertindak sesuai dengan apa yang telah diprogramkan, seperti boneka yang dapat berbicara, yang ketika anda tarik talinya dapat mengatakan, “saya mencintaimu”. Paul Little mengingatkan bahwa dengan boneka semacam ini, “tidak akan ada kata-kata kasar, tidak aka nada konflik, tidak akan ada apapun yang dikatakan atau dilakukan yang akan membuat anda sedih!, namun siapa yang mengingini itu semua?, tidak akan pernah ada cinta pula. Cinta itu bersifat sukarela. Allah dapat saya membuat kita seperti robot, namun kita tidak akan berhenti menjadi manusia. Allah rupanya berpikir bahwa memang sepadan dengan resikonya untuk menciptakan kita seperti sekarang ini”.

Cinta tidak dapat diprogram, cinta harus diekspresikan dengan bebas. Allah menginginkan Adam dan seluruh umat manusia untuk menunjukkan cintanya secara bebas, memilih untuk taat. Itulah mengapa Allah memberikan Adam dan manusia lainnya sebuah kehendak bebas. Geisler benar ketika mengatakan, “kasih yang dipaksakan adalah pemerkosaan dan Allah bukanlah pemerkosa Ilahi, Ia tidak akan melakukan apa apa untuk memaksa keputusan manusia”. Sebuah pilihan bebas akan memberikan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam memilih. Seperti dikatakan JB Philips, “Kejahatan tersirat dalam pemberian kehendak bebas yang beresiko itu”

Dalam melihat fakta fakta Alkitabiah, kita dapat menyimpulkan bahwa rencana Allah memiliki potensi menghasilkan kejahatan ketika Ia memberikan kebebasan memilih kepada manusia, tetapi asal usul kejahatan sebenarnya datang dari manusia yang mengarahkan keinginannya menjauh dari Allah dan menuju kepada keinginannya sendiri yang serakah. Norman Geiler dan Jeff Amanu mengatakan, “Allah menciptakan fakta kebebasan, manusia melakukan tindakan bebas tersebut, ciptaan membuatnya actual”. Setelah Adam dan Hawa membuat kejahatan menjadi actual pada kali pertama itu di taman eden, natur dosa telah diwariskan kepada setiap pria dan wanita (lihat Roma 5:12; 1 Korintus 15:22), dan akibat natur dosa itulah kita sekarang ini terus menggunakan kehendak bebas itu untuk membuat kejahatan itu menjadi actual (lihat Markus 7:20-23).

Bahkan kejahatan alami seperti gempa bumi, tornado, banjir dan hal hal serupa, berakar dari penyalahgunaan kehendak bebas kita. Kita tidak boleh lupa bahwa kita hidup dalam dunia yang telah jatuh, dank arena itu, kita rentan akan bencana alam yang tidak akan terjadi jia saja manusia tidak memberontak melawan Allah pada mulanya (lihat Roma 8:20-22). Taman eden tidak memiliki bencana alam atau kematian sampai setelah Adam dan Hawa berdosa (lihat Kejadian 1-3). Tidak akan ada bencana alam atau kematian dalam langit dan bumi yang baru ketika Allah mengakhiri kejahatan selama lamanya (lihat Wahyu 21:4).

 

APAKAH TUJUAN ULTIMAT ALLAH MENGIZINKAN KEJAHATAN?

Fakta bahwa manusia menggunakan pilihan bebas yang diberikan Allah untuk memberontak terhadap Allah tidak mengejutkan Allah. C.S. Lewis mengatakan bahwa Allah di dalam kemahatauanNya “melihat bahwa dari dunia ciptaan yang bebas, walaupun mereka jatuh. Ia dapat menghasilkan…kebahagiaan yang lebih dalam dan kesukaan yang lebih penuh dariapa yang dikatakan oleh dunia yang mekanistis”. Atau, seperti yang dikatakan dengan sangat baik oleh Geiler, bahwa orang-orang percaya Allah tidak harus mengklaim bahwa dunia yang sekarang ini adalah yang terbaik dari semua kemungkinan dunia yang dapat diciptakan, namun merupakan cara terbaik terhadap dunia terbaik yang mungkin diciptakan:

“Jika Allah mempertahankan kebebasan maupun mengalahkan kejahatan, maka ini adalah cara terbaik untuk melakukannya. Kebebasan dipertahankan di dalam setiap orang membuat pilihan bebasnya untuk menentukan nasibnya. Kejahatan termasuk di dalamnya, segera setelah mereka yang menolak Allah dipisahkan satu sama lain, semua keputusan itu menjadi permanen. Mereka yang memilih Allah diteguhkan di dalamNya, dan dosa akan berhenti. Mereka yang menolak Allah berada di dalam karantina Allah yang kekal dan tidak dapat mengacau dunia yang sempurna di masa yang akan datang. Tujuan utama dari dunia yang sempurna dengan ciptaan dan bebas akan tercapai, tetapi jalan untuk mencapai ke sana mengharuskan mereka yang menyalahgunakan kebebasan itu dicampakkan”.

Sebuah faktor yang sangat penting dalam pemikiran ini bukanlah dunia terbaik yang mungkin ada tetapi cara terbaik terhadap dunia terbaik yang mungkin ada adalah bahwa Allah belum selesai. Seringkali orang jatuh ke dalam perangkap memikirkan bahwa karena Allah belum berurusan dengan kejahatan berarti Ia tidak berurusan dengan kejahatan sama sekali. Walter Martin, mengatakan, “Saya telah membaca pasal terakhir dalam Kitab itu, dan kita menang”. Kejahatan suatu sat akan berakhir. Hanya karena kejahatan belum dihancurkan sekarang tidak berarti bahwa kejahatan tidak akan pernah dihancurkan.

Dalam melihat fakta fakta di atas, keberadaan kejahatan di dunia terlihat sinkron dengan keberadaan Allah yang maha baik dan maha kuasa. Kita dapat merangkum fakta fakta yang demikian:

  1. Jika Allah maha baik, Ia akan mengalahkan kejahatan
  2. Jika Allah maha kuasa, Ia dapat mengalahkan kejahatan
  3. Kejahatan belum dikalahkan
  4. Maka, Allah dapat dan suatu sat akan mengalahkan kejahatan

Suatu hari, di masa depan, Kristus akan kembali, melucuti kuasa si jahat dan menghakimi seluruh laki laki dan perempuan untuk segala perbuatannya selama di bumi (Lihat Matius 25:31-46; Wahyu 20:11-15). Keadilan akan mutlak menang. Mereka yang masuk dalam kekekalan tanpa mempercayai Yesus Kristus sebagai jalan keselamatan akan mengerti seberapa efektif Allah telah berurusan dengan masalah kejahatan. Beberapa solusi yang tidak cukup terhadap masalah kejahatan.

 

BUKANKAH AKAN LEBIH BAIK JIKA ALLAH MELENYAPKAN SELURUH KEJAHATAN SECEPATNYA?

Beberapa orang skeptic mungkin tertantang untuk menentang bahwa tidak perlu menghabiskan waktu sepanjang sejarah manusia bagi Allah yang maha kuasa untuk berurusan dengan masalah kejahatan. Jika Allah tentunya memiliki pilihan untuk melenyapkan seluruh kejahatan secepatnya, tetapi memilih opsi ini akan memiliki implikasi yang terbatas dan fatal bagi setiap kita. Seperti yang ditunjukkan Paul Little, “Jika Allah harus menyingkirkan kejahatan hari ini, Ia akan menyelesaikan seluruhnya. Tindakannya akan meliputi kebohongan kebohongan dan ketidakmurnian pribadi kita, kekurangan kasih pada diri kita dan kegagalan kita melakukan kebaikan. Andaikan saja Allah akan menghilangkan kejahatan dari jagad raya ini pada tengah malam nanti, siapa dari kita akan tetap di sini setelah tengah malam nanti?”

Walaupun solusi utama terhadap masalah kejahatan terjadi di masa yang akan datang, seperti yang telah saya katakan tadi, Allah bahkan sekarang telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa kejahatan tidak merajalela secara liar. Bahkan, Allah telah memberikan pemerintah di bumi ini untuk mengendalikan dan menahan kekacauan yang terjadi (Lihat Roma 13:1-7).

Allah mendirikan Gereja untuk menjadikan terang di tengah kegelapan, untuk menguatkan umatNya, dan bahkan membantu menghambat pertumbuhan kejahatan di dunia melalui kuasa Roh Kudus (Lihat Kisah Para Rasul 16:5; 1 Timotius 3:15). Dalam FirmanNya, Allah telah memberian kita sebuah standar moral untuk membimbing dan menjaga kita berada dalam jalur yang benar (Lihat Mazmur 119). Ia telah memberikan kita unit keluarga untuk membawa stabilitas kepada masyarakat (Lihat Amsal 22:15; 23:13). Dan masih banyak lagi.

 

 

APAKAH KEBERADAAN KEJAHATAN MEMBUKTIKAN BAHWA ALLAH ITU TERBATAS?

Paham Allah yang terbatas (Finite Godism) dipopulerkan pada awal tahun 1980 an oleh Rabbi Harold Kushner, penulis buku laris When bad things happen to good people (Ketika hal hal buruk terjadi pada orang orang baik). Dalam bergumul dengan kematian premature putranya, Kushner menyimpulkan bahwa Allah ingin orang orang benar hidup bahagia, tetapi kadang Ia tidak dapat merealisasikannya. Ada hal hal dimana Allah memang tidak dapat mengendaliannya. Allah itu baik, tetapi Ia tidak cukup berkuasa untuk mendatangkan hal hal baik yang Ia inginkan. Pendek kata, Allah itu terbatas. Kushner menulis, “saya mengenal keterbatasanNya, Ia terbatas dalam apa yang dapat dilakukanNya terhadap hukum alam dan oleh evolusi natur manusia dan kebebasan moral manusia”. Ia meratap bahwa “bahkan Allah memiliki kesulitan menjaga kekacauan dan membatasi kerusakan yang dapat dilakukan oleh kejahatan”.

Paham Allah yang terbatas memperkenalkan Allah, karena Ia terbatas sebagai Allah yang hanya merupakan keberadan sekunder di mana diriNya sendiri membutuhkan sebab. Allah semacam ini tidak layak atas pujian kita. Juga Allah yang demikian tidak layak atas rasa percaya yang kita berikan kepadaNya, karena tidak ada jaminan bahwa Ia akan dapat mengalahkan kejahatan di masa depan.

Paham keterbatasan gagal melihat waktu Allah bukanlah waktu manusia. Seperti yang dikatakan sebelumnya. Fakta bahwa Allah belum mengalahkan kejahatan saat ini tidak berarti ia tidak akan melenyapkannya di masa yang akan datang (Lihat 2 Petrus 3:7-12; Wahyu 20-22). Ini bukanlah yang terbaik dari seluruh kemungkinan dunia yang dapat diciptakan, tetapi merupakan cara terbaik terhadap dunia terbaik yang mungkin diciptakan.

Paham keterbatasan jelas menentang kesaksian Alkitab mengenai Allah. Alkitab menggambarkan Allah sebagai omnipotent- artinya bahwa Ia maha kuasa. Ia memiliki kuasa untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkanNya. Kira kira ada lima pulih enam kali Alkitab menyatakan bahwa Allah masa kuasa (Wahyu 19:6), Allah memiliki kekuatan melimpah (Mazmur 147:5), dan kuasaNya yang tidak tertandingi (2 Tawarikh 20:6; Efesus 1:19-21). Tak satupun yang dapat menahan tangan Tuhan (Daniel 4:35). Tidak satupun yang dapat membalikkan tindakan Allah (Yesaya 43:13), dan tidak satupun yang dapat menyingkirkanNya (Yesaya 14:27). Tidak ada yang mustahil bagi Allah (Matius 19:26; Markus 10:27; Lukas 1:37), dan tidak ada yang terlalu sulit bagiNya (Kejadian 18:14; Yeremia 32:17, 27). Sang Maha Kuasa memerintah (Wahyu 9:6), dan Ia pada suatu hari akan mengalahkan kejahatan.