Pertanyaan-pertanyaan tentang mujizat

inspirational-quotes-cs-lewis-2222

Pertanyaan-pertanyaan tentang mujizat

Alkitab dipenuhi dengan mujizat, sejak penciptaan sampai kedatangan Yesus yang kedua, dari Musa di semak belukar yang menyala sampai Daniel di kandang singa, dari kelahiran dari anak dara sampai kebangkitan. Kejadian yang ajaib tampaknya memenuhi halaman halaman Alkitab. Bagi orang percaya, ini adalah peneguhan ajaib tentang kuasa dan pesan Allah, tetapi bagi orang tidak percaya, mujizat merupakan batu sandungan, suatu bukti bahwa kepercayaan hanya sekedar merupakan sekumpulan dongeng saja. Dalam dunia dimana ia hidup, tidak ada campur tangan ilahi, tidak ada interupsi untuk tatanan normal, hanya ada hukum alam saja. Api membara jika menyala, singa makan apapun yang tersedia, kehamilan hanya terjadi jika sperma laki laki bersatu dengan sel telur perempuan, dan orang mati akan tetap mati. Sejauh yang mereka perhatian, mujizat Alkitab tidak bisa lebih benar dibanding Mother Goose.

Tujuan bagian ini bukan untuk memberikan penjelasan bagaimana setiap mujizat terjadi. Kami juga tidak berusaha untuk menyakinkan setiap orang bahwa mujizat harus dipandang sebagai bagian dari cara kerja dunia yang normal. Tujuan kami adalah menyakinkan orang orang bahwa sikap naturalistic terhadap mujizat yang telah dikembangkan selama lebih dari 200 tahun bertentangan dengan pengertian umum yang sederhana. Sebaliknya, sikap naturalistic didasarkan pada logika yang salah dan pemikiran yang tidak sehat yang sudah menentukan apa yang akan ditemukan sebelum ia menemukan sesuatu. Bagian ini bisa dipandang sebagai pembahasan 3 pertanyaan. Kedua pertanyaan pertama membahas apakah mujizat bisa dipercaya, kemungkinan dan kredibilitas. Pasangan kedua menunjukkan bahwa mujizat tidak boleh melanggar metode studi modern, ilmiah dan historis. Pasangan ketiga menjawab dasar religious yang umumnya dinyatakan untuk menjelaskan mujizat, yaitu mitos dan pernyataan panteistik. Bagian terakhir meneguhkan dasar untuk menerima mujizat Alkitab sebagai peristiwa actual.

Salah satu pemikir naturalistic berkata, “langkah pertama untuk ini, seperti halnya untuk semua diskusi lainnya, adalah sampai pada pemahaman yang jelas tentang makna istilah yang digunakan. Argumentasi tentang apakah mujizat mungkin dan, jika mungkin, bisa diandalkan, hanya sekedar memukul udara sampai orang yang berdebat sepakat apa yang mereka maksud dengan mujizat”. Mujizat adalah campur tangan Ilahi, atau interupsi terhadap, perjalalan dunia secara regular yang menghasilkan peristiwa yang bertujuan tertentu tetapi tidak biasa yang tidak akan terjadi jika tidak ada mujizat. Jadi berdasarkan definisi ini hukum alam dipahami sebagai cara dunia beroperasi dengan normal dan regular, tetapi mujizat terjadi sebagai tindakan tidak biasa, tidak regular dan tidak khusus dari Allah yang ada di luar dunia. Itu tidak berarti bahwa mujizat merupakan pelanggaran terhadap hukum alam atau bahkan bertentangan dengannya. Seperti dikatakan ahli fisika terkenal Sir George Stokes, “Peristiwa kita sebut mujizat mungkin saja dihasilkan bukan dengan pembatalan hukum dalam cara kerja biasa, melainkan oleh tambahan sesuatu yang super dan tidak biasa dalam cara kerja itu”. Dengan kata lain, mujizat tidak melanggar hukum regular dari sebab akibat, mujizat hanya sekedar memiliki penyebab yang melampaui alam.

 

APAKAH MUJIZAT MUNGKIN TERJADI?

Pertanyaan paling dasar yang sering diajukan tentang mujizat adalah “Apakah mujizat mungkin terjadi?”, jika mujizat tidak mungkin, kita bisa mengakhiri diskusi kita lebih awal dan pulang ke rumah. Jika mujizat mungkin, kemudian kita perlu membahas argument yang memberikan kita ide bahwa hal itu tidak masuk akal. Kita menemukan argument ini dalam tulisan Benedict de Spinoza. Ia mengembangkan argument berikut unutk menentang mujizat:

  1. Mujizat adalah pelanggaran hukum alam
  2. Hukum alam itu abadi
  3. Tidak mungkin hukum yang abadi dilanggar
  4. Sebab itu, mujizat tidak mungkin terjadi.

Ia cukup berani untuk menyimpulkan bahwa “jadi tidak ada yang akan terjadi di alam yang bertentangan dengan hukum universalnya, tidak, tidak ada hal yang bertentangan dengan hukum hukum itu dan mengikutinya, sebab…ia menjadi tatanan yang tetap dan abadi”.

Tentu saja kita tidak bisa mendebat langkah ketiga, dalam argument ini, sebab apa yang abadi tidak bisa dikesampingkan. Tetapi apakah hukum alam abadi?, dan apakah ia memberikan definisi mujizat yang tepat?, tampaknya Spinoza telah mengatur keadaan sebelumnya. Ia membangun pandangannya sendiri pada premisnya sehingga tidak ada sesuatu yang hidup di luar dunia dan bahwa Allah adalah dunia. Jadi sekali ia mendefinisikan hukum alam sebagai “tetap dan abadi”, mujizat tidak mungkin akan terjadi. Ia telah mendapatkan ide bahwa hukum alam ini tetap dari fisika Newton yang sedang digandrungi pada zamannya. Tetapi saat ini para ilmuwan memahami bahwa hukum alam tidak memberitahu kita apa yang harus terjadi, tetapi hanya menjelaskan apa yang biasanya terjadi. Itu adalah probalitas statistic, bukan fakta yang tidak bisa diubah. Jadi, kita tidak bisa menyingkirkan kemungkinan terjadinya mujizat berdasarkan definisi itu.

Definisi yang ia gunakan juga mengandung bias anti supernatural. Definisi tersebut menyiratkan bahwa tidak ada sesuatu di luar alam yang bisa bertindak di dalam alam.

Benedict Spinoza (1632-1677) – “adalah salah satu filsuf rasional modern. Rasionalisme percaya bahwa semua kebenaran bisa ditarik dari prinsip yang terbukti sendiri tanpa memeriksa bukti factual. Latar belakang Spinoza adalah orang yang dikeluarkan dari sinogoga ketika berumur 24 tahun karena pandangannya yang beda dari yang lain. Ia yakin bahwa hanya ada satu zat yang tidak terbatas dan tidak ada yang lain, jadi ia menyimpulkan bahwa Allah adalah dunia (panteisme). Jadi hukum alam adalah hukum Allah. berdasarkan poin awal ini, mujizat secara otomatis dihilangkan. Jika hal hal supernatural identic dengan alam, tidak ada sesuatu di luar alam yang bisa turut campur. Apapun yang diluar alam harus lebih besar daripada Allah dan itu tidak masuk akal”.

Ini muncul dari panteisme Spinoza. Selama Allah dibatasi untuk tinggal di dalam batas batas alam, atau tidak ada, maka mujizat hanya dipandang sebagai pelanggaran tatanan. Inti masalahnya adalah bahwa jika Allah ada, mujizat mungkin terjadi. Jika ada sesuatu di luar dunia yang bisa menyebabkan sesuatu terjadi di dunia, ada peluang itu terjadi. Nah, kebanyakan ilmuwan akan meminta bukti untuk ditunjukkan kepada mereka bahwa Allah ada, dan itu bisa ditemukan pada beberapa bukti yang telah ditemukan. Tetapi setelah kita menetapkan bahwa Allah teistik ada, mujizat tidak mungkin dihilangkan.

 

APAKAH MUJIZAT DAPAT DIPERCAYA?

Beberapa orang tidak menyangkal kemungkinan terjadinya mujizt, mereka hanya tidak bisa menemukan peneguhan untuk mempercayai hal itu. Untuk itu, mujizt bukan tidak masuk akal, mujizat hanya tidak bisa dipercaya. Tokoh skeptic terkenal, David Hume, mengajukan argument yang sangat terkenal untuk menentang mujizat:

  1. Mujizat adalah pelanggaran terhadap hukum alam
  2. Pengalaman yang mantap dan tidak bisa diubah telah menggunakan hukum hukum ini
  3. Orang yang bijaksana membandingkan kepercayaannya dengan bukti
  4. Sebab itu, pengalaman yang seragam menghasilkan bukti, ada bukti langsung dan lengkap di sini, dari alam semesta, yang menentang terjadinya mujizat.

David Hume (1711-1776) – “adalah seorang filsuf dan ahli sejarah Skotlandia, yang dilahirkan dan dibesarkan di Edinburg. Tidak lama setelah mendapatkan gelar sarjana hukum , ia memutuskan untuk tidak mempraktekkan hukum dan mengambil studi filsafat. Berbeda dengan Spinoza, Hume adalah seorang empiris yang berpendapat bahwa pengetahuan hanya datang melalui pemeriksaan dan penataan bukti factual dan historis. Hukum alam menjadi tulang punggung tatanan dalam sistem filsafatnya, sehingga ia bersikap menentang segala pemikiran yang melibatkan Allah dan mujizat. Sementara Spinoza bersikap dogmatis terhadap pandangannya. Hume bersikap skeptic terhadap semua kepercayaan dan meragukan apakah ada kepastian. Meskipun tidak menyangkal sebab akibat, ia menyatakan bahwa kita tidak pernah bisa yakin apa yang menimbulkan akibat tertentu. Hal terbaik yang bisa kita katakan adalah bahwa tipe akibat ini biasanya disebabkan oleh tipe sebab itu”.

Beberapa orang memandang argument ini mengatakan bahwa mujizat tidak bisa terjadi, tetapi itu akan dengan mudah disangkal dengan menunjukkan bahwa ia mengajukan pertanyaan ketika ia menjelaskan mujizat sebagai hal yang tidak mungkin. Tampaknya poin utamanya adalah bahwa tidak seorangpun seharusnya percaya terhadap mujizat karena semua pengalaman kita menunjukkan bahwa hal itu tidak terjadi. Tentu saja ini adalah poin yang telah kita semua pelajari, bahkan jika kita tidak mempelajari Hume.

Hume tidak mengajukan pertanyaan dalam definisinya, melainkan melakukan hal itu dalam pembuktiannya. Ia menganggap mengetahui bahwa semua pengalaman secara seragam bertentangan dengan mujizt sebelum ia melihat pada buktinya. Bagaimana ia bisa tahu bahwa semua pengalaman yang mungkin terjadi pada masa lalu dan masa yang akan datang akan mendukung naturalismenya? Satu satunya jalan untuk menyakinkan adalah mengetahui sebelumnya bahwa mujizat tidak terjadi. Di sisi lainnya, ia mungkin mengatakan bahwa pengalaman yang seragam dari beberapa orang, atau bahkan sebagian besar orang, itu bertentangan dengan mujizat. Tetapi bagaimana dengan orang lain, orang yang telah mengalami mujizat?, jadi, ia hanya bisa memilih bukti yang ia sukai dan meninggalkan yang lainnya. Jalan manapun yang ia ambil, ia telah membuat kesalahan yang mendasar dalam logika.

berkaitan dengan peribahasa Hume yang pertama, bahwa orang yang bijaksana membandingkan kebijaksanaannya dengan bukti. Kita tentu saja sangat setuju. Namun, bagi Hume, bukti yang lebih besar berarti hal yang diulang ulang lebih sering. Jadi peristiwa yang jarang terjadi tidak pernah memiliki bukti sebanyak peristiwa yang umum. Hume di sini juga telah mengatur keadaan sebelumnya. Itu berarti bahwa mujizt tidak pernah memiliki cukup bukti untuk dipercaya orang yang menggunakan penalaran. Hume tidak sungguh sungguh menimbang buktinya sama sekali. Ia hanya sekedar menambah bukti yang menentang mujizat.

Richard Whatley – “Mengejek ide ide Hume dalam pamphlet yang disebut Historical Doubts Concerning the Existence Of Napoleon Bonaparte. Ia melacak semua tindakan berani yang ajaib dalam karier Napoleon dan menunjukkan bahwa tindakan itu begitu fantastis dan tidak pernah dilakukan sebelumnya sehingga seharusnya tidak ada orang cerdas yang percaya bahwa orang seperti itu pernah hidup. Kita harus menempatkan dia dalam kategori yang sama dengan Paul Bunyan dan Pecos Bill. Tekanannya adalah untuk menunjukkan bahwa jika orang skeptic tidak menyangkal keberadaan Napoleon, ia “paling tidak harus mengakui bahwa mereka tidak menerapkan rencana penalaran yang sama pada pertanyaan itu seperti mereka gunakan pada lainnya”” (Richard Whatley, Historical Doubts Concerning The Existence Of Napoleon Bonaparte In Famous Pamphlets, edisi ke 2, oleh Henry Morley, London: George Routledge & Sons, 1880, p. 290)

Karena kematian terjadi pada hampir semua orang dan hanya da beberapa cerita tentang kebangkitan dari antara orang mati, ia hanya sekedar menambahkan semua kematian dan memutuskan bahwa cerita cerita tentang kebangkitan pasti keliru. Bahkan jika beberapa orang sungguh sungguh dibangkitkan dari kematian, seorang pun tidak perlu mempercayainya karena jumlah kematian jauh lebih besar daripada kebangkitan. Itu berarti mengatakan bahwa anda seharusnya tidak mempercayai bahwa anda menang lotre karena ada ribuan orang yang kalah. Ia mempersamakan bukti dengan probabilitas dan mengatakan bahwa anda seharusnya tidak mempercayai bahwa yang lebih baik menang. Kemugkinan yang harus dibereskan tangan yang membangun jembatan yang sempurna (yang telah terjadi) adalah 1.635.013.559.600 dibanding 1. Tetapi menurut Hume, jika anda mendapatkan hal itu, anda lebih baik melipat tangan dan meminta transaksi ulang karena anda seharusnya tidak pernah percaya bahwa hal yang tidak patut itu bisa terjadi.

Itu adalah kemungkinan tentang mujizat berdasarkan alasan semacam itu yang ditolak oleh para ilmuwan, sebab studinya sendiri tidak dilakukan secara demikian. Jika seorang ilmuwan tahu sebelumnya bagaimana hasil suatu eksperimen berdasarkan hukum hukum alam yang sudah diketahui, ia tidak akan bersusah payah melakukan eksperimen itu. Huma bahkan mengakui bahwa tidak ada sesuatu yang bisa diketahui tentang masa depan hanya dengan melihat pada pengalaman masa lalu. Sama halnya, para ilmuwan terus menerus berusaha mengembangkan hukum hukum itu ketika bukti baru ditemukan. Prinsip prinsip Hume tentang mujizt akan membuat jenis kemajuan ilmiah itu tidak mungkin dicapai karena peneliti tidak akan mempercayai datanya. Hal itu tidak pernah akan bisa mengungguli pengalaman seragam pada masa sebelumnya.

 

 

 

APAKAH MUJIZAT ILMIAH?

Banyak orang menolak untuk mempercayai mujizat karena mereka merasa bahwa jika Allah diizinkan untuk turut campur di alam, tidak aka nada metode ilmiah. Metode ini didasarkan pada prinsip prinsip keseragaman dan keteraturan, dan setiap penyebab yang tidak beraturan akan membuat ilmu pengetahuan menjadi tidak mungkin. Seperti tulisan Dr. Allan Bloom, “Ilmuwan membela manusia untuk menentang paham penciptaan, dan menyadari dengan benar bahwa, jika ada sesuatu dengan paham ini, ilmu pengetahuan mereka salah dan tidak berguna…entah alam ini memiliki tatanan yang sah atau tidak, entah ada mujizat atau tidak. Para ilmuwan tidak membuktikan bahwa mujizat tidak ada, mereka menganggapnya demikian, tanpa asumsi ini tidak aka nada ilmu pengetahuan”.

Ada beberapa argument yang digunakan untuk menunjukkan bahwa mujizat bertentangan dengan metode ilmiah, tetapi kita akan melihat pada salah satu metode yang digunakan oleh Patrick Nowell Smith. Ia keberatan terhadap supernaturalis yang menggunakan mujizat sebagai penjelasan untuk sesuatu, sebab ilmu pengetahuan mungkin menemukan penjelasan alam pada masa yang akan datang. Keberatannya bisa diringkas seperti ini:

  1. Hanya hal bisa diramal yang memenuhi syarat sebagai penjelasan untuk kejadian tertentu, seperti hukum alam
  2. Mujizt tidak bisa diramalkan
  3. Sebab itu, mujizat tidak memenuhi syarat sebagai penjelasan kejadian apapun

Patrick Nowell Smith – “adalah lulusan Harvard dan Oxford dan diterima sebagai kepala professor filsafat di York University, Toronto pada tahun 1969. Dalam esainya “Miracles”, ia menyatakan keberatannya terhadap supernaturalis yang menggunakan Allah sebagai penjelasan untuk kejadian yang tidak biasa. “Kita bisa mempercayai dia (supernaturalis) ketika ia berkata bahwa tidak ada metode ilmiah atau hipotesis yang ia kenal yang akan menjelaskan hal itu”. Tetapi “mengatakan bahwa itu tidak bisa dijelaskan sebagai akibat agen alam sudah melampaui kompetensinya sebagai ilmuwan dan mengatakan bahwa hal itu harus dikenakan pada agen supernatural untuk mengatakan sesuatu bahwa tidak seorangpun memiliki hak untuk meneguhkannya berdasarkan bukti itu semata”” (Patrick Nowell Smith, “Miracles”, dalam New Essay In Philosophical Theologi, oleh Anthony Flew & Alasdir Macintyre, New York: MacMillan, 1955, pp 245)

Jadi pendeknya, hanya penjelasan ilmiah untuk sesuatu yang bisa dipakai dan semua penjelasan lainnya harus sesuai dengan ilmu pengetahuan atau tidak berbicara. Sekalipun Nowell Smith menyatakan bahwa para ilmuwan harus tetap membuka pikiran dan tidak menolak bukti yang menghancurkan teori yang sudah ia pikirkan sebelumnya, tampak jelas bahwa ia telah menutup pikiranya terhadap kemungkinan adanya penjelasan supernatural. Ia secara acak menekankan bahwa semua penjelasan harus bersifat alami atau hal itu tidak sungguh sungguh berarti. Ia membuat asumsi besar bahwa semua kejadian pada akhirnya harus memiliki penjelasan alam, tetapi tidak menawarkan bukti apapun untuk asumsi itu. Satu satunya jalan bahwa ia bisa mengetahui hal ini adalah untuk mengetahui sebelumnya bahwa mujizt tidak bisa terjadi. Itu merupakan lompatan iman naturalistic.

Para ilmuwan mengatakan bahwa penjelasan harus mempunyai nilai yang dapat diramalkan, tetapi ada banyak kejadian dalam dunia alam yang tidak bisa diramalkan. Tidak seorangpun bisa meramalkan apakah atau kapan kecelakan mobil akan terjadi, atau kapan sebuah rumah akan dirampok, tetapi tidak seorangpun yang mengatakan bahwa ia tidak selalu dapat meramalkan kejadian dalam praktik, ia hanya bisa meramalkan prinsipnya saja. Tidak ada peramal cuaca dengan pikirannya yang benar akan mengatakan hal yang sebaliknya. Supernaturalis membuat pernyataan yang sama, “mujizat terjadi jika Allah memandang hal itu perlu”, jika kita memiliki semua bukti, jika kita tahu semua yang diketahui oleh Allah, kita bisa meramalkan apa yang akan dilakukan Allah untuk turut campur sama seperti ilmuwan dapat meramalkan kejadian alam.

Tetapi mujizat memiliki nilai yang bisa dijelaskan dengan metode ilmiah. Beberapa kejadian bisa dijelaskan dengan kekuatan alam. Sangat mudah untuk melihat bahwa grand canyon disebabkan oleh erosi dan angina pada saat sungai membelah melalui batu karang. Kekuatan alam yang kita kenal dengan baik bisa menjelaskan bagaimana hal itu dihasilkan. Tetapi bagaimana halnya dengan mount rushmore? Apakah ada kekuatan alam yang bisa menjelaskan wajah Presiden AS pertama, kedua, ke 16 dan ke 27 muncul dari batu karang tiba tiba antara tahun 1927 dan 1941?, jelas, hal itu membutuhkan penyebab intellijen. Sama halnya, kejadian tertentu jelas memiliki tujuan dan arti yang bisa dipahami dalam konteksnya seperti memberi pelukan kepada seseorang. Ini juga disebabkan oleh penyebab intellijen. Mujizat termasuk ke dalam kelompok kejadian ini. Allah tidak turut campur hanya untuk bermain main dan membingungkan kita. Ia mempunyai tujuan dan menyampaikan sesuatu dengan setiap mujizat. Mujizat Musa meneguhkan bahwa Allah mengutus dia dan mengejek dewa dewa Mesir yang wilayah kekuasaannya ditakhlukkan oleh mujizat itu (Keluaran 7:14; 12:36). Elia tidak meminta api diturunkan dari langit tanpa tujuan (1 Raja raja 18:16-40). Sepanjang hari itu telah dihabiskan untuk menunggu baal melakukan sesuatu, tetapi Allah Elia bertindak dengan segera, untuk membuktikan realitas dan kuasaNya. Jenis kejadian itu membutuhkan penyebab intellijen, dan ini merupakan prinsip yang bersifat teratur dan seragam. Jadi ketika peristiwa yang memiliki tujuan terjadi, seperti terbelahnya laut merah sehingga bangsa Israel bisa melepaskan diri dari firaun, metode ilmiah memberitahu kita bahwa kita seharusnya tidak mencari penyebab alam, tetapi penyebab intellijen. Mujizat tidak menghancurkan ilmu pengetahuan. Tetapi berusaha menjelaskan mujizat dengan sarana penyebab alam sama sekali tidak ilmiah. Ilmu pengetahuan sesungguhnya merujuk pada penyebab intellijen dan peristiwa tertentu.

 

APAKAH MUJIZAT BERSIFAT HISTORIS?

Ilmu pengetahuan bukan satu satunya disiplin ilmu yang menolak mujizat. Studi sejarah juga mengatakan bahwa mujizat tidak bisa dimasukkan ke dalam metodenya. Jika hal itu memang terjadi, ahli sejarah tidak pernah mengetahuinya atau mempercayai hal itu, Anthony Flew mengembangkan argumennya:

Semua sejarah kritis tergantung pada keabsahan 2 prinsip:

  1. Peninggalan masa lalu bisa digunakan sebagai bukti untuk merekonstruksi sejarah hanya jika kita menemukan adanya keteraturan dasar alam yang sama yang dipegang pada saat itu maupun saat ini
  2. Ahli sejarah kritis harus menggunakan pengetahuan masa kininya tentang hal yang mungkin dan memiliki probabilitas sebagai kriteria untuk mengetahui masa lalu. Tetapi kepercayaan pada mujizat bertentangan dengan kedua prinsip tersebut. sebab itu, kepercayaan terhadap mujizat bertentangan dengan sejarah kritis.

Antony Flew (1923) – “menjadi dosen filsafat di 3 universitas utama di Inggris dan telah menulis dan mengedit banyak butku tentang teologi filsafat, sehingga membuat dia menjadi tokoh penting dunia saat ini dalam hal pertanyaan pertanyaan tentang Allah. ia terutama dihargai atas artikelnya dalam The Encyclopedia of philosophy tentang “Mujizat”. Argument yang ia berikan di sini tampak sejajar dengan argument Hume. Argumennya berbunyi:

  1. Setiap mujizat merupakan pelanggaran hukum alam
  2. Bukti yang menentang pelanggaran hukum alam merupakan bukti yang paling kuat yang mungkin
  3. Sebab itu, bukti yang menentang mujizat merupakan bukti yang paling kuat yang mungkin

Argument ini tidak hanya jatuh pada kritisisme yang sama seperti argument Hume, melainkan juga melanggar prinsip Flew sendiri tentang kemungkinan pemalsuan. Dalam kondisi apapun Flew tidak pernah mau mengakui terjadinya mujizat. Tetap dalam praktik jika pandangannya tidak bisa salah dalam situasi yang bisa dipahami, bagaimana ia bisa menyatakan bahwa ini benar tentang cara kerja dunia sesungguhnya?”

Ahli sejarah harus menolak semua mujizat. Orang yang percaya pada mujizat dianggap naïf dan tidak kritis pemikirannya. Argument ini tidak mengatakan bahwa mujizat mungkin atau tidak, mujizat sekedar tidak bisa diketahui oleh studi objektif sejarah.

Seperti David Hume, yang pemikirannya berusaha ia pertajam. Anthony Flew, membuat kesalahan dengan menambahkan bukti dan tidak menimbangnya. Ia tidak akan menerima bukti untuk peristiwa apapun secara khusus, ia hanya menerima bukti untuk perisitiwa umum.jadi apapun yang bersifat umum dan berulang ulang harus dipercaya, tetapi apa yang tidak umum dan unik harus ditolak. Jadi kita harus percaya bahwa ibu petani mencuci pakaiannya di sungai, meskipun kita tidak punya bukti langsung tentan gitu, tetapi menolak ide bahwa Alexander agung menakhlukkan Mesir, yang untuknya kita memiliki sangat banyak bukti.

Dua prinsip sejarah Flew sungguh sungguh hanya merupakan pernyataan ulang peribahasa Hume bahwa “pengalaman yang seragam menumpuk menjadi bukti” dan “orang yang bijaksana membandingkan kepercayaannya dengan bukti itu”. Tetapi, dengan mengasumsikan keseragaman yang absolut ia menempatkan bias dengan menentang kejadian supernatural. Hal itu menghalangi pencarian kebenaran dan tidak membantu hal itu karena telah menentukan makna yang bisa ditemukan dan tidak berusaha menemukannya. Dan orang bijaksana tidak membandingkan kepercayaan mereka dengan hanya probabilitas, melainkan dengan fakta. Pengulangan argument Hume tidak melakukan apapun untuk memajukan studi sejarah dan mengalami bias naturalistic yang sama seperti pendahulunya.

Pentingnya penyangkalan atas keberatan ini adalah bahwa tidak ada alasan peristiwa mujizat tidak bisa diperiksa dan diuji dengan metode historis. Mujizat yang dicatat dalam Alkitab terbuka untuk diselidiki seperti halnya peristiwa dalam sejarah kuno.

 

APAKAH MUJIZAT ADALAH MITOLOGIS?

Rudolf Bultmann berkata:

“Pengetahuan manusia dan penguasaan atas dunia telah mengalami kemajuan sedemikian jauh memiliki ilmu pengetahuan dari teknologi sehingga seseorang tidak lagi mungkin dengan serius berpegang pada pandangan Perjanjian Baru tentang dunia, sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang akan melakukan itu…satu satunya jalan untuk mengutip pernyataan iman dengan jujur adalah menanggalkan kerangka kerja mitologi dari kebenaran yang diabadikannya”.

Bagi Bultmann, ilmu pengetahuan modern telah menyingkirkan mujizat. Satu satunya jalan untuk memperdamaikan ini dengan iman adalah memandang semua unsur supernatural sebagai mitos yang telah tumbuh di sekitar inti kebenaran yang harus kita jalani. Untuk memahami Alkitab dan pesan Yesus yang sesungguhnya, kita harus menyiangi mitos itu untuk menemukan kebenaran. Jika kita bisa memahami pikiran orang orang Kristen mula mula, kita mungkin akan mampu memahami situasi dan kebutuhan yang ada yang menyebabkan munculnya mitos itu. Hal itu akan menuntun kita pada kebenaran pada level berikutnya yang bisa kita terima dengan iman. Argumennya mungkin bisa dinyatakan seperti ini:

  1. Mitos pada dasarnya lebih dari kebenaran objektif, hal itu merupakan kebenaran iman yang sangat penting
  2. Tetapi apa yang tidak bersifat objektif tidak bisa menjadi bagian dari dunia waktu ruang yang bisa dibuktikan
  3. Sebab itu, mujizat (mitos) bukan merupakan bagian dari dunia waktu ruang yang objektif.

Rudolf Bultmann (1884-1976) – “merintis metode penafsiran Alkitab dengan menghilangkan “demitologi” darinya. Dengan mengikuti pemikiran fenomologis Martin Heidegger. Bultmann berusaha membuat Alkitab relevan bagi orang modern secara eksistensial dengan memisahkan kebenaran inti keKristenan dan pandangan hidup abad pertama, yang membingungkan kita dan bukan bagian dari hidup kita. Sarana untuk melakukan hal ini adalah menanggalkan mitos (unsur unsur supernatural) dan realitas eksistensial cerita itu. Kebenaran yang lebih tinggi dan rohani oleh orang orang kapan pun, sayangnya, hal itu juga menghancurkan historitas iman Kristen dan otoritas Alkitab”.

Ini bukan hanya menghilangkan kebutuhan untuk mempercayai mujizat, melainkan juga membuatnya mustahil untuk mengevaluasinya dalam pengertian apapun. Tetapi apakah argument ini bisa dipertahankan? Apakah mujizat hanya mitos?

Pertama, ide ini tidak bisa diikuti bahwa karena sebuah peristiwa itu lebih dari objektif dan factual maka hal itu bersifat kurang historis. Tentu saja mujizat menunjuk pada sesuatu di luar dunia ini, tetapi itu tidak berarti bahwa mujizat tidak terjadi di dalam dunia. Jika mujizat lebih dari objektif dan factual, paling tidak mujizt merupakan peristiwa waktu ruang yang objektif.

Selain itu, Bultmann dengan jelas telah menyimpulkan terlebih dahulu bahwa mujizat tidak bisa terjadi. Ia tetap akan menarik kesimpulan yang sama tidak peduli apapun yang dikatakan oleh buktinya. Ia menyebutnya mujizat “tidak masuk akal”, “tidak rasional”, “tidak lagi mungkin”, “tidak berarti”, “sama sekali tidak bisa dipahami”, dan “tidak bisa ditolerir”. Itu bukan kata kata seseorang yang terbuka untuk melihat bukti. Ini adalah bahasa dari seseorang yang tidak ingin “dibingungkan oleh fakta”.

Tetapi, jika mujizat tidak bersifat objektif dan historis, mujizat tidak bisa dibenarkan atau disalahkan. Anda tidak bisa membuktian bahwa mujizat memang terjadi, tetapi tidak seorangpun bisa menyangkalnya juga. Hal ini menarik bagi beberapa orang Kristen karena menyingkirkan kebutuhan untuk membela kepercayaan mereka dan memanggil orang orang untuk “sekedar percaya” tanpa bukti”. Namun hal ini juga membuat kita menjadi korban kritisisme sah dari Antony Flew:

“Sekarang, bagi orang orang yang tidak religious sering kali tampaknya seolah olah tidak ada peristiwa atau serangkaian peristiwa yang bisa dipahami, yang kejadiannya akan diakui oleh orang orang yang sangat religious sebagai alasan yang memadai untuk mengakui “tidak ada satu Allah bagaimanapun juga….” Apa yang harus terjadi atau telah terjadi bagi anda untuk menyusun penyangkalan terhadap kasih, atau keberadaan dari Allah?”

Dalam bahasa sederhana. Jika kepercayaan tidak pernah berada dalam situasi yang tidak bisa salah, bagaimana anda bisa mengatakan bahwa kepercayaan itu benar benar tepat?, Ia telah meninggalkan wilayah benar dan salah dan sekedar ada sebagai opini. Bagi Bultmann, seseorang bisa mengirim mayat Yesus Kristus ke kantornya dalam kereta sorong dan hal itu tidak akan menggoyahkan imannya terhadap kebangkitan. Rasul Paulus, pada sisi lainnya, berkata bahwa “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup di dalam dosamu” (1 Korintus 15:17). Usaha religious untuk mempertahankan keKristenan dari serangan ilmu pengetahuan modern telah meninggalkan iman yang kosong bagi kita, yang membuat kita tidak bisa menyebut keyakinan kita benar atau salah.

 

APAKAH MUJIZAT DAPAT DIJELASKAN?

Ada banyak hal yang mengatakan ajarannya “terbukti” oleh mujizat. Tongkat Musa menjadi ular dalam Yudaisme, Yesus berjalan di atas air di dalam keKristenan, dan ada yang bisa melayang di udara pada saat berjalan. Hal ini masih berlaku sat ini ketika beberapa kelompok panteistik menyatakan bahwa mereka melakukan mujizt setiap hari. Gerakan zaman baru (New Age Movement), Benjamin Crème mengatakan tentang apa yang ia sebuat sebagai “Kristus” yang berarti roh kuasa dan ilahi yang menaungi Yesus dan sekarang tersedia bagi pengikut Kristus, dia mengatakan:

“Inilah yang memampukan mereka melakukan apa yang pada waktu itu disebut mujizat, yang hari ini disebut kesembuhan rohani atau esoteric. Setiap hari, di seluruh dunia, ada mujizat kesembuhan yang terjadi…mujizat ini sekarang dilakukan oleh orang laki laki dan perempuan di sepanjang waktu”.

Dan yang membuat masalah ini lebih rumit, ada banyak orang Kristen mengatakan hal yang sama setiap hari dan, meskipun beberapa pernyataan mereka memang benar, beberapa telah disingkapkan sebagai penipuan. Sekalipun kita menggunakan kata ini dengan longgar, hal ini masih bisa menimbulkan kebingungan. Beberapa orang berkata bahwa ketika bayi dilahirkan, itu merupakan mujizt, dan beberapa orang lain berkata bahwa ketika mereka lulus ujian, itu merupakan mujizat.

“Tanda”; “Mujizat” dan “Kuasa”

Ini adalah 3 kata yang digunakan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru untuk menjelaskan mujizat:

Dalam Perjanjian Lama

Tanda – meneguhkan otoritas Musa (Keluaran 3:12; 4:3-8); meneguhkan pesan Allah (Yud 6:17; Yes 38:7; Yer 44:29)

Mujizat – Digunakan bersama tanda (Kel 7:3; Ul 26:8); tanda tanda disebut mujizat (Kel 4:21)

Kuasa – Untuk menciptakan (Yer 10:12); untuk mengalahkan musuh (Kel 15:6-7; Bil 14:17), untuk memerintah (1 Taw 29:12); digunakan bersama tanda tanda dan mujizat (Kel 9:16)

 

Dalam Perjanjian Baru

Tanda – Mujizat mujizat Yesus (Yoh 2:11; 6:2; 9:16; 11:47); mujizat rasul rasul (Kis 2:43; 4:16; 30; 8:13; 14:3); kebangkitan (Mat 12:39-40)

Mujizat – digunakan 16 kali dan selalu dengna kata “tanda” (Mat 24:24; Yoh 4:48; Kis 6:8; 14:3)

Kuasa –Iblis (Luk 10:19; Rm 8:38); mujizat (Mat 11:20; 13:58; Luk 1:35; 1 Kor 12:10); Injil (Rm 1:16).

 

Bagaimana anda bisa mengatakan apa yang sungguh sungguh adalah mujizat atau apa yang bukan?, apakah mungkin mendefinisikan mujizat dengan cara tertentu yang bisa menghapuskan pernyataan yang salah dan beberapa jenis peristiwa tidak biasa lainnya dari definisi ini?.

Ancaman utama mendefinisikan mujizat muncul dari Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) panteistik. Penganut penteis berkata bahwa tidak ada Allah di luar dunia ini. Mereka sepakat bahwa semua peristiwa di dunia pasti memiliki penyebab alam. Seperti pendapat bahwa Yesus berkata dalam sebuah kitab, catatan yang diperoleh secara psikis tentang training psikis yang dipandang dilakukan Yesus, “segala sesuatu berasal dari hukum alam”. Bahkan Christian Science berkata bahwa mujizat adalah “sesuatu yang alami secara ilahi, tetapi harus dipelajari secara manusiawi; satu gejala ilmu pengetahuan”. Jadi daripada sekedar mengatakan bahwa tidak ada mujizat, penganut panteisme mendefinisikan ulang mujizt sebagai manipulasi hukum alam, hampir mirip dengan Luke Skywalker yang belajar menggunakan kekuatan (hukum alam) untuk melakukan perbuatan yang luar biasa. Penganut penteisme telah berusaha memasukkan fisika lanjutan ke dalam kerangka kerja mereka untuk menjelaskan hal hal yang supernatural. Buku Fritjof Capra, adalah versi doktrin panteistik yang diperbaharui bahwa semua materi pada intinya adalah mistis:

“Kesatuan dasar dunia bukan hanya merupakan sifat utama pengalaman mistis, melainkan juga merupakan salah satu pernyataan yang paling penting tentang fisika modern. Hal itu tampak jelas pada tingkat atomic dan menyatakan dirinya makin jelas dan makin jelas pada saat seseorang menembus materi makin dalam, ke dalam wilayah partikel sub atomic”.

Jadi, sumber mujizat panteistik itu bukan Allah yang maha kuasa yang ada di luar dunia, hal itu bukan sungguh sungguh supernatural, itu hanya supernormal

Sekarang orang orang Kristen, jangan menyangkal peristiwa supernormal semacam itu untuk terjadi, tetapi kita harus menyangkal bahwa hal itu sesuai dengan definisi tentang mujizat. Definisi itu memiliki tiga unsur dasar yang dicerminkan melalui tiga kata yang berkaitan dengan mujizat dalam Alkitab: kuasa, tanda, dan keajaiban. Kuasa mujizat berasal dari Allah yang ada di luar dunia. Sifat mujizat adalah bahwa ia merupakan keajaiban, yang menimbulkan keheranan pada orang orang yang melihat karena mereka takjub. Kata tanda memberitahu kita tujuan mujizat, yaitu untuk meneguhkan pesan Allah dan utusanNya. Dimensi teologis dari definisi ini adalah bahwa mujizat menyiratkan bahwa ada Allah di luar dunia yang turut campur di dalamnya. secara moral, karena Allah baik, mujizat hanya menghasilkan dan/atau mempromosikan kebaikan. Dalam dimensi doctrinal, mujizat memberitahu kita mana utusan yang sesungguhnya dan mana yang palsu. Dan secara teologis, mujizat tidak pernah dilakukan sebagai hiburan, tetapi dengan tujuan khusus untuk memuliakan Allah dan mengarahkan manusia kepadaNya.

Namun mujizat panteistik tidak memenuhi definisi ini karena kuasa mereka tidak berasal dari Allah. sesungguhnya penulis zaman baru (new age), David Spangler telah menunjukkan sumber mujizat bagi penganut panteisme ketika ia menulis, “Kristus adalah kuasa yang sama seperti Lucifer tetapi bergerak ke arah yang tampaknya berlawanan. Lucifer bergerak untuk menciptakan terang ke dalam…Kristus bergerak ke luar untuk melepaskan terang itu”. Jadi, kuasa untuk peristiwa supernormal dalam panteisme berasal dari Lucifer, atau iblis, meskipun disebut Kristus ketika ia keluar dari individu-individu.

Dari sudut pandang Alkitab, Lucifer, juga disebut si jahat dan iblis, tidak sama seperti Allah atau bahkan sejajar dengan Allah. pada mulanya, Allah menciptakan segala sesuatu dalam keadaan baik; bumi (Kejadian 1:1), manusia (ayat 27-28), dan malaikat malaikat (Kol 1:15-16). Salah satu malaikat bernama Lucifer (Yes 14:12) dan ia sangat indah tetapi “ia ingin meninggikan diri dengan kesombongan” (1 Tim 3:6, KJV). Dan mengatasi ketinggian awan awan, hendak menyamai yang Maha tinggi” (Yes 14:14). Ketika melakukan hal itu, ia juga memimpin banyak malaikat lain untuk mengikuti dia, sehingga sepertiga dari semua malaikat meninggalkan rumah mereka bersama Allah (Wahyu 12:4). Makhluk itu sekarang dikenal sebagai iblis dan malaikat malaikatnya (ayat 7; Mat 25:41). Mereka memang memiliki kuasa yang luar biasa dan dikatakan bahwa pada saat ini, “sedang bekerja (memberi kuasa) di antara orang orang durhana” (Ef 2:2). Iblis mampu menyamar berada di pihak Allah, tetapi itu hanya penyamaran. Iblis selalu bekerja melawan Allah.

Bagaimana kita bisa memberitahu apakah iblis atau Allah yang bekerja?, Alkitab memberikan beberapa ujian sehingga kita bisa mengetahui siapa utusan yang benar dan siapa yang palsu. Kuncinya adalah membedakan mujizat dengan sihir. Mujizat adalah campur tangan supernatural yang ditetapkan Allah, sihir manusia adalah manipulasi manusia dengan kekuatan normal atau supernormal.

Salah satu perbedaan utama antara mujizat dan sihir adalah penggunaan sarana okultisme untuk melakukan tindakan itu. Ini adalah praktik yang dinyatakan menghasilkan kuasa dari dunia roh. Dalam banyak kasus mereka sekedar melakukan itu, tetapi itu adalah kuasa roh jahat, bukan Allah. beberapa praktek yang langsung dikaitan dengan kuasa roh jahat dalam Alkitab adalah:

  1. Persihiran (Ulangan 18:10)
  2. Ramalan (Ulangan 18:10)
  3. Bertanya kepada arwah arwah (Ulangan 18:11)
  4. Meminta petunjuk kepada orang mati (Ulangan 18:11)
  5. Tenung (Ulangan 18:10)
  6. Astrologi (Ulangan 4:19; Yes 47:13-15)
  7. Bidat (pengajaran palsu) (1 Tim 4:1; 1 Yoh 4:1-2)
  8. Sikap Amoral (Ef 2:2-3)
  9. Penyembahan diri sendiri (Kej 3:5; Yes 14:13)
  10. Kebohongan (Yoh 8:44)
  11. Penyembahan berhala (1 Kor 10:19-20)
  12. Legalisme dan penyangkalan diri (Kol 2:16-23; 1 Tim 4:1-3)

Banyak orang yang mempraktekan dan mengajarkan “mujizat” panteistik tidak hanya mengakui bahwa mereka menggunakan praktek praktek okultisme ini, melainkan juga merekomendasikan hal itu kepada orang lain juga. Sifat sifat ini menunjukkan bahwa pernyataan mereka tentang kuasa mujizat itu berasal dari roh jahat.

Bagaimana jika kita menerapkan ujian ini pada salah satu dari banyak utusan yang menyatakan dirinya sendiri sebagai utusan Tuhan pada zaman kita, Jeane Dixon?, pertama, mari kita memeriksa catatan sejarahnya. Bahkan penulis biografi, Ruth Montgomery, mengakui bahwa Dixon telah membuat nubuat yang palsu. “Ia meramalkan bahwa Cina merah akan melibatkan dunia ke dalam perang atas Quemoy dan Matsu pada bulan Oktober 1958, ia berpikir bahwa pemimpin pekerja Walther Reuther akan segera aktif memperebutkan istina kepresidenan oada tahun 1964. Pada 19 obktober 1968, ia menyakinkan kita bahwa Jacqueline Kennedy tidak akan memikirkan untuk menikah lagi, keesokkan harinya Ny. Kennedy meniah dengan Aristotle Onassis. Ia juga berkata bahwa perang dunia III akan dimulai 1954, perang Vietnam akan berakhir pada 1966 dan Castro akan dibuang dari Kuba 1970. Studi tentang nubuat nubuat yang dibuat oleh ahli sihir pada 1975 dan yang diamati sampai 1981, termasuk ramalan Ny Dixon, menunjukkan bahwa dari 72 ramalan yang ia katakan, hanya enam yang digenapi dengan salah satu cara. Dua darinya masih kabur dan dua lainnya tidak mengejutkan. AS dan Rusia akan tetap menjadi penguasa menonjol dan tidak akan ada perang dunia. Dengan akurasi hanya 6 persen, seberapa serius kita harus menaruh perhatian pada pernyataan yang ia buat?

Nubuatnya yang paling terkenal adalah meramalkan kematian temannya Jonh F. Kennedy. Kita harus menghadapi kenyataan bahwa beberapa nubuat psikis ada yang menjadi kenyataan. Kadang kadang ini disebabkan karena hal itu bersifat sangat umum sehingga bisa ditafsirkan dan sesuai dengan banyak situasi. Yang lain sekedar menawarkan pengertian umum, seperti horoskop yang mengatakan, “Investasi yang hati hati akan mengamankan masa depan keuangan anda”. Tetapi beberapa nubuat bersifat spesifik dan akurat, dan ini bisa dilihat dari 3 cara: utusan itu berasal dari Allah (namun itu berarti 100 persen akurat), memiliki pengaruh roh jahat, atau mereka sekedar membuat tebakan yang beruntung. Jadi tepatnya apa sumber kuasa Jeane Dixon?

Angka keakuratan sekitar 6 persen bisa dengan mudah dijelaskan berdasarkan peluang dan pengetahuan umum tentang keadaan. Tetapi mungkin ada yang lebih dari itu. Montgomery juga memberitahu kita bahwa Dixon menggunakan bola Kristal, astrologi, dan telepati, dan bahwa karunia nubuatnya diberikan kepadanya oleh seorang peramal nasib gipsi ketika ia masih kecil. Bahkan nubuatnya tentang kematian Kennedy sangat kabur, salah dalam beberapa aspek (dia berkata bahwa pemilu 1960 akan dikuasai oleh buruh, padahal tidak). Dan bertentangan dengan nubuatnya yang lain- ia juga berkata bahwa Nixon dipandang akan menang.

Pengakuan Psikis – “Dalam bukunya powers: testing the physic and supernatural, Danny Korem menyingkapkan psikis yang terkenal dan menuntun dia untuk membuat pengakuan yang difilmkan bahwa ia melakukan semua triknya dengan ilusi dan bukan dengan kekuatan supernormal. James Hydrick telah mengembangkan reputasi yang sangat bagus dan mengikuti dengan kekuatan semacam menggerakkan selembar kertas dalam akuarium yang dibalik secara psikis dan membalik halaman buku tanpa menyentuhnya. Setelah Korem menemukan celah kecil di salam satu ujung akuarium dan mengembangkan kontrol pernafasan secara khusus, ia mampu meniru trik itu dan Hydrick mengaku, “lihat dibutuhkan waktu praktek bertahun tahun untuk menghafalkan..dimana anda tidak bisa melihat mulit saya bergerak ketika saya meniup..dan dalam praktek saya, anda tahu, saya menghabiskan waktu satu tahun enam bulan dalam kurungan sendirian. Sepanjang waktu itu saya berpikir dan berpikir dan akhirnya berkata kepada diri sendiri, “ini dia, inilah yang ingin saya lakukan””. Ia memberitahu bahwa ia telah membuat penjaga penjara berpikir bahwa seseorang ada di belakang mereka dan mempertobatkan teman teman sepenjara untuk percaya Kristus dengan berkata, “Bapa, dalam nama Yesus Kristus, buat halaman halaman ini bergerak”, kemudian ia akan membalik beberapa halaman dengan ledakan udara yang tidak bisa dirasakan”.

Tetapi Alkitab tidak menyediakan ruang untuk hal semacam itu. Semua bentung tenung dilarang. Yang lebih penting, bagi utusan Allah tidak diizinkan ada kesalahan. Ulangan 18:22, mengatakan bahwa ia harus 100 persen akurat:

“Apabila seorang nabi berkata demi nama Tuhan dan perkataannya tidak terjadi dan tidak sampai, itulah perkataan yang tidak difirmankan Tuhan, dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya”.

Frasa terakhir, jika ditafsirkan, berarti bahwa tidak salah jika ia dilempari batu. Jika Allah berfirman, hal itu akan terjadi. Tidak ada kebutuhan untuk kesempatan kedua. Tetapi kuasa jahat bukan satu satunya sumber kuasa yang ditemukan dalam mujizat semacam itu. Beberapa orang yang menyatakan memiliki kuasa supernormal terbukti tidak lain daripada ilusi dan trik sulap. Danny Korem, ahli sulap professional yang menulis buku untuk menyingkap trik sulap, berkata, “Jika situasinya sesuai, setiap orang bisa dibuat percaya bahwa ia telah menyaksikan sesuatu yang tidak pernah terjadi”.

Salah satu contoh adalah Uri Geller “psikis” yang menyatakan memiliki kuasa untuk membengkokkan benda logam tanpa menyentuhnya, maupun telepati dan melihat dari jauh. Ia bahkan menerima dukungan dari laporan Insitut Riset Stanford. Tetapi editor majalah itu juga mencatat bahwa orang orang yang telah melakukan tes merasa bahwa “laporan yang tidak memadai telah diambil dari metodologi yang ditetapkan tentang psikologi eskperimental…dua juri juga merasa bahwa penulis tidak memperhitungkan pelajaran yang dipetik dari masa lalu oleh parapsikologis yang menyelidiki riset di bidang yang penuh trik dan rumit ini”. Sikap skeptic mereka terbukti cukup beralasan, karena majalan New Science mencatata, “paling tidak lima orang menyatakan melihat Geller sesungguhnya menipu”. Seorang wanita yang mengamati dia di studio televisi berkata, “bahwa ia sesungguhnya melihat Geller membengkokkan, dengan tangan, bukan dengan kekuatan psikis, sendok yang besar”. Trik lain Geller adalah mengambil gambar dengan kamera sementara lensa sedang tertutup. Tetapi triknya telah ditiru oleh fotografer yang menggunakan lensa sudut lebar dan dengan penutup yang tidak terlalu tertutup. Kesuksesan Geller juga tampaknya secara dramatis jatuh ketika pengawasannya diperkuat. Di pertunjukkan televisi ia sedang mengambil benda dari salah satu dari 10 kaleng film.

Geller Membuktikan kekuatannya – “Andre Kole mengisahkan cerita dari Persi Diaconic, yang suatu kali mengantar Geller ke bandara. “Ketika menunggu penerbangannya, tukang sulap itu mengungkapkan kekecewaannya karena professor itu tetap skeptic, dan menawarkan untuk memberikan bukti yang meneguhkan tentang kekuatannya”. Ia kemudian meminta Diaconis untuk memasukan tangannya ke dalam kantong jaketnya, mengambil kunci kuncinya, dan memusatkan perhatian pada kunci yang akan dibengkokkan. Professor itu berkata, “saya membuka tangan saya, dan kunci itu saya pikir sudah bengkok. Selama kurang dari 5 menit saya merasa seperti orang yang bodoh untuk pertama kalinya sepanjang hidup saya”. Diaconis membongkar rahasia itu dengan meninjau kembali perjalanan  mereka ke bandara. Geller bersikeras untuk duduk di bangku belakang, tempat jaket Diaconis terletak. Di tempat parkir bandara, ia bersikeras untuk membawa jaket itu, “kalai kalau udara menjadi terlalu dingin”. Ring kunci itu berisi empat kunci, dan hanya satu yang berhasil ia bengkokkan dengan mudah, ketika ia memeriksa jaketnya lebih lanjut, ia menemukan satu amplop yang terbalik, dan masing masing ujung pennya bengkok dan melintir, Geller tampaknya telah mempersiapkan beberapa bukti kekuatannya [Andra Kole, Miracles or Magic?, Eugene Harvest House, 1987, p28)”

Dalam pertunjukan Merc Griffin di TV AS, Geller melakukan trik dengan sukses, tetapi beberapa orang berpikir mereka melihat Geller menggetarkan meja sehingga kaleng kaleng itu bergetar dan ia bisa memberitahu mana yang paling berat. Sebab itu pada pertunjukkan The johnny Carson tonight, pada tanggal 1 agustus 1973, tindakan pencegahan dilakukan dan Geller tidak diizinkan untuk berada cukup dekat dengan meja untuk menggetarkannya atau menyentuh kaleng kaleng, ia gagal.

Notradasmus – Juga disebut Michel de nostredame (1503-1566), tabib dan ahli nujum ini terkenal karena nubuat nubuatannya dalam buku centuries, yang terkenal karena fakta bahwa buku ini memuat syair empat baris berirama sebanyak 100 pasang. Beberapa dari nubuat ini dikatakan menjadi kenyataan. Syair berikut meramalkan bangkitnya Adolf Hitler, “para pengikut sekte, masalah besar yang akan terjadi bagi utusan. Binatang di atas punggung mempersiapkan adegan panggung. Penemu perbuatan jahat akan terkenal, melalui sekste ini dunia akan dikacaukan dan dipecah belah”, meskipun ini mungkin benar benar merupakan nubuat, nubuat ini sangat kabur sehingga bisa digenapi oleh banyak peristiwa sejarah. Tetapi orang Kristen hanya perlu melihat sumber Notradamus untuk mendiskreditkan dia. Salah satu syair empat baris menceritakan tentang dia menggunakan praktek okultisme untuk menghubungi roh roh jahat. Ia mempraktekkan astrologi, alkimia, sihir dan menggunakan bahasa kabbala (tradisi mistis Yahudi kuno). Alkitab melarang praktek praktek semacam itu”” (Andre Lamont, Notradamus Sees All, Philadelpia: W. Foulsham Co, 1942, p 252).

Sulit untuk menghindari kesimpulan seorang kritikus yang mengatakan dengan datar bahwa “SRI paper (surat socially responsible investment) sekedar tidak dapat bertahan terhadap begitu banyaknya bukti masa sesuai keadaan bahwa uri Geller hanyalah sekedar pesulap yang bagus. Pesulap Andre Kole menjelaskan:

“Apa yang tidak disadari kebanyakan orang tentang Uri Guller, apa yang ia coba sembunyikan dalam publikasinya, adalah bahwa ia mempelajari dan mempraktekkan sihir ketika masih muda di Israel. Tetapi ia dengan cepat menyadari bahwa ia menarik jauh lebih banyak orang yang mengikuti dia dengan menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan paranormal daripada apa yang ia lakukan sebagai tukang sulap. Sesungguhnya, kebanyakan apa yang ia kerjakan sebagai seorang pesulap agak tidak begitu penting”.

Bertentangan dengan ini, kita melihat keunggulan mujizat dalam Alkitab. Ahli sihir Mesir berusaha meniru perbuatan yang dilakukan Musa dengan menggunakan sarana ilusi dan pada mulanya sukses (Kel 7:19,dst; 8:6, dst), tetapi ketika Allah memunculkan nyamuk dari debu tanah, ahli sihir itu gagal dan berseru, “ini adalah jari tangan Allah” (ayat 19). Sama halnya, Elia membungkam semua pernyataan nabi nabi baal ketika ia memanggil api turun dari langit padahal mereka tidak bisa melakukan itu (1 Raj 18). Otoritas Musa dipertahankan ketika korah dan pengikutnya ditelan bumi (Bil 16). Dan Harun dinyatakan sebagai hamba Allah sebagai imam besar ketika tongkatnya bertunas (Bil 17).

Yesus menyembuhkan orang sakit (Mat 8:14-15), membuat orang buta melihat (Mrk 8:22-26), tanganNya terjulur dan menjamah orang kusta dan menyembuhkan mereka (1:40-45). Dan membangkitkan orang orang dari kematian (Luk 8:49-56), polaNya dilanjutkan oleh para rasul ketika Ia pergi seperti kita lihat Petrus menyembuhkan pengemis di pintu gerbang bait Allah (Kis 3:1-11), dan membangkitkan dorkas dari kematian (9:36-41). Ibrani 2:4, memberitahu kita tujuan dari mujizat mujizat ini, “Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda tanda dan mujizat mujizat dan oleh berbagai bagai pernyataan kekuasaan dank arena Roh Kudus, yang dibagi bagikanNya menurut kehendakNya”. Berkaitan dengan manfaat, kebaikan dan peneguhan atas pesan Allah, mujizat mujizat ini sama sekali berbeda dari pembengkokkan sendok dan pertunjukkan kaleng kaleng film. Tidak ada perbandingan.

Nubuat Alkitab juga sangat unik, kebanyaka ramalan itu bersifat kabur dan sering kali salah, sedang Alkitab sangat akurat dan tepat. Melalui nubuat Allah, sebelumnya memberitahu bukan hanya datangnya kehancuran Yerusalem (Yes 22:1-25), melainkan juga nama penguasa Persia yang akan mengembalikan orang Israel ke tanah air mereka (44:28; 45:1), 150 tahun sebelum hal itu terjadi. Tempat kelahirkan Yesus dinyatakan kurang lebih 700 tahun SM (Mik 5:2). Masuknya Yesus ke Yerusalem yang penuh kemenangan sudah diramalkan oleh Daniel tahun 586 SM (Dan 9:24-26). Tidak ada peramal nasib yang bisa menyombongkan diri dengan keakuratan dan konsistensi seperti ini.

Akhirnya, Kristus meramalkan kematianNya sendiri (Mrk 8:31), cara kematianNya (Mat 16:24), bahwa ia akan dihianati (26:21), dan bahwa Ia akan bangkit dari kematian pada hari ketiga (12:39-40). Tidak ada sesuatu seperti ini dimanapun dalam nubuat ataupun mujizat okultisme. Kebangkitan Yesus berdiri sendiri sebagai peristiwa sejarah yang unik dan tidak bisa diulang.

 

APAKAH MUJIZAT BERNILAI?

Kami telah menunjukkan bahwa mujizat itu mungkin, bisa dipercaya dan bersifat historis. Mujizat tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, bukan sekedar mitos, dan bahkan bisa dibedakan dari peristiwa supernormal. Ini semua baik dalam prinsipnya, tetapi apakah manfaatnya?, dapatkah kita sungguh sungguh mempercayai laporan terjadinya mujizat?, di samping itu, dimana kita akan berada jika kita mempercayai setiap cerita tentang mujizat?, Nilai apakah yang dimiliki mujizat jika kita tidak tahu mana yang harus dipercaya?

David Hume menyatakan keberatan kedua, bahwa bukti historis tidak pernah cukup untuk membenarkan kepercayaan terhadap mujizat (meskipun ia berpikir telah menghilangkan kemungkinan terjadinya mujizat dengan argumennya yang pertama), ia memberikan empat alasan untuk menolak bukti terjadinya mujizat:

  1. Tidak cukup jumlah saksi yang baik karakternya
  2. Sifat manusia selalu membesar besarkan dan mencari keajaiban dalam sesuatu
  3. Mujizat banyak terjadi di antara orang orang yang bodoh.
  4. Mujizat memiliki sifat yang membatalkan dirinya sendiri

Ketika kita memeriksa keberatan Hume, kita menemukan beberapa problem. Pertama, meskipun ia menyiratkan bahwa jika mujizat disaksikan oleh sejumlah orang yang baik, yang merupakan warga Negara yang terkemuka (keberatan 1), berpikiran sehat (keberatan 2), berpendidikan tinggi dan tinggal di kota modern (keberatan 3), ia akan mempecayainya. Hume sendiri mengakui bahwa mujizat Jensenis yang terjadi pada zamannya di Paris di kalangan menengah atas, memenuhi kriteria ini, tetapi ia berkata, “dan apa yang kita miliki untuk menentang banyak saksi sifat peristiwa mujizat atau yang sama sekali tidak mungkin yang mereka ceritakan?”, jadi dalam praktek Hume tidak pernah menerima bukti apapun sebagai hal yang memadai untuk mendukung mujizat, keberatannya yang sebenarnya adalah bahwa mujizat tidak mungkin dan kita telah menunjukkan itu salah sebagai beberapa kali. Tidak ada gunanya melihat bukti historis jika penghakiman terakhir sudah dibuat demi naturalism.

Referensi:

Thomas Huxley, the works of T.H, Huxley, New York: Appleton, 1896

As quoted in the international standard Bible encyclopedia, Grand rapids: Eerdmans, 1939

Benedict de Spinoza, tracatus theologico politicus, in the the chief works of benedict de Spinoza, trans. By RHM elwes, London: George bell and sons, 1883)

David hume, an inquiry concerning human understanding, ed, by CW hendel, New York: bobs-merril, 1955

Allan Bloom, the closing of the American mind, New York, simon and Schuster, inc, 1987

Rudolf bultmann, kerygma and myth: a theolofical debate, ed, by hans warner bartsch, trans, by Reginald h fuller, London: billing and sons, 1954

Antony flew, theology and falsification, in the existence of God, ed, by John hick, New York: macmillan, 1964

Benjamin crème, the reappearance of Christ, Los Angeles: tara centre, 1980

“Levi”, Levi h. dowling, the aquarian gospel of Jesus the Christ, santa monica: devorss and co, publishers, 1907 and 1964

Mary baker eddy, science and health with key to the scriptures, Boston, the Christian science publishing, 1973

Fritjof capra, the tao of physics, new york: bantam books, 1984

David spangler, reflections on the Christ, Findhorn, lecture series, 1978

Ruth Montgomery, a gift of prophecy, New York, William morrow and company, 1965

Danny Korem, the fakers, grand rapids, baker 1980

Nature, October 18, 1974

Andre kole and Al janssen, Miracle or magic?, Eugene, ore: harvest house, 1987