Part 4- pertanyaan-pertanyaan tentang kejahatan

gfbfg

Part 4- pertanyaan-pertanyaan tentang kejahatan

download

APAKAH KEJAHATAN HANYA MERUPAKAN ILUSI?

Beberapa orang terutama mereka yang berafilisasi dengan the mind sciences, berargumen bahwa kejahatan adalah sebuah ilusi. Mary Baker Eddy, pendiri Christian science, berargumen bahwa masalah kejahatan, penyakit, dan kematian itu tidak nyata dan hanya merupakan ilusi dari pikiran yang fana, Penulis dari Unity School of Christianity, Emily Cady juga menulis hal yang sama, “Tidak ada kejahatan…rasa sakit, penyakit, kemiskinan, usia lanjut, dan kematian adalah hal hal yang tidak nyata, dan itu semata tidak memiliki kuasa terhadap diri saya”. Ernest Holmes, pendiri dari Religious Science, menulis, “Seluruh kejahatan yang terlihat itu adalah hasil dari ketidaktahuan atau kedunguan dan akan hilang sampai batas dimana hal tersebut tidak dipikirkan lagi, dipercayai atau dirasakan”.

Jika kejahatan hanya sebuah ilusi, maka mengapa melawannya? Walaupun Mary Baker Eddy mengatakan bahwa kejahatan terhadap penyakit jasmani dan kematian adalah ilusi, hal hal tersebut adalah fakta sejarah dimana dalam tahun tahunnya yang semakin menurun, ia berada di dalam perawatan dokter, menerima suntikan morfin untuk menahan rasa sakitnya, memakai kacamata, menjalani ekstraksi gigi, dan perlahan meninggal, oleh sebab itu ia “bersaksi dusta” akan apa yang ia percayai dan ajarkan.

Ketika orang mengklaim bahwa kejahatan adalah sebuah ilusi, saya berpikir ini merupakan permainan yang adil untuk bertanya kepada mereka apakah mereka mengunci pintu depan rumah mereka pada malam hari. Jika mereka melakukannya, tanyakan mengapa. Apakah mereka meninggalkan kunci mobil kontak ketika mereka memarkir mobil di pusat kota?, jika tidak, mengapa tidak?. Apakah mereka memasang sabuk pengaman dalam kendaraan?, mengapa?. Apakah mereka pergi ke dokter gigi?, mengapa? Sakit gigi hanya sebuah ilusi bukan?, apakah mereka menggunakan pelampung kepada anak kecil ketika mereka berenang di laut?, mengapa?. Apakah mereka memperingati anak anak kecil mereka untuk tidak terlalu dekat dengan api pada saat mereka memasak?, mengapa?. Apakah mereka mendukung hukum yang menentang pedofilia?, mengapa?. Jika kejahatan hanya sebuah ilusi, maka hal hal demikian benar benar tidak perlu dan harus tidak menjadi masalah siapapun.

“Penjelasan ilusi” mengenai kejahatan lalu di muka seluruh pengalaman dan pemikiran manusia. Menyangkal bahwa kejahatan ada tidak menghilangkan realitanya. Penjelasan mengenai kejahatan semacam ini sendiri merupakan bentuk pemikiran delusi yang terburuk. Yesus benar benar percaya kepada realita kejahatan. Di dalam doa Bapa Kami. Ia tidak mengajarkan kita untuk berdoa, “Bebaskan kami daripada ilusi kejahatan”, tetapi, “Bebaskanlah kami dari yang jahat”.

Bagi kita untuk menerima pandangan Christian Science yang mengatakan bahwa kejahatan adalah sebuah ilusi membuat kita harus menyangkal indera dan pengalaman pribadi kita sendiri. sangat perlu diperhatikan bahwa Alkitab sering mengingatkan kita untuk memperhatikan pada bukti bukti empiris dengan menggunakan lima indera kita.

Yesus memberitahu Tomas, si peragu itu untuk mencucukkan jarinya ke dalam luka penyaliban Tuhan Yesus sebagai cara untuk membuktikan kepada Tomas bahwa memang Yesus benar benar telah bangkit dari kematian (Lihat Yohanes 20:27). Dalam Lukas 24:39 dicatat bahwa Yesus yang bangkit memberi tahu para pengikutnya, “Lihatlah tangan dan kakiku. Inilah Aku!. Sentuhlah Aku dan lihat, hantu tidak memiliki tubuh dan tulang, seperti yang engkau lihat mengenai Aku”. Kita membaca 1 Yohanes 1:1, bahwa Yohanes dan para murid berbicara, “Apa yang telah kami dengar, dimana kami telah melihat dengan mata kami, dimana kami telah melihat dan tangan kami telah menyentuh, ini kami beritakan mengenai Firman Hidup”. Indera yang sama yang begitu yakin bersaksi tentang Yesus yang bangkit, bersaksi pula  akan realita kejahatan di dalam dunia kita, bukan hanya kepada beberapa orang, namun secara universal dan di sepanjang waktu.

DAPATKAH PANTEISME ZAMAN BARU (NEW AGE PANTHEISM) MENJELASKAN KEJAHATAN?

Jim, yang telah membaca beberapa buku. Suatu hari ia terkena penyakit tertentu dan pergi ke dokter yang telah direkomendasikan untuknya. Hampir setengah pemeriksanaan, Jima mulai mencurigai bahwa dokternya mungkin seorang penganut praktik penyembuhan zaman baru (new age medicine). Jadi, Jim yang tidak tahu apa apa terjerembab di dalam situasi seperti itu, tiba tiba bertanya, “Apakah anda Allah?”, dimana dokter tersebut secara bersemangat menjawab, “mengapa, ya dan anda juga dan setiap orang lainnya juga”. Jim keluar dari kantor itu secepat kilat.

Panteisme adalah pandangan bahwa Allah adalah semua dan semua adalah Allah. kata panteisme datang dari 2 kata Yunani, Pan (semua) dan theos (Allah). dalam panteisme semua realita dipandang sebagai sesuatu yang melebur dengan yang ilahi. Allah dari panteisme zaman baru adalah impersonal, “sesuatu” yang amoral dan bukan “Ia” yang personal dan memiliki moral dari apa yang digambarkan KeKristenan. Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan sepenuhnya hilang dalam pandangan ini.

Jika benar bahwa “semua adalah satu” dan “semua adalah Allah”, seperti yang dipegang oleh pandangan semesta (overview). Zaman baru, perbedaan antara baik dan jahat pastilah hilang. Penganut zaman baru, David Spangler menegaskan bahwa etika zaman baru “tidak didasarkan atas…konsep dualistic dari “baik” dan “jahat”. Tidak ada kesalahan moral absolut dan tidak ada kebenaran moral absolut. Segala sesuatu adalah relative. Tentu, pada filsuf telah lama menunjukkan kelemahan filosofis dari pandangan semacam ini, karena halini sama dengan mengatakan bahwa ini merupakan kebenaran absolut dimana tidak ada kebenaran abosolut. Ketika para penganut zaman baru memberitahu bahwa tidak ada keabsolutan, saya sering bertanya kepadanya apakah orang tersebut secara abosolut yakin akan hal itu.

Masalah utama dengan pandangan semesta panteistik zaman baru adalah bahwa pandangan tersebut gagal untuk cukup berurusan dengan keberadaan kejahatan yang riil di dalam dunia. Jika Allah adalah esensi dari segala bentuk di dalam ciptaan, seseorang harus menyimpulkan bahwa baik jahat maupun baik muncul dari esensi yang sama pula, yaitu Allah. dengan kata lain, hal hal seperti Perang Dunia I dan II, Hitler, pembunuhan, penyakit kanker, pemerkosaan, dan manifestasi kejahatan lainnya adalah bagian dari Allah.

Alkitab secara kontras mengajarkan bahwa Allah itu baik dan bukan jahat (Lihat 1 Tawarikh 16:34; Mazmur 118:29; 136:1; 145:8-9; Matius 19:1). Allah Alkitab adalah terang dan “di dalamnya tidak ada kegelapan sama sekali” (Lihat Yohanes 1:5; Habakuk 1:13; Matius 5:48).

1 Yohanes 1:5 berbicara kuat sekali dalam bahasa Yunaninya, yang secara literal dapat diterjemahkan sebagai, “Dan kegelapan tidak ada di dalamNya, tidak ada dalam bentuk apapun”. Yohanes tidak dapat mengatakan dengan lebih keras lagi.

Dalam pembicaraan dengan mantan guru Rabi Maharaj, dan ia berbicara panjang lebar mengenai ketidakpuasan etis yang ia rasakan mengenai pandangan semesta monistik dan panteistik terutama berkenaan dengan masalah kejahatan:

“Kesadaran saya yang semakin tinggi akan Allah sebagai pencipta, terpisah dan berbeda dari alam semesta yang Ia ciptakan, bertentangan dengan konsep bahwa Allah adalah segala sesuatu, dan bahwa Pencipta dan ciptaan adalah satu dan sama. Jika hanya ada satu realita, maka Allah adalah kejahatan dan juga kebaikan, kematian dan juga kehidupan, kebencian dan juga kasih. Itu membuat segalanya menjadi tidak berarti, hidup sebagai suatu yang absurd. Tidaklah mudah untuk tetap menjaga kewarasan seseorang maupun pandangan bahwa kebaikan dan kejahatan, kasih dan kebencian, hidup dan mati adalah satu realita.

 

APAKAH KITA MEMBUAT SENDIRI REALITA KITA?

Banyak penganut zaman baru percaya bahwa orang menciptakan semua realita yang ada padanya, baik jahat maupun baik, dengan kekuatan pikiran mereka. Penulis populer zaman baru, David Gershon dan Gail Straub mencatat bahwa, “kita tidak dapat menghindari menciptakan realita kita, setiap kali memikirkan sebuah pikiran maka kita sedang menciptakannya. Setiap kepercayaan yang kita pegang membentuk apa yang kita alami di dalam hidup kita”. Dalam hal ini, “Jika kita menerima premis dasar bahwa pikiran kita menciptakan realita kita, ini berarti kita bertanggung jawab untuk menciptakan semua realita kita, bagian bagian yang kita sukai maupun bagian bagian yang kita tidak sukai”.

Masalah yang kritis mengenai pandangan ini adalah bahwa jika manusia, sebagai Allah, menciptakan realita mereka sendiri, seperti yang dikatakan para penganut zaman baru, maka seseorang tidak dapat mengutuk pribadi pribadi yang melakukan kejahatan kepada orang lain. Misalkan, seseorang harus menyimpulkan bahwa berjuta juta orang Yahudi yang dieksekusi di bawah rezim Hitler membuat realita mereka sendiri. maka, tindakan tindakan Hitler membuat realita mereka sendiri. maka, tindakan tindakan Hitler tidak dapat dikutuk sebagai hal yang salah secara etis, karena Hitler hanya bagian dari sebuah realita yang dibuat oleh orang orang Yahudi sendiri. bagitu juga, seseorang tidak dapat mengutuk teroris yang meledakkan penumpang pesawat karena orang orang di dalam pesawat terbang tersebut menciptakan realitanya sendiri.

Ketika guru seni peran putri dari Shirley MacLaine terbakar habis dalam sebuah tabrakan. MacLaine bertanya, “Mengapa ia memilih untuk mati dengan cara demikian?”, Douglas Groothuis setelah membaca buku MacLaine, It’s all in the playing, mengatakan bagaimana di dalam buku “kami menemukan Shirley menangis di depan televisinya ketika ia melihat dampak dari gunung berapi Chilean yang membunuh 25.000 orang. Mengapa menangis?, mereka memilih untuk mati demikian, bukan?” Semakin seseorang bertanya tanya kepada penjelasan zaman baru mengenai kejahatan, maka hal ini semakin menjadi absurd.

Banyak penganut zaman baru menjelaskan keberadaan kejahatan di dalam dunia kita selalu berbicara secara lurus dalam konsep pemikiran karma. Penulis zaman baru yang terkenal Gary Zukav, misalnya, mengatakan kita tidak seharusnya berprasangka ketika orang orang menderita dengan sangat buruk karena “kita tidak tahu apa yang sedang disembuhkan (melalui karma) dalam penderitaan ini”. Apa yang Zukav sebut sebagai “keadilan yang tidak berprasangka” membebaskan kita menjadi hakim dan juri terhadap kejahatan yang muncul, hukum karma akan membawa keadilan pada akhirnya.

Akankah Zukav membuat kita percaya bahwa ketika para tentara di Ceylon menembak seorang ibu yang merawat anaknya dan kemudian menembak ibu jari kaki bayinya untuk sasaran latihan tembah, ini akan membawa kesembuhan kepada jiwa sang ibu dan anaknya?

 

MEMPERTANYAKAN ALLAH DI DALAM DUNIA YANG PENUH PENDERITAAN

Ada berbagai macam penjelasan yang tidak cukup untuk masalah kejahatan yang dapat kita telaah, tetapi itu semua tidak terlalu berpengaruh lagi sekarang ini, dan keterbatasan waktu ini membatasi kita untuk penjelasan penjelasan lebih lanjut.

Seperti yang telah kita pahami sebelumnya bahwa keberadaan kejahatan pada kenyataannya sinkron dengan keberadaan Allah yang maha baik dan maha kuasa, sangat dekat dengan menekankan bahwa Allah Bapa yang penuh kasih memanggil kita untuk mempercayaiNya dengan iman seperti seorang anak kecil selama kita hidup dalam dunia yang penuh dengan penderitaan ini. Kadang kadang, sebagai seorang tua kita harus membuat keputusan untuk anak anak kita, dimana keputusan tersebut mungkin melibatkan sedikit rasa sakit, seperti pergi ke dokter gigi. Dari perspektif mereka, mereka mungkin tidak mengerti sepenuhnya mengapa kita memaksa untuk pergi ke dokter gigi. Kita menyakinkan mereka demikian, lepas dari ketidaknyamanan yang ada bahkan rasa sakit, bahwa ini merupakan kebutuhan mereka yang sangat tepat untuk pergi ke dokter gigi.

Kadang kita sebagai manusia bertanya tanya mengapa Allah mengizinkan kita untuk melalui situasi tertentu yang begitu menyakitkan. Tetapi hanya karena kita menemukan kesulitan untuk membayangkan apa alasan Allah melakukan itu tidak berarti bahwa tidak ada alasan apapun di balik semua ini. Dari perspektif kita sebagai manusia yang terbatas, kita seringkali hanya dapat melihat sedikit sekali benang dalam rajutan hidup yang luar biasa dan juga kehendak Allah. kita tidak memiliki gambaran yang utuh. Ini mengapa Allah memanggil kita untuk mempercayaiNya (Lihat Ibrani 11). Allah melihat gambaran utuh dan tidak membuat kesalahan kesalahan, Ia mempunyai alasan untuk mengizinkan situasi situasi yang menyakitkan untuk menimpa kita, bahkan sekalipun kita tidak memahaminya.

Geisler memberikan kita sesuatu yang penting untuk kita pikirkan dalam hal tersebut. bahkan di dalam keterbatasan kita, merupakan hal yang mungkin bagi manusia untuk menemukan maksud maksud yang baik bagi rasa sakit, hal hal semacam ini mengingatkan kita untuk kejahatan yang lebih besar, seorang anak kecil hanya perlu menyentuh kompor panas sekali saja untuk belajar tidak melakukannya kembali, dan untuk menghindari kita dari kehancuran diri sendiri, saraf saraf yang ada dalam diri kita mendeteksi rasa sakit sehingga kita tidak akan, misalnya terus memegang wajan panas di tangan kita.

Jika manusia terbatas dapat menemukan maksud maksud baik bagi kejahatan, maka pastilah Allah yang bijaksana dan tak terbatas memiliki maksud maksud baik untuk semua penderitaan. Kita mungkin tidak mengerti maksud itu di dalam hal hal temporal “saat ini” tetapi bagaimanapun hal ini ada. Ketidakmampuan kita untuk membedakan mengapa hal hal buruk kadang terjadi kepada kita tidak menampik bukti kebaikan Allah, hal tersebut hanya mengekspos ketidaktahuan dan kedunguan kita.

Baik bagi kita untuk terus mengingat adanya dimensi waktu. Seperti yang telah kita lakukan dalam mengevaluasi kunjungan ke dokter gigi, itu dalam konteks dibandingkan dengan kebaikan kebaikan di masa mendatang. Alkitab mengingatkan orang orang Kriten untuk mengevaluasi penderitaan sekarang ini dalam terang kekekalan. Seperti yang dikatakan Paulus, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami” (Roma 8:18, Lihat juga 2 Korintus 4:17; Ibrani 12:2; 1 Petrus 1:6-7)

Dan jangan lupa bahwa meskipun kita menghadapi penderitaan. Allah memiliki kemampuan sebagai penguasa alam semesta yang berdaulat untuk membawa kebaikan dirinya (Lihat Roma 8:28). Sebuah contoh akan hal ini adalah kehidupan Yusuf. Saudara saudaranya iri hati terhadapnya (Lihat Kejadian 37:11), membencinya (37:4,5,8), ingin membunuhnya (37:20), menjebloskannya ke dalam sumur (37:24), dan menjualnya ke pasar budak (37:28). Kemudian Yusuf dapat mengatakan kepada saudara saudaranya, “sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (45:5), dan “memang kamu telah mereka rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (50:20). Walaupun hal hal jahat terjadi pada Yusuf, Allah memiliki maksud pemeliharaan dalam mengizinkan semua ini terjadi.

Rasul Paulus sudah tentu tidak suka dipenjara, namun Allah mempunyai maksud pemeliharan dalam mengijinkan ini terjadi. Bagaimanapun, selama di dalam penjara, Paulus menulis Efesus, Filipi, Kolose dan Filemon (Lihat Efesus 3:1; Filipi 1:7; Kolose 4:10 dan Filemon 9). Allah dengan jelas membawa kebaikan dari penderitaan Paulus.

Kadang “kebaikan” yang Allah datangkan dalam penderitaan melibatkan hal hal yang membawa kita lebih dekat kepadaNya. Joni Eareckson Tada, yang patah leher dalam sebuah kecelakaan renang dan menjadi quadriplegic, mengatakan tragedy dirinya membawanya jauh lebih dekat kepada Allah. Ia bahkan dikutip mengatakan bahwa ia lebih suka berada di kursi roda bersama dengan Allah daripada dapat berjalan tanpa Allah.

Kadang “kebaikan” yang Allah datangkan dari penderitan menghasilkan perubahan positif dalam karakter kita. Petrus mengacu kepada hal itu ketika ia mengatakan, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika berdukacita oleh berbagai bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu, yang jauh lebih tinggi nilainya dari emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api, sehingga kamu memperoleh puji pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya” (1 Petrus 1:6-7), paraphrase modern: no pain no gain – Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan berat.

Semuanya ini dikatakan dengan sebuah pandangan untuk menekankan perlunya iman di tengah tengah dunia yang penuh penderitaan ini. Allah pasti sedang mengerjakan maksudnya di tengah tengah kita, dan kita harus mempercayainya. Saya suka dengan cara Gary Habermas dan JP Moreland mengatakannya. Mereka mendorong kita untuk memelihara pandangan dari “atas ke bawah”:

“Allah alam semesta mengundang kita untuk memandang hidup dan kematian dari sudut pandang kekekalanNya. Dan jika kita melakukannya, kita akan melihat bagaimana hal ini merevolusi kehidupan kita; keresahan keresahan sehari hari, luka luka emosional, tragedy, respon respon kita dan tanggung jawab kepada orang lain, kepemilikan kita, kekayaan, dan bahkan rasa sakit fisik serta kematian. Semuanya ini dan banyak lagi dapat dipengaruhi oleh kebenaran Surga. Kesaksian berulang kali dari Perjanjian Baru adalah bahwa orang orang percaya harus melihat segala masalah, seluruh keberadaan mereka dari apa yang kita sebut pandangan “Atas ke bawah”: Allah dan kerajaanNya terlebih dahulu, yang diikuti dengan berbagai aspek dari keberadaan duniawi kita”.

Di masa depan, ketika akhirnya mencapai hal terbaik dari semua kemungkinan dunia yang dapat diciptakan “Bahwa Allah sedang menghadirkan, Negara Surgawi itu”, dimana arsitek dan pembangunannya adalah Allah” (Ibrani 11:10), kita akan mengalami reuni besar yang tidak akan pernah berakhir. Kematian, kejahatan, penderitaan, dan air mata akan menjadi sebuah hal di masa lalu

Referensi

Ronald Rhodes

ron2_med

Lee Strobel, Why does God allow suffering

Ken Boa & Larry Moody, I’m glad you asked

Norman L. Geisler, Baker Encylopedia of Christian apologetics

Millard J. Erickson, Introducing Christian doctrine

Morey, The New atheism