How honest?

0a87e90e0af2874db81541a5c684562c

  1. Ketidakpastian Waktu

“Surely every man walks about like a shadow; Surely they busy themselves in vain; He heaps up riches, and does not know who will gather them!”.

Kita harus bisa menghargai waktu karena kita tidak tahu kapan waktu kita akan berhenti. Kita tahu bahwa waktu kita sangat singkat, tetapi kita tidak tahu seberapa singkat. Kita juga tidak mengetahui berapa banyak lagi sisa waktu itu. Setiap hari kita berada dalam ketidakpastian apakah hari tersebut merupakan hari terakhir bagi kita atau apakah kita bisa melewati seluruh hari tersebut.

Jika ada seseorang yang akan bepergian dan diberi kesempatan untuk memilih perbekalan yang ada, dan perbekalan itu akan menentukan hidupnya, maka ia akan sangat memerhatikan pemilihan perbekalannya tersebut. Bagaimana orang akan sangat lebih menghargai waktu mereka jika mereka mengetahui bahwa mereka hanya mempunyai waktu beberapa bulan atau beberapa hari lagi untuk hidup!.

Begitu banyak orang di dunia yang sangat menikmati kesehatannya dan sama sekali tidak melihat tanda-tanda kematian. Banyak dari mereka akan meninggal bulan depan, atau minggu depan, sebagian mungkin akan meninggal besok dan yang lainnya mala mini. Tetapi, mereka tidak mengetahuinya sama sekali dan mungkin juga mereka tidak pernah memikirkannya, dan mereka ataupun tetangga-tetangga mereka tidak bisa berkata bahwa mereka akan mati lebih cepat dibandingkan orang lain.

Ini mengajar kita tentang bagaimana kita harus menghargai waktu yang kita punya, dan dengan sangat bijaksana menggunakannya, jangan sampai kita menghabiskan waktu kita dengan sia-sia.

Apa yang diperlukan untuk “menghargai waktu anda” ? perubahan-perubahan seperti apa yang anda lakukan untuk menggunakan waktu anda dengan lebih baik ?.

e0ef89a3e01b03337420c5df833b71d0

  1. Waktu Yang Tidak Dapat Diulang

“Karena itu perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup. Janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini jahat”.

Waktu yang sangat berharga, karena apabila ia berlalu, ia tidak dapat diulang lagi. Ada banyak hal yang dimiliki orang yang apabila mereka kehilangan sesuatu yang dia miliki, tanpa mengetahui betapa berharganya benda itu atau kebutuhan akan benda tersebut, dia sering kali bisa mendapatkannya kembali – setidaknya dengan tenaga dan biaya. Akan tetapi, tidak demikian dengan waktu. Sekali waktu itu hilang, ia akan hilang selamanya, tidak ada rasa sakit ataupun biaya yang dapat memulihkannya.

Sekalipun kita begitu menyesalinya karena tidak menggunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya, itu tetap akan sia-sia. Setiap bagian dari waktu telah diberikan kepada kita dan kita harus memilih apakah kita akan menggunakannya dengan baik atau tidak. Akan tetapi, tidak ada penundaan. Ia tidak akan menunggu sampai kita melihat apakah ia sesuai dengan yang kita inginkan atau tidak. Apabila kita menolak, ia akan segera pergi dan tidak pernah ditawarkan lagi kepada kita. Untuk waktu yang telah hilang itu, sekalipun kita tidak memanfaatkannya, sekarang itu bukan milik kita lagi dan kita tidak dapat lagi menjangkaunya.

Apa yang akan terjadi ketika orang tidak berpikir tentang bagaimana akan menggunakan waktu mereka ? bagaimana anda akan menggunakan waktu anda agar bermanfaat bagi tubuh Kristus?.

 

  1. Bagaimana Anda Menghabiskan Waktu Anda ?

“Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”.

Betapa besar penderitaan yang dialami Paulus ketika dia berkeliling memberitakan Injil dari satu tempat ke tempat lainnya di dunia, melewati daratan dan lautan, dan kemungkinan dia harus berjalan kaki pada sebagian besar dari tempat tersebut, memberi instruksi dan mempertobatkan banyak orang, berdebat dengan orang-orang berhikmat, orang-orang yahudi dan para penyesat, dengan keras menentang dan melawan musuh-musuh, berperang bukan melawan darah dan daging, melainkan melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara, bertindak sebagai tentara yang baik, seperti seorang yang akan pergi berperang, mengenakan Kristus dan menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah, berjuang untuk membangun, meneguhkan, dan menguatkan orang-orang kudus, memenangkan mereka yang bingung, melepaskan mereka yang terikat, menerangi kegelapan, menghibur yang susah serta menolong mereka yang dalam pencobaan, memperbaiki yang rusak yang ada di Gereja, menerapkan disiplin Gereja kepada mereka yang melanggar dan menasehati orang-orang kudus yang terikat dengan perjanjian anugrah, membuka dan menerapkan Kitab Suci.

Kita mengaku sebagai orang Kristen sama seperti Rasul Paulus, dan Kristus layak untuk dilayani sama seperti Paulus melaani Dia. Akan tetapi, betapa kecil pekerjaan kita bagi Tuhan dan bagi sesama kita!. Sekalipun banyak dari kita yang sibuk, bagaimanakah kita menggunakan pekerjaan dan kekuatan kita dan dengan hal apa kita mengisi waktu kita ?

Mari kita menyelidiki diri kita, bagaimana kita telah menggunakan waktu kita. Kita berusaha untuk memelihara diri dan keluarga kita, menjaga reputasi, dan membuat kita keliharan baik di antara sesama kita. Akan tetapi, apakah hanya untuk itu kita dikirim ke dunia ? Apakah Dia yang telah menciptakan kita dan memberi kita kuasa dari pikiran dan kekuatan tubuh, dan yang memberi kita waktu dan talenta, memberi semuanya itu kepada kita untuk dihabiskan dengan cara yang seperti itu atau untuk melayani Dia?

Pikirkan bagaimana anda menghabiskan waktu anda. Bagaimana Tuhan ingin anda menggunakan waktu dan talenta, pikiran dan tubuh untuk pekerjaanNya? Mintalah Dia untuk menuntun anda ketika mengevaluasi penggunaan waktu anda dan hal-hal apa yang paling berharga bagi anda.

 

  1. Nilai Waktu

“Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap”.

Kelangkaan beberapa komoditas menyebabkan manusia menetapkan nilai yang lebih tinggi terhadap komoditas tersebut, khususnya jika barang tersebut diperlukan dan orang-orang tidak bisa melakukan sesuatu tanpanya. Jadi, ketika Samaria dikuasai oleh Siria, dan persedian makanan sangat langka, “Sebuah kepala keledai berharga 80 syikal perak dan ¼ kab tahi merpati berharga 5 syikal perak”. Demikianlah waktu bahkan lebih dihargai oleh orang karena semua kekekalan bergantung padanya, tetapi kita hanya memiliki sedikit waktu. “Karena sedikit jumlah tahun yang akan datang, dan aku akan menempuh jalan, dari mana aku tak akan kembali lagi”..”Hari-hariku berlalu lebih cepat daripada seorang pelari…meluncur lewat laksana perahu dari pandan, seperti rajawali yang menyambar mangsanya”.

Tetapi, ini adalah sekejap waktu sebelum kekekalan. Waktu begitu singkat dan pekerjaan yang harus kita lakukan begitu banyak sehingga tak sedikit pun waktu yang tidak digunakan. Pekerjaan yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan kekekalan harus dilakukan pada waktunya, atau itu tidak akan pernah dapat dilakukan.

Tantangan apa yang anda hadapi dalam menggunakan waktu ? jika anda mengetahui bahwa anda akan mati dan ada dalam kekekalan minggu depan, bagaimana anda akan hidiup dengan berbeda hari ini? Apa yang menghalangi anda hidup dengan cara demikian setiap hari ?.

 

  1. Bahaya Dari Hawa Nafsu

“Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasehati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa”.

Dosa sangat berbahaya karena begitu ia menguasai dan memikat kehendak dan keinginan kita, ia akan mengguncang dan mengaburkan penilaian kita. Selama hawa nafsu itu menguasai kita, itu akan mengaburkan pikiran kita untuk menyetujui hawa nafsu. Selama dosa masih menguasai kehendak dan keinginan kita, selama itu juga kita akan melihat bahwa dosa itu menyenangkan dan menganggap hal tersebut tidak salah. Dan, ketika hawa nafsu itu sangat menguasai seseorang dan menjadikannya sangat terbiasa dengan kegiatan dosa, itu juga akan memengaruhi pemahamannya. Semakin seseorang berjalan dalam ketidakpastian, semakin pikirannya dibutakan karena dosa karena dosa semakin menguasainya.

Oleh karena itu, banyak orang hidup di dalam jalan yang tidak sesuai dengan Firman Allah dan juga tidak memperhatikannya. Sulit untuk membuat mereka mau memperhatikannya karena hawa nafsu itu membawa mereka masuk ke dalam jalan iblis yang membutakan mereka. Oleh karena itu, jika seseorang mengejar kejahatan atau keserakahan, maka pengertian orang itu akan semakin dibutakan untuk menyetujuinya. Jadi, jika seseorang membiarkan hidupnya dikuasai hawa nafsu seksual, maka keinginannya semakin terkontaminasi, semakin manis dan menyenangkan dosa itu, dan semakin ia diatur dan diyakinkan untuk berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan hal tersebut.

Dalam hal apa anda dapat melihat bukti-bukti dari kebenaran ini dalam kehidupanmu ? apa yang dapat anda lakukan untuk melindungi diri dari hawa nafsu ?.

 

  1. Membangun Hidup Pada Dasar Yang Benar.

“Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan Nampak, karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan Nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu”.

Bagi anda yang belum pernah merasakan perubahan hati yang disebabkan oleh kekuatan kuasa Roh Kudus dalam jiwa anda, anda yang belum pernah dilahirkan baru, dan dijadikan sebagai ciptaan baru, serta dibangkitkan dari kematian karena dosa kepada keadaan yang baru, anda ada di dalam tangan Allah yang murka.

Sekalipun anda telah memperbarui hidup anda dalam banyak hal, dan mempunyai pengalaman emosi keagamaan, serta menaati agama dari keluarga anda, serta berada di ruang doa dan di rumah Allah, tidak ada hal yang lainnya selain Kasih Allah yang dapat membuat anda lepas dari penghukuman kekal. Sekalipun pada saat ini, anda tidak yakin dengan apa yang anda dengarkan, akan tetapi pelan-pelan anda akan secara penuh percaya akan hal ini. Mereka, yang telah pergi dari keadaan yang anda alami saat ini, melihat beginilah yang terjadi atas mereka karena kehancuran datang tiba-tiba kepada sebagian besar dari mereka ketika mereka tidak mengharapkan itu terjadi, sementara mereka mengatakan, “Damai dan Aman”. Sekarang mereka melihat bahwa hal-hal yang mereka percayai dapat mendatangkan kedamaian dan kemanan adalah sia-sia dan merupakan bayangan yang kosong.

Dalam hal apakah perspektif yang dikemukakan di sini berbeda dengan yang dimiliki oleh orang-orang dunia pada saat ini ? Menurut anda mengapa banyak orang berpikir “agama” pribadi mereka akan bisa menyelamatkan mereka dari hukuman kekal ?.

 

  1. Kejarlah Nasehat Yang Bijak

“Tetapi rencana Tuhan tetap selama-lamanya”.

Jangan pernah kita bersantai-santai dengan urusan-urusan rohani, tetapi kita harus mengurusnya secara terus menerus setiap hari. Jika suatu waktu kita melakukan suatu perkara rohani yang besar, tetapi setelah itu kita beristirahat, dan terus menerus melakukan yang seperti ini, maka hal itu tidak akan membawa efek yang baik. Kita sama saja dengan tidak mengerjakan apa-apa. Pekerjaan rohani yang seperti ini tidak akan mendapatkan hasil yang baik, demikian juga dengan pekerjaan-pekerjaan lainnya tidak akan memberikan hasil yang baik.

Ini adalah sebuah pekerjaan yang memiliki banyak kesulitan, jebakan-jebakan, dan bahaya yang menghadang, sehingga memerlukan banyak pengajaran-pengajaran, pemikiran-pemikiran, dan nasehat-nasehat. Tidak ada pekerjaan  lain di mana orang-orang memerlukan lebih banyak nasehat. Ini adalah tanggung jawab yang sulit, masalah yang sulit untuk dipecahkan. Orang-orang mungkin mengambil ribuan cara yang salah. Ada banyak hal yang membingungkan dimana orang-orang yang tidak beruntung tersesat dan tidak pernah menemukan jalan keluar. Ada banyak batu karang yang mana telah menyebabkan ribuan orang menderita karena karam kapal, karena menginginkan arah yang benar.

Banyak orang tidak mengetahui bagaimana melanjutkan perjalanan ini, sama seperti bangsa Israel yang tidak tahu ke mana mereka harus pergi tanpa tuntunan dari tiang awan dan tiang api. Ada kebutuhan yang besar bagi mereka untuk menyelidiki Firman Tuhan dan dengan tekun melakukan instruksi serta tuntunan yang ada di dalamnya, seperti sebuah cahaya di tempat yang gelap, serta mencari nasehat dari orang-orang yang ahli di bidangnya. Tidak ada urusan pencarian yang lebih penting daripada berdoa untuk mencari Allah, mencari nasehatNya, supaya Dia menuntun mereka di jalan yang benar serta menunjukkan kepada mereka pintu gerbang yang sesungguhnya.

Dalam area khusus apakah anda membutuhkan hikmat Allah dan orang kudus lainnya ? seberapa tekunkah anda mencari hikmat ini ?

 

  1. Kebodohan Orang Yang Bimbang.

“Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya”

Banyak orang tetap ragu-ragu dengan agama. Mereka tidak dapat memutuskan apakah mereka akan memeluk suatu agama atau menolaknya. Banyak orang yang telah dibaptis, dan menyatakan diri secara keagamaan terlihat sebagai orang Kristen, namun demikian di dalam pikirannya mereka bingung antara 2 pendapat. Mereka tidak pernah mengambil keputusan apakah mereka akan menjadi orang Kristen atau tidak. Mereka diajarkan tentang ke Kristenan ketika mereka masih kecil dan memiliki Alkitab – Firman yang dikhotbahkan dan sarana anugrah Allah – sepanjang hidup mereka. Namun demikian, umur mereka terus bertambah, dan banyak dari mereka menjadi tua tanpa mengambil keputusan apakah mereka akan menjadi orang Kristen atau tidak. Banyak yang tetap bimbang selama hidup mereka.

Mengapa banyak orang saat ini tetap tidak percaya Yesus dan karyaNya ? apakah akar dari kebimbangan rohani ini ?.

 

  1. Jangan Tumpulkan Hati Nurani Anda.

“Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah”.

Nafsu dari manusia – lebih senang terhadap tindakan-tindakan dosa yang merupakan kecenderungan nafsu dan sangat menikmatinya – memunculkan pikiran kedagingan dan menyebabkan manusia, dengan semua akal bulus yang mereka miliki, menyusun berbagai macam alasan dan argumentasi untuk membenarkan tindakan mereka. Ketika seseorang dengan kuat memiliki kecenderungan dan dicobai oleh kejahatan, dan hati nurani mereka gelisah karena semua itu, mereka akan memeras otak untuk mendapatkan argumentasi yang dapat membuat diam hati nurani dan membuat mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar.

Bukti-bukti apa yang ada hari ini yang membuktikan bahwa orang-orang sering kali membenarkan tindakan dan perilaku dosa di belakang mereka ?, apakah anda melakukannya ? apa yang dapat anda lakukan untuk mengubah perilaku tersebut ?

 

  1. Kepuasan Sesaat, Neraka Kekal.

“Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi”.

Untuk mendapatkan kepuasaan sesaat, sebagian besar manusia menempuh resiko untuk menerima penyiksaan kekal. Mereka lebih memilih kesenangan yang lebih kecil, atau kekayaan yang sedikit, atau sedikit kemuliaan di dunia, serta kebesaran yang tidak bertahan lama daripada lepas dari penghukuman kekal. Apa untungnya bagi manusia apabila dia mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya ? atau, apa yang akan diberikan manusia sebagai ganti nyawanya ? apakah ada hal di dunia ini yang tidak lebih ringan dan lebih sepele daripada kesia-siaan apabila dibandingkan dengan hal-hal yang kekal ?.

Betapa gilanya manusia karena sekalipun mereka mendengar bahwa apabila mereka hidup dalam dosa mereka akan mengalami penderitaan kekal, namun demikian mereka tidak terpengaruh olehnya, sebaliknya mendengarkan itu dengan kecerobohan dan kebekuan sepertinya mereka sama sekali tidak peduli dengan hal tersebut, mereka tidak tahu bahwa mungkin saja mereka akan menderita siksaan tersebut sebelum akhir minggu berikutnya.

Bagaimana seseorang bisa begitu tidak peduli dengan penyiksaan dan penghukuman kekal yang mengerikan ? bukankah itu merupakan kebebalan dan kebodohan hati manusia. Betapa biasanya kita melihat orang yang setiap minggu diberi tahu tentang penderitaan kekal dan memiliki kemungkinan yang sama untuk mati seperti orang lain, namun mereka tidak peduli tentang itu semua dan tampaknya mereka tidak terpengaruh dan tidak membatasi nafsu hati mereka. Mereka lebih mementingkan untuk mengejar uang, tanah, pengaruh di dalam dunia, dan memuaskan panca indra mereka.

Mengapa saat ini begitu sedikit orang meluangkan waktu untuk memikirkan kehidupan kekal ? pikirkan bagaimana anda akan hidup dalam terang kekekalan. Kepada apa atau siapakah anda memfokuskan perhatian anda ?.

 

  1. Jaga Hati Anda Dengan Tekun.

“Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu”.

Hati manusia adalah hati yang murtad. Di sana ada sebuah kasih yang besar dan keinginan yang besar untuk mengejar kesenangan dan kenikmatan Sodom, seperti yang dimiliki oleh istri Lot, yang karenanya semua orang sangat peka terhadap pencobaan untuk menoleh ke belakang. Hati manusia sangat melekat kepada Sodom, sangat sulit untuk menjaga matanya agar tidak melihat ke belakang, dan juga kakinya untuk tidak melangkah ke sana.

Manusia juga cenderung murtad karena keputusasaan. Hati manusia tidak teguh, sering kali menjadi lelah dan cenderung mendengarkan pencobaan yang menghalangi. Sedikit saja kesulitan dan penundaan segera melemahkan ketetapan yang ada di dalamnya. Keputusasaan cenderung membawa kemurtadan, ia melemahkan tangan manusia, terbaring seperti orang mati dalam hati mereka dan membuat mereka melangkah dengan berat. Apabila hal ini berlangsung lama, sering kali itu akan mempercepat ketidaksadaran. Keyakinan sering kali digoyahkan dengan cara seperti ini, mereka menjadi mati karena keputuasaan.

Kemurtadan adalah penyakit yang bekerja dan berkemang dengan diam-diam. Itu merupakan bujukan yang membingungkan. Ia bekerja seperti membunuh tubuh secara progresif, dimana orang sering kali membujuk diri mereka sendiri bahwa kondisi mereka tidaklah buruk, tetapi lebih baik, dan besar harapannya untuk pulih, sampai beberapa hari sebelum mereka mati. Oleh sebab itu kemurtadan biasanya datang perlahan-lahan. Orang yang murtad mengatakan bahwa mereka berusaha dan berharap agar mereka tidak kehilangan keyakinan mereka. Dan, pada saat mereka menemukannya dan mereka tidak dapat berpura-pura lagi, mereka secara umum telah pergi terlalu jauh sampai mereka tidak peduli apabila mereka telah kehilangan keyakinan mereka.

Peliharalah perhatian yang besar dan tekun untuk menjaga hati anda dan teruslah waspada serta berdoalah dengan tekun agar anda tidak murtad.

Apakah gejala-gejala dari kemurtadan rohani ? apakah anda setuju bahwa murtad sering kali terjadi secara perlahan-lahan dank arena itu sangat berbahaya ? mengapa dan mengapa tidak ?.

 

  1. Fokus Yang Terutama.

“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Betapa banyak rencana yang kita buat untuk mengamankan dan mengembangkan perkara-perkara duniawi! Siapa yang dapat menghitung semua rencana-rencana yang telah kita rancang untuk mendapatkan uang dan kehormatan, dan meraih rencana duniawi tertentu? Betapa gigih kita berusaha untuk dapat menghindari hal-hal yang dapat menyakiti kita di dalam ketertarikan duniawi kita serta rencana orang-orang yang berusaha menyakiti kita! Akan tetapi, betapa sedikit rencana yang kita buat untuk kemajuan Gereja dan kebaikan sesame! Betapa banyak rancangan yang dibuat manusia untuk mempromosikan keinginan duniawi mereka, sementara hanya satu saja yang memikirkan kemajuan Kerajaan Allah dan kebaikan manusia!. Betapa sering orang-orang tertentu untuk menentukan bagaimana mereka mencapai kemajuan dan membicarakan masalah-masalah duniawi lainnya!. Akan tetapi, betapa jarang pertemuan diadakan untuk menyelamatkan Gereja yang sedang tenggelam, mengusahakan kemajuan Injil, dan mencapai jumlah persembahan tertentu untuk kemajuan Kerajaan Kristus serta kenyamanan dan kesejahteraan manusia!.

Bukankah semuanya ini bisa menjadi sumber ratapan kita ! betapa banyak orang sangat berhikmat dalam mempromosikan minat duniawi mereka. Akan tetapi, sungguh memalukan melihat sangat sedikit dari mereka yang menunjukkan bahwa mereka secerdik ular dan setulus merpati bagi Kristus!. Dan betapa umum yang terjadi adalah kebaikan dari apa yang dituliskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, “Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terdapat apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat”. Apakah yang sering terjadi malah yang sebaliknya seperti yang terjadi dengan orang-orang Yehuda dan Yerusalem, “Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik, mereka tidak tahu”.

Apakah anda setuju bahwa ada banyak orang Kristen yang menggunakan sebagian besar waktu dan tenaga mereka untuk hal-hal duniawi ? mengapa dan mengapa tidak ? apa yang membuat dosa ini muncul ? apa yang dapat anda lakukan untuk tetap berfokus dalam mengasihi Tuhan, termasuk GerejaNya ?

 

  1. Kelakukan Dan Karakter

“Orang-orang dewasa memiliki indra yang terlatih untuk membedakan mana yang baik dari yang jahat”.

Kelakukan dan karakter berhubungan mesra. Dalam bentuk tindakan yang terus diulang seiring berjalannya waktu. Kelakukan menghasilkan karakter. Itulah ajaran 2 Petrus 2:14 dan Roma 6:19. Tetapi benar juga bahwa karakter menentukan tindakan. Apa yang kita lakukan, begitulah jadinya kita. Apa kita ini, itulah yang kita lakukan.

Kelakuan selalu memberi umpan kepada karakter, tetapi karakter pun selalu memberi umpan kepada kelakuan. Pengalaman Paulus ketika karam kapal di pulau Malta memberikan contoh yang baik tentang hubungan ini. Oenduduk pulau menyalakan api unggun bagi orang-orang yang terluput karena hujan turun dan hari menjadi dingin. Lukas bercerita dalam Kisah Para Rasul 28 bahwa Paulus mengumpulkan setumpuk ranting semak, dan ketika menyalakan api, seekor ular keluar dari tumpukan ranting kering semak itu lalu memangut tanggannya. Dalam keadaan karam kapal yang malang, mengapa pula Paulus pergi mengumpulkan bahan bakar untuk api unggun yang dibuat dan diurus oleh orang lain ?, mengapa ia tidak berdiri saja dekat api unggun dan menghangatkan badan ?, ia tidak melakukannya karena memang sudah karakternya melayani orang lain. Ia sudah mempelajari dengan baik hal yang diajarkan oleh Yesus ketika Ia membasuh kaki murid-muridNya. Karena memang sudah karakter Paulus melayani orang lain, ia mengumpulkan ranting semak berdasarkan naluri.

KARENA KELAKUAN MENENTUKAN KARAKTER, DAN KARAKTER MENENTUKAN KELAKUAN, MAKA SANGATLAH PENTING, SAMA SEKALI PERLU, BAGI KITA UNTUK MEMPRAKTEKKAN KESALEHAN SETIAP HARI. Itulah sebabnya Petrus berkata, ‘Kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha menambahkan kepada imanmu kesalehan’. SETIAP HARI APABILA KITA TIDAK MEMPRAKTEKKAN KESALEHAN, KITA SEDANG DIJADIKAN SERUPA DENGAN DUNIA YANG TIDAK SALEH DI SEKITAR KITA. MEMANG, PRAKTEK KESALEHAN KITA TIDAKLAH SEMPURNA DAN JAUH DARI PATOKAN ALKITAB. MESKIPUN BEGITU, MARILAH KITA GIGIH BERUPAYA UNTUK MENGENAL KRISTUS DAN JADI SERUPA DENGAN DIA.

 

  1. Tanggung Jawab Pribadi

“Kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN Allahmu”.

Alasan lain yang membuat kita tidak mengalami banyak kekudusan dalam hidup sehari-hari adalah: kita salah memahami “hidup oleh iman” sebagai “tiadanya tuntutan dari pihak kita untuk berusaha hidup kudus”. Terkadang kita bahkan menyatakan bahwa setiap usaha dari pihak kita adalah “dari daging”.

Perkataan J.C.RYLE, USKUP LIVERPOOL TAHUN 1880-1900, MEMBERI KITA PELAJARAN DALAM HAL INI: “BIJAKKAH KITA JIKA KITA NYATAKAN SECARA BEGITU TERBUKA , TELANJANG DAN BEBAS SEPERTI DILAKUKAN OLEH BANYAK ORANG, BAHWA KEKUDUSAN ORANG YANG BERTOBAT HANYA DIRAIH OLEH IMAN BELAKA, SAMA SEKALI TANPA UPAYA PRIBADI ? SESUAIKAH ITU DENGAN FIRMAN ALLAH ? SAYA RAGU. BAHWA IMAN KEPADA KRISTUS ADALAH AKAR SEGALA KEKUDUSAN. TIDAK PERNAH DISANGKAL OLEH ORANG KRISTEN YANG BELAJAR DENGAN BAIK. TETAPI KITAB SUCI PASTINYA MENGAJARI KITA BAHWA ORANG KRISTEN YANG SEJATI MEMERLUKAN USAHA DAN KERJA PRIBADI DAN JUGA IMAN KETIKA MENGEJAR KEKUDUSAN”.

Kita harus menghadapi fakta bahwa kita memiliki tanggung jawab pribadi untuk hidup dalam kekudusan. Pada suatu hari minggu Pendeta kami berkata dalam khotbahnya mengenai hal itu: “Anda dapat menjauhkan kebiasaan yang menguasai anda, jika anda benar-benar ingin melakukannya”. Karena ia sedang merujuk kepada satu kebiasaan yang tidak menjadi maslah bagi saya. Saya segera menyetujuinya dalam pikiran saya. Tetapi kemudian Roh Kudus berkata kepada saya, “Dan engkau dapat menjauhkan kebiasaan berdosa yang menulahimu itu kalau engkau mau mengambil tanggung jawab pribadi atas hal itu”. Mengakui bahwa saya memang bertanggung jawab ternyata menjadi titik penting bafi saya dalam mengejar kekudusan. Maukah anda mulai mengambil tanggung jawab pribadi atas dosa anda sambil menyadari bahwa harus bergantung pada anugrah Allah ?

 

  1. Inilah Kasih

“Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal”.

Karya pendamaian Yesus diprakarsai Sang Bapa oleh karena kasihNya besar kepada kita. “Dalam hal inilah Kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita”, tulis Rasul Yohanes, yaitu “bahwa Allah telah mengutus anakNya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup olehNya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus anakNya sebagai pendamai bagi dosa-dosa kita”.

Terkadang karya Kristus digambarkan secara keliru: Yesus yang baik dan lembut menyurutkan murka Allah yang pembalas, seakan-akan Ia perlu meyakinkan Sang Bapa agar tidak mencurahkan murkaNya kepada kita. Gambaran itu sama sekali tidak benar. Allah, Sang Bapa, mengirim anakNya dalam misi belas kasih dan anugrah yang agung. Meskipun Yesus datang dengan sukarela dan senang hati, Sang Bapa lah yang mengirimNya.

Alkitab secara konsisten menyatakan kasih Sang Bapa sebagai penyebab utama karya penebusan Yesus yang agung. “Allah menunjukkan kasihNya kepada kita dalam hal ini: ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita”. Meskipun “pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain”. Allah menyelamatkan kita “karena kasihNya yang besar, yang dilimpahkanNya kepada kita”.

Di sinilah letak kemuliaan Salib. Keadilan dan belas kasih diperdamaikan; murka dan kasih sama-sama diungkapkan secara penuh – dan semua itu terjadi supaya kia dapat menikmati karya Kristus yang tidak terduga.

SEHARUSNYA HAL INI MENGHASILKAN KERENDAHAN HATI DAN RASA SYUKUR YANG BESAR DALAM DIRI KITA. RENDAH HATI, KARENA KITALAH PENYEBAB DERITA TAK TERPERIKAN YANG DIALAMI OLEH JURU SELAMAT KITA. RASA SYUKUR, KARENA IA MENANGGUNG MURKA ALLAH DENGAN RELA DAN PENUH KASIH SEHINGGA KITA TIDAK PERLU MENANGGUNGNYA.

 

  1. Beberapa Hal Tidak Akan Berubah

“Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan”

Rasa cukup dengan apa yang kita miliki jauh lebih bernilai daripada segala hal yang tidak kita miliki. ORANG YANG HIDUP ATAS DASAR JASA TIDAK AKAN PERNAH MERASA CUKUP. Satu hari ia menganggap Allah tidak mengganjarnya secara adil, hari lain ia takut kehilangan segala harapan untuk mendapat ganjaran. Jauh lebih baik kita memungut pandangan Alkitab bahwa anugrah sama sekali tidak bergantung pada jasa kita, tetapi pada kebaikan Allah yang kekal dan maksudNya yang berdaulat. Saya lebih baik mempertaruhkan harapan akan berkat dan pengabulan dosa kepada kebaikan Allah yang kekal dan maksudNya yang berdaulat atas hidup saya daripada mengandalkan segala nilai jasa yang dapat saya himpun.

Dengan menekankan rasa cukup ini saya bukans sedang mengusulkan bahwa kita harus selalu puas dengan status quo di setiap wilayah hidup kita dan tidak perlu mendoakan atau mengusahakan perbaikan. Ingatlah bahwa Allah memang cenderung memberi kita segala hal yang baik secara murah hati. Tetapi bagi kita semua, ada hal-hal tertentu yang tidak akan berubah. Di wilayah-wilayah itulah kita harus belajar merasa cukup. Kita harus selalu menerima fakta bahwa Allah tidak berutang untuk memberikan hal yang berbeda kepada kita.

Terus terang, saya sendiri harus bergumul untuk mempelajari hal ini. Allah mengarunia saya tubuh jasmani yang memiliki kekurangan dalam beberapa hal jika dibandingkan dengan rata-rata orang. Ia telah memberi saya karunia-karunia rohani yang sebagian besar terletak di luar pelayanan organisasi tempat saya dipanggil untuk melayani. Keadaan-keadaan ini tidak akan berubah. Jadi, saya harus belajar merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepada saya. Saya belajar bersikap demikian dengan cara berfokus pada dua fakta: ALLAH TIDAK BERUTANG APAPUN KEPADA SAYA, DAN APA YANG DIBERIKANNYA KEPADA SAYA SEMATA-MATA DIBERIKAN OLEH ANUGRAHNYA.

 

  1. Penguasaan Diri

“Allah memberi kepada kita, roh kuasa, kasih dan penguasaan diri”

PENGUASAAN DIRI ADALAH PENGUASAAN ATAS DIRI SESEORANG. D.G. KEHL MENGGAMBARKANNYA SEBAGAI “KEMAMPUAN UNTUK MENGHINDARI HAL-HAL YANG BERLEBIHAN, UNTUK TINGGAL DALAM BATAS-BATAS YANG PANTAS”. BETHUNE MENYEBUTNYA “PENGATURAN YANG SEHAT ATAS KEINGINAN DAN SELERA KITA, MENCEGAHNYA JADI BERLEBIHAN”.

Tetapi penguasaan diri mencakup berjaga-jaga dalam rentang yang jauh lebih luas daripada sekedar menguasai selera dan keinginan tubuh kita. Kita harus menerapkan penguasaan diri juga dalam hal pikiran, emosi, dan perkataan. Penguasaan diri yang berkata ya kepada apa yang harus kita lakukan dan juga berkata tidak kepada apa yang tidak boleh kita lakukan. Sebagai contoh, saya jarang ingin belajar Alkitab ketika saya memulai suatu pelajaran. Terlalu banyak hal lain yang lebih mudah dilakukan secara mental, seperti membaca Koran, majalah, atau buku Kristen yang bagus. Sebab itu, ungkapan penguasaan diri yang perlu bagi saya adalah duduk menghadap meja ruang makan dengan Alkitab dan buku catatan di tangan lalu berkata kepada diri sendiri, “ayo kerjakan!”. Mungkin kedengarannya tidak begitu rohani, tetapi demikian juga pernyataan Paulus: “Aku melatih tubuhku dan menguasainya”.

Penguasaan diri itu perlu, karena kita sedang berperang melawan keinginan-keinginan berdosa kita. Yakobus menggambarkan bagaimana keinginan-keinginan itu menyeret dan membujuk kita ke dalam dosa. Petrus berkata bahwa keinginan-keinginan itu berperang melawan jiwa kita. Paulus menyebut keinginan-keinginan itu menyesatkan. Segala keinginan itu jadi demikian berbahaya Karen berdiam di dalam hati kita sendiri. Pencobaan-pencobaan dari luar tidak akan begitu berbahaya kalau tidak mendapat sekutu berupa keinginan dalam hati kita ini.

PENGUASAAN DIRI ADALAH CIRI HAKIKI KARAKTER ORANG SALEH YANG MEMAMPUKAN DIA TAAT KEPADA PERKATAAN TUHAN YESUS, “SETIAP ORANG YANG MAU MENGIKUT AKU HARUS MENYANGKAL DIRINYA, MEMIKUL SALIBNYA SETIAP HARI DAN MENGIKUT AKU”.

 

  1. Satu titik dalam waktu

“Aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri”.

Dalam Roma 5:1, Paulus berbicara tentang pembenaran kita dengan menggunakan kata kerja masa lalu: “Kita telah dibenarkan karena iman”. PEMBENARAN ADALAH PENGALAMAN DALAM SATU TITIK WAKTU YANG TERJADI PADA SAAT KITA MEMPERCAYAI KRISTUS SEBAGAI JURUSELAMAT”. Saya sadar bahwa banyak orang yang dibesarkan dalam rumah tangga Kristen tidak mengetahui saat itu secara tepat. Iman mereka kepada Kristus biasanya merupakan pengalaman berangsur-angsur. Jika keadaan anda seperti itu, saya hendak bertanya: Apakah hari ini anda mempercayai Kristus sebagai Juruselamat anda ? jika ya, artinya sudah pernah ada saat ketika anda dinyatakan benar di hadapan Allah. Saat itu hanya diketahui Allah sendiri, dan anda dapat meyakini fakta tersebut.

Peristiwa dalam satu titik waktu ini mempunyai faedah kekal bagi kita. Dalam Roma 5:2, Paulus menulis bahwa melalui Kristus “kita juga beroleh jalan masuk oleh iman ke dalam anugrah ini. Di dalam anugrah ini kita sendiri berdiri”. Anugrah ini adalah anugrah pembenaran, dan Paulus berkata bahwa kita berdiri di dalamnya, sekarang, hari ini. Oleh anugrahNya kita mendapat status dibenarkan, dan kita akan memiliki status itu selamanya. Status itu tidak pernah bisa diubah, sepanjang sisa umur kita dan sepanjang kekekalan, kita akan berdiri di hadapan Allah dalam keadaan dibenarkan. Dinyatakan benar dalam pandanganNya karena Ia telah memberikan kebenaran Kristus kepada kita.

Ada satu titik dalam waktu ketika kita mempercayai Kristus dan oleh iman dipersatukan dengan Dia sehingga kematianNya menjadi kematian kita, ketaatanNya menjadi ketaatan kita, kebenaranNya menjadi kebenaran kita. Jika ini benar dalam kasus anda, maka anda punya jawaban untuk pertanyaan terpenting yang dapat anda ajukan: bagaimana saya, manusia berdosa, dapat memiliki hubungan yang benar dengan Allah yang kudus dan adil ? anda berdiri di hadapan Allah hari ini dan dinyatakan benar olehNya untuk selamanya. Anda sekarang memiliki hubungan yang benar itu dengan Allah.

 

  1. Realitas Saat ini

“jadi, karena kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia”

Sayang sekali banyak orang percaya tidak hidup dengan anggapan bahwa pembenaran adalah keadaan permanen. Mereka menceraikan harapan akan hidup kekal nanti dari hubungan dengan Allah saat ini. Mereka berharap ‘mengenakan’ jubbah. Kebenaran Kristus pada saat kematian saja. Sementara itu, dalam bidang ini mereka merasa diterima Allah berdasarkan kinerja tugas Kristiani yang mereka lakukan atau tindakan mereka menghindari dosa tertentu. “jubbah kebenaran” mereka untuk hidup sehari-hari bukanlah jubbah dari Kristus, melainkan jubah yang mereka rajut sendiri dengan kinerja mereka.

Sebagai kontrasnya, Rasul Paulus hidup dengan terus menyadari pembenaran. Dalam Galatia 2:20, ia menulis: “Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku”. DALAM KONTEKS INI PAULUS SEDANG BERBICARA TENTANG IMANNYA KEPADA KRISTUS UNTUK MENDAPAT PEMBENARAN”. Tetapi ini bukanlah peristiwa di masa lalu. Ia sedang berbicara bahwa sekarang pun, setiap hari, ia mengalami hidup dalam keadaan dibenarkan.

SEPERTI DITULIS GEORGE SMEATON: “JELAS, INI BUKAN BAHASA IMAN UNTUK MEMPEROLEH PEMBENARAN, MELAINKAN BAHASA MANUSIA YANG SUDAH DIBENARKAN, DAN BERMEGAH KARENA MERASA DITERIMA DAN MENGALAMI ANUGRAH”. Bagi Paulus, pembenaran bukan sekedar peristiwa satu titik dalam waktu yang terjadi di masa lalu, melainkan realitas saat ini yang membuatnya bersukacita setiap hari. Paulus melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Ia menolak setiap kepercayaan kepada kinerjanya sendiri atau setiap kecemasan karena kurangnya kinerja. Sebaliknya, oleh iman, ia memandang kepada Yesus Kristus dan kebenaranNya untuk merasa benar di hadapan Allah hari ini, besok dan sepanjang kekal.

 

  1. Kepentingan Egois

“Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya”

Keegoisan mudah kita amati dalam diri orang lain tetapi sangat sulit kita kenali dalam diri sendiri. Lebih lagi, ada kadar-kadar keegoisan dan juga kadar-kadar kehalusan pengungkapannya. Keegoisan seseorang mungkin nyata dan jelas, sedang keegoisan kita mungkin lebih samar dan halus.

Beberapa wilayah keegoisan dapat diamati dalam diri orang percaya. Salah satunya adalah keegoisan dalam hal kepentingan kita. Paulus menulis dalam Filipi 2:4, “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”. Ketika menggunakan kata kepentingan, tak ragu Paulus merujuk kepada keprihatinan dan kebutuhan orang lain. Tetapi saya akan menggunakannya dalam pengertian sempit yang merujuk kepada hal-hal yang kita pentingkan.

Apakah kepentingan kita ? pada tahap hidup kami sekarang, saya mungkin mementingkan apa yang saya mau, dan hal-hal yang menjadi hobi yang berlebihan, seharusnya hal ini tidak dilakukan, tetapi apa yang ada lebih baik digunakan untuk pekerjaan Tuhan.

KADAR KEEGOISAN DALAM HAL KEPENTINGAN DAPAT ANDA UJI DENGAN CARA MERENUNGKAN PERCAKAPAN ANDA DENGAN SESEORANG. TANYALAH DIRI ANDA, BERAPA BANYAK WAKTU YANG ANDA HABISKAN UNTUK MEMBICARAKAN KEPENTINGAN KITA SENDIRI DIBANDINGKAN DENGAN WAKTU YANG ANDA GUNAKAN UNTUK MENDENGARKAN LAWAN BICARA ANDA.

 

  1. Bagaimana Kita Mendapatkan Iman ?

“Dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup kekal menjadi percaya”.

Jika ada satu kebenaran yang dirasa pasti oleh Paulus, itu adalan antithesis mutlak antara pembenaran berdasarkan iman dan pembenaran berdasarkan memegang Hukum Taurat. Itulah sebabnya iman melibatkan tindakan menolak bulat-bulat kepercayaan kepada kebaikan diri sendiri (memegang Hukum Taurat) sekaligus bersandar total kepada Yesus Kristus dan kebenaranNya.

DI SINILAH TIMBUL PERTANYAAN: BAGAIMANA KITA MENDAPATKAN IMAN ? APAKAH IMAN MUNCUL SEBAGAI TANGGAPAN KECERDASAN BELAKA TERHADAP BERITA INJIL ? ATAU, APAKAH ORANG-ORANG KITA YANG MEMBAGIKAN INJIL KEPADA ORANG LAIN PERLU MENGUASAI SENI MENYAKINKAN ORANG ATAU MEMPELAJARI TEKNIK MENJUAL ? BAGAIMANA ORANG MENDAPATKAN IMAN ?

JAWABAN RINGKASNYA ADALAH: IMAN MERUPAKAN KARUNIA ALLAH. IMAN HARUS DIBERIKAN ALLAH. PEPATAH LAMA MENGATAKAN: ORANG YANG DIYAKINKAN BERLAWANAN DENGAN KEHENDAKNYA MASIH MENGANUT PANDANGAN YANG SAMA. Apakah anda pernah berusaha meyakinkan seseorang untuk berubah pikiran ketika orang itu tidak mau berubah ? anda bisa mengajukan alasan-alasan yang punya dukungan kuat dan fakta-fakta yang tidak dapat dibantah, tetapi jika orang itu tidak menanggapi anda, ia tidak akan berubah. Ia bersikeras secara mental. Nah, jika hal ini benar dalam urusan hidup sehari-hari, betapa lebih benar lagi di ranah rohani!.

Allah tidak mewakili kita melakukan tindakan percaya. Namun, melalui RohNya, Ia menciptakan hidup rohani dalam kita sehingga kita dapat percaya iman adalah karunia Allah. IMAN ADALAH BAGIAN DARI PAKET KESELAMATAN UTUH YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA MELALUI KARYA KRISTUS BAGI KITA DAN KARYA ROH KUDUS DALAM KITA. IMAN BUKANLAH SUMBANGAN KITA, KALAU BOLEH DISEBUT BEGITU, BAGI RENCANA KESELAMATAN ALLAH YANG AGUNG. ALLAH MELAKUKAN SEMUANYA. IMAN ADALAH BAGIAN DARI KEKAYAAN KRISTUS YANG TAK TERDUGA.

 

  1. Satu Pilihan Setiap Kali

“kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan”.

Praktik menanggalkan sikap dan kebiasaan berdosa serta mengenakan karakter yang serupa dengan Kristus melibatkan serangkaian pilihan yang tetap. Dalam setiap situasi kita memilih arah yang akan kita tempuh. Melalui pilihan-pilihan inilah kita mengembangkan kebiasaan hidup yang serupa dengan Kristus. Kebiasaan berkembang karena pengulangan. Di kancah pilihan moralitas kita mengembangkan pola-pola kebiasaan rohani.

Dalam Roma 6:19, kita melihat pengembangan kebiasaan moral ini di satu atau lain arah. “Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian pula kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan”. Makin berdosa orang percaya di Roma, makin cenderung mereka kepada dosa. Dengan membuat pilihan-pilihan berdosa mereka sebenarnya sedang terus memperdalam pola kebiasaan dosa mereka.

APA YANG BENAR BAGI ORANG ROMA MASA ITU BENAR JUGA BAGI KITA HARI INI. DOSA CENDERUNG MENGERUHKAN AKAL SEHAT KITA, MENUMPULKAN HATI NURANI KITA, MERANGSANG KEINGINAN KITA YANG BERDOSA, DAN MELEMAHKAN KEHENDAK KITA. KARENA ITU, SETIAP DOSA YANG KITA LAKUKAN AKAN MEMPERKUAT KEBIASAAN BERDOSA DAN MEMBUAT KITA MUDAH MENYERAH DI HADAPAN PENCOBAAN YANG SAMA PADA KALI BERIKUTNYA.

Paulus ingin orang percaya di Roma berbelok ke arah lain dan mengembangkan kebiasaan hidup yang saleh. Ia berkata: “Demikian pula kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan”. KEBENARAN, DALAM AYAT INI, MERUJUK KEPADA KEBENARAN ETIS – KELAKUAN YANG BENAR – YANG HARUS KITA PRAKTIKKAN SETIAP HARI. KALAU KEBENARAN DALAM AYAT INI MERUJUK KEPADA KELAKUKAN KITA, MAKA PENGUDUSAN MERUJUK KEPADA KARAKTER KITA. JADI, KITA MENGEMBANGKAN KARAKTER KUDUS MELALUI PERBUATAN-PERBUATAN KEBENARAN. KARAKTER YANG KUDUS KEMUDIAN DIKEMBANGKAN MELALUI SATU PILIHAN SETIAP KALI, SEWAKTU KITA MEMILIH BERBUAT BENAR DALAM SETIAP SITUASI DAN KEADAAN YANG KITA HADAPI SETIAP HARI.

 

  1. Melihat Penyebab Kemarahan.

KETIKA MENGHADAPI AMARAH KITA SENDIRI, KITA PERLU SADAR BAHWA TIDAK ADA ORANG LAIN YANG MEMBUAT KITA MARAH. Perkataan atau tindakan orang lain bisa memberi kita kesempatan untuk marah, tetapi penyebabnya terdapat di dalam diri kita – biasanya kesombongan, kepentingan diri atau keinginan untuk mengendalikan.

Kita dapat memilih bagaimana kita akan menanggapi tindakan berdosa orang lain lain kepada kita. Pertimbangkanlah perkataan Petrus kepada para budak dalam jemaat abad pertama yang sering kali melayani tuan yang kejam. kita mungkin mengira amarah mereka dapat dibernarkan, tetapi petrus berkata kepada mereka, “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. Sebab adalah anugrah jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung..jika kamu berbuat baik dank arena itu kamu harus menderita, maka itu adalah anugrah di hadapan Allah”.

Petunjuk Petrus kepada para budak adalah terapan khas dari asas Alkitab yang lebih luas: ketika menanggapi perlakuan tidak adil, kita harus “mengingat Allah” – memikirkan kehendak dan kemuliaanNya. Bagaimana Allah ingin saya menanggapi situasi ini? Bagaimana tanggapan saya dapat memuliakan Allah sebaik-baiknya ? apakah saya percaya bahwa situasi sulit atau perlakuan tak adil ini berada di bawah kendali Allah yang berdaulat ? apakah saya percaya bahwa Allah, dalam hikmat dan kebaikanNya yang tak terbatas, menggunakan keadaan sulit ini untuk membuat saya makin serupa dengan gambar Kristus ?. saya cukup realistis untuk tahu bahwa kita tidak dapat menelusuri daftar pertanyaan seperti itu ketika emosi memanas dalam situasi tegang. Tetapi kita dapat dan harus mengembangkan kebiasaan berpikir demikian.

 

  1. Berdua Lebih Baik Daripada Seorang Diri.

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”

Karena mematikan dosa adalah pekerjaan sulit, kita perlu bantuan satu atau dua orang teman untuk turut bergumul dengan kita. Teman-teman ini haruslah orang percaya yang mendukung komitmen kita dalam mengejar kekudusan. Mereka pun harus rela terbuka kepada kita tentang pergumulan mereka sendiri. Azas ini diungkapkan dengan baik dalam Pengkhotbah 4:9-10, “Berdua lebih baik daripada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya…”.

Dalam peperangan mematikan dosa, kita perlu saling mendorong, menantang dan mendoakan. Dalam Perjanjian Baru kita diajari untuk menegur seorang akan yang lain, menasehati seorang akan yang lain, saling mengaku dosa, dan saling mendoakan.

Meskipun berterap dalam setiap aspek hidup Kristen, secara khusus azas ini berfaedah dalam mengejar kekudusan. Paling tidak kita memerlukan satu orang yang sehati untuk berdoa bersama kita, mendorong kita, dan kalau perlu menegur kita. Ia haruslah orang yang juga bergumul untuk mematikan dosa dalam hidupnya. Dengan demikian ia dapat memahamii pergumulan kita dan tidak terkejut oleh dosa kita yang terdalam. KONON ORANG PURITAN BIASA MEMINTA SEORANG TEMAN KARIB KEPADA ALLAH UNTUK BERBAGI SEGALA SESUATU. INILAH JENIS TEMAN YANG HARUS KITA DOAKAN DAN CARI. IA AKAN MEMBANTU KITA DALAM PERGUMULAN MEMATIKAN DOSA DALAM HIDUP KITA. NAMUN, INGATLAH BAHWA INI MERUPAKAN USAHA SALING BANTU. SETIAP ORANG HARUS BERKOMITMEN UNTUK MEMBANTU DAN MENERIMA BANTUAN.

 

  1. Terkadang Gagal

“Maksud Kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan”

Ketika mulai mematikan dosa tertentu, kita akan lebih sering gagal daripada berhasil. Di sinilah kita perlu sadar bahwa kita berdiri di hadapan Allah berdasarkan anugrahNya, bukan berdasarkan kinerja kita.

Saya sadar bahwa tipis saja batasannya antara memakai anugrah sebagai alasan untuk berdosa dengan memakainya sebagai obat bagi dosa kita. JOHN OWEN PUNYA WAWASAN TAJAM TENTANG HAL INI: “DI SINILAH TIPUAN DOSA TURUN TANGAN…IA MENYAKINKAN KITA UNTUK BERPIKIR LAMA-LAMA TENTANG IDE ANUGRAH DAN MENGALIHKAN PERHATIAN KITA DARI PENGARUH YANG DIBERIKAN ANUGRAH UNTUK MENERAPKAN ANUGRAH SECARA TEPAT DALAM HIDUP KUDUS. DARI DOKTRIN JAMINAN PENGAMPUNAN DOSA, SECARA HALUS IA MENUDUH MELALAIKAN SEBAGAI DOSA..JIWA – YANG HARUS SERING KEMBALI KEPADA INJIL ANUGRAH KARENA ADANYA KESALAHAN – MEMBIARKAN ANUGRAH JADI LUMRAH DAN BIASA. SETELAH MENEMUKAN OBAT YANG MUJARAB BAGI LUKANYA, IA KEMUDIAN MEMBIARKANNYA BEGITU SAJA.

Pertobatan adalah jalan keluar supaya kita dapat tinggal di sisi yang benar dari batasan tipis antara memakai dan menyalahgunakan anugrah. Jalan pertobatan adalah dukacita yang menurut kehendak Allah. Dukacita ini dihasilkan ketika kita berfokus kepada sifat sejati dosa sebagai suatu pelanggaran terhadap Allah, bukannya sesuatu yang membuat kita merasa bersalah. Dosa adalah penghinaan kekudusan Allah. Dosa mendukakan Roh KudusNya dan membuat Tuhan Yesus Kristus dilukai lagi. Dosa juga memuaskan iblis, musuh besar Allah. Merenungkan sifat alami dosa akan menghasilkan dukacita yang menurut kehendak Allah, yang kemudian akan memimpin kita kepada pertobatan.

Setelah bertobat, kita harus mengimani darah Kristus yang menyucikan. Darah inilah satu-satunya yang dapat menyucikan hati nurani kita. Nyatanya, kita dibawa kepada pertobatan oleh iman kepada Kristus dan jaminan kemanjuran darahNya yang menyucikan.

 

  1. Kenalilah Diri Anda

“Dosa sudah mengintip di depan pintu, ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya”.

Keinginan jahat di dalam diri kita terus mencari peluang untuk mengungkapkan diri. Keinginan ini seperti radar yang antenanya terus memindai lingkungannya, mencari pencobaan yang bisa ditanggapinya. Beberapa tahun lalu, ketika saya masih memanjakan keinginan makan es krim (sekarang tidak lagi), mata saya akan tertarik secara otomatis kepada ice cream dan mengoleksi kacamata. Ajaib, saya bisa melewati sejumlah papan reklame toko tanpa menyadarinya, tetapi tanda toko ice cream dan kacamata tak pernah luput dari mata saya.

Belum lama ini saya tertarik kepada suatu model model. Mereknya sama dengan mobil yang sudah saya miliki, hanya modelnya lebih bagus dan harganya lebih mahal. Ketika saya tertarik kepadanya, saya selalu memperhatikan kalau ada mobil semacam itu yang saya jumpai di jalan. Saya mulai membayang-bayangkan alasan mengapa saya butuh model yang lebih bagus itu. Mobil itu lebih luas, lebih nyaman untuk perjalan jauh, dan punya transmisi yang lebih baik. Memang pada akhirnya saya menyimpulkan, dengan sedikit segan, bahwa saya sebenarnya tidak membutuhkan mobil itu. Tetapi antenna saya telah tersetel ke mobil model tersebut sepanjang waktu itu.

Mungkin memanjakan keinginan makan ice cream dan terpaku oleh model mobil yang lebih baik tidak kelihatan seganas pencobaan yang anda hadapi. Anda mungkin berkata, ayolah, bicaralah tentang dosa yang lebih nyata – ketamakan, nafsu, dengki, kebencian, bohong kepada pelanggan, atau mencontek. Yah, pertama-tama sekali, memanjakan keinginan makan ice cream dan asyik memikirkan mobil yang lebih bagus jadi tidak begitu ganas, tetapi keduanya menunjukkan azas: daging kita selalu mencari peluang untuk memuaskan dirinya menurut keinginan berdosa tertentu yang dimiliki oleh setiap kita.

 

  1. Mengapa Kita Khawatir.

“Janganlah khawatir tentang hidupmu”

Mengapa kita khawatir? Karena kita tidak percaya. Kita tidak sungguh-sungguh yakin bahwa Yesus yang dapat menjaga burung pipit di udara tahu di mana barang-barang kia yang hilang, atau bagaimana kita akan membayar tagihan perbaikan. Atau kalaupun kita percaya bahwa ia dapat membebaskan kita dari kesulitan-kesulitan kita, kita ragu apakah ia akan. Kita biarkan iblis menaburkan benih keraguan dalam pikiran kita tentang kasih dan kepeduliaanNya kepada kita.

PENANGKAL BESAR BAGI KECEMASAN ADALAH DATANG KEPADA ALLAH DENGAN BERDOA TENTANG SEGALA SESUATU. “JANGANLAH HENDAKNYA KAMU KHAWATIR TENTANG APA PUN JUGA, TETAPI NYATAKANLAH DALAM SEGALA HAL KEINGINANMU KEPADA ALLAH DALAM DOA DAN PERMOHONAN DENGAN UCAPAN SYUKUR.  Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Tidak ada yang terlalu besar untuk ditanganiNya, dan tidak ada yang terlalu kecil sehingga luput dari perhatianNya. Paulus berkata bahwa kita harus datang kepada Allah “dengan ucapan syukur”. Kita harus bersyukur karena kesetiaanNya di masa lalu yang membebaskan kita dari berbagai kesukaran (MENGINGAT MASA LALU ADALAH PERANGSANG BESAR UNTUK BERIMAN DI MASA KINI). KITA HARUS BERSYUKUR KARENA FAKTA IA MENGENDALIKAN SETIAP KEHIDUPAN KITA DAN TIDAK ADA YANG BISA MENYENTUH KITA TANPA IZIN DARINYA. Kita harus bersyukur karena dalam hikmatNya yang tak terbatas, Ia sanggup bekerja dalam keadaan itu untuk kebaikan kita. Kita dapat bersyukur karena Ia tidak akan mengizinkan kita dicobai melebihi kekuatan kita.

Hasil yang dijanjikan bukanlah pembebasan melainkan damai sejahtera dari Allah. Salah satu alasan kita tidak menemukan damai sejahtera ini adalah karena kita terlalu sering kita tidak puas dengan apa pun selain pembebasan dari kesukaran. Tetapi Allah, lewat Paulus, menjanjikan kita damai sejahtera, suatu damai yang tidak dapat dilepaskan. Damai itu akan memelihara kita dan pikiran kita terhadap kecemasan yang cenderung timbul dalam diri anda dan saya.

 

  1. Dosa Kekuatiran.

“Ia memelihara kamu”

Ketika kita berkata kepada orang lain, “jangan kuatir”, kita sedang mencoba menyemangati atau menasehati dia dengan cara yang menolong. Tetapi ketika Allah bersabda kepada kita dalam FirmanNya, “jangan kuatir”. Sabda itu memiliki kuasa sebagai perintah moral. Adalah kehendak moralNya bahwa kita tidak kuatir. Atau, kalau mau dikatakan secara lebih gambling kekuatiran adalah dosa.

Kekuatiran adalah dosa karena dua alasan. Pertama, itu sikap yang tidak mempercayai Allah. Dalam Matius 6:25-34, Yesus berkata bahwa Bapa kita yang di Surga mengurus burung di udara dan bunga bakung di padang. Jika demikian, tidakkah ia akan lebih lagi mengurus kebutuhan duniawi kita ? ketika saya menyerah kepada kekuatiran, saya sebetulnya sedang tidak percaya bahwa Allah mengurus saya.

Kekuatiran juga berarti tidak menerima pemeliharaan Allah – pengaturanNya terhadap segala keadaan dan peristiwa di alam semesta demi kemuliaanNya dan kebaikan umatNya. Sebagian orang percaya sulit menerima fakta bahwa Allah memang mengatur segalanya. Bahkan orang-orang yang mempercayai kebenaran mulia ini sering kehilangan pandangan mengenainya. Kita berfokus pada penyebab kekuatiran kita saat ini, bukannya mengingat bahwa penyebab itu pun berada di bawah kendali Allah.

KEKUATIRAN ADALAH SALAH SATU COBAAN YANG PALING GIGIH MERUNDUNG SAYA. JIKA ANDA JUGA SERING DICOBAI KEKUATIRAN SEPERTI SAYA, BISAKAH ANDA MENGENALI JENIS-JENIS KEADAAN YANG CENDERUNG MEMBUAT ANDA KUATIR ? APAKAH ANDA SEPERTI SAYA ? KESAL JIKA KEHENDAK PEMELIHARAAN ALLAH BERBEDA DENGAN AGENDA KITA ? JIKA YA, SAYA MENDORONG ANDA UNTUK MEMOHON IMAN KEPADA ALLAH.

Dengan iman itu anda dapat percaya bahwa kehendak pemeliharaan Allah dalam keadaan yang anda hadapi mengalir dari hikmat dan kebaikanNya yang tak terbatas. Kehendak itu pada akhirnya dimaksudkan untuk kebaikan kita. Mintalah Allah memberi anda hati yang tunduk kepada kehendak pemeliharaanNya.

 

  1. Bukan Suatu Pilihan.

“kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan”.

Alkitab berbicara tentang dua aspek kekudusan. Ada kekudusan yang kita miliki di dalam Kristus di hadapan Allah da nada kekudusan yang harus kita kejar. Kedua aspek kekudusan ini saling melengkapi, sebab kita diselamatkan untuk kekudusan: “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus”. Kepada orang Korintus, Paulus menulis: “Kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus”. Kata dikuduskan berarti “dijadikan kudus”. Melalui Kristus kita dijadikan kudus dalam kedudukan kita di hadapan Allah dan kita dipanggil untuk menjadi kudus dalam hidup sehari-hari.

Dalam Ibrani 12:14, kita disuruh menganggap serius pentingnya kekudusan yang pribadi dan praktis. Sewaktu kita diselamatkan, Roh Kudus datang ke dalam hidup kita, dan ia datang untuk menjadikan praktik-praktik kita kudus. Jadi, jika hati kita sedikitpun tidak rindu menjalani hidup kudus yang menyenangkan Allah, kita perlu sungguh-sungguh mempertanyakan kemurnian iman kita kepada Kristus.

Pada awalnya keinginan akan kekudusan mungkin hanya berupa percikan. Tetapi percikan itu harus berkembang menjadi nyala api – keinginan menjalani hidup yang sepenuhnya menyenangkan Allah. Ketika Allah menyelamatkan kita melalui Kristus, Ia bukan saja menyelamatkan kita dari hukuman dosa tetapi dari kekuasaannya. USKUP RYLE BERKATA: YA, SAYA RAGU APAKAH KITA BOLEH BERKATA BAHWA ORANG BISA BERTOBAT TANPA DIKUDUSKAN KEPADA ALLAH. TAK RAGU LAGI, IA DAPAT LEBIH DIKUDUSKAN, DAN AKAN LEBIH DIKUDUSKAN SEWAKTU ANUGRAH YANG DITERIMANYA MENINGKAT. TETAPI JIKA IA TIDAK DIKUDUSKAN KEPADA ALLAH SEWAKTU IA BERTOBAT DAN LAHIR BARU. SAYA TIDAK TAHU APA ARTINYA PERTOBATAN.

  1. Disiplin

Tidak ada seorang pun suka didisiplin. Ketika seorang istri dan suami mendisiplin anak-anaknya, mereka seringkali tidak mau mengerti, dan mereka menganggapnya sebagai keluhan yang tidak perlu. Seolah-olah wajah mereka ditutupi dengan kerudung karena mereka tidak dapat melihat bahwa orang tua mereka melakukan hal-hal itu demi kebaikan mereka. Saya merasa orang Kristen adalah seperti itu di hadapan Allah. Ia mengganjar kita demi kebaikan kita tetapi kita tidak dapat mengerti: focus kita hanyalah penderitaan. ADALAH LEBIH BAIK JIKA ORANG KRISTEN SEPERTI SEORANG PEREMPUAN KECIL, YANG SETELAH DIHUKUM OLEH AYAHNYA, NAIK KE PANGKUANNYA DAN MERANGKUL AYAHNYA. KEMUDIAN BERKATA: “PAPAH, SAYA SUNGGUH MENGASIHIMU”,”MENGAPA KAMU MENGASIHI SAYA, ANAKKU?”, PAPAH ITU BERTANYA. “KARENA PAPAH BERUSAHA UNTUK MEMBUAT KAMU MENJADI LEBIH BAIK”.

Di dalam Alkitab, Allah menggunakan penderitaan untuk mendisiplin dan mengoreksi umatNya. Orang percaya adalah objek dari teguran Allah melalui kesesakan. Misalnya, di dalam Kitab Hosea, Allah menegur dengan keras orang-orang Israel karena kemurtadan mereka dengan berkata: “Aku akan pergi pulang ke tempatKu, sampai mereka mengaku bersalah dan mencari wajahKu; Dalam kesesakannya mereka akan merindukan Aku” (Hosea 5:15). Hosea menanggapinya dengan mendorong umat, “Mari kita akan berbalik kepada Tuhan, sebab Dialah yang telah memukul dan akan membalut kita” (Hosea 6:1). Secara sederhana, Allah telah menyesakkan Israel karena penyembahan berhala mereka. Dengan cara demikian, Ia sedang memanggil bangsa itu kembali kepadaNya- Dia sedang mengoreksi umatNya. TINDAKAN ALLAH MENDISPLIN UMATNYA MENGAMBIL BERBAGAI BENTUK DAN MEMILIKI TUJUAN PULA DI DALAM ALKITAB. MANFAAT APAKAH YANG DIPEROLEH UMATNYA MELALUI DISIPLIN YANG IA BERIKAN KEPADA MEREKA ? DAN MENGAPAKAH DIA MENGOREKSI ANAK-ANAKNYA ?.

“Allah Mengasihi UmatNya”

Menurut Firman Tuhan, Allah adalah Bapa Sorgawi yang baik bagi umatNya (Mazmur 73:1), memelihara mereka, dan mengasihi mereka (Mazmur 86:5). Ini adalah metafora yang indah dan kekeluargaan di dalam Alkitab, dan ini cukup umum. Sebagaimana dikatakan oleh sang pemazmur, “Seperti Bapa sayang kepada anak-anakNya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mazmur 103:13). Yesus katakana bahwa kita seharusnya berdoa kepada “Bapa kami di Sorga”” (Matius 6:9).

Bagian dari kasih seorang bapa kepada putranya di dalam konteks keluarga adalah disiplin. Penulis kitab Amsal mengatakan kepada kita, “Jangan menolak didikan .. karena engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati” (Amsal 23:13-14). Dan, “Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya, tetapi seorang pencemooh tidak mendengarkan hardikan” (Amsal 13:1). Orang Kristen harus mengharapkan didikan dari Bapa Surgawi. Sebagaimana dikatakan oleh penulis Kitab Ibrani, “Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak. Dimanakah terdapat anak yang tidak dihajar ayahNya?” (Ibrani 12:7). Dan Allah mendisiplin umatNya karena Ia mengasihi mereka: ‘Hai, AnakKu, janganlah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatanNya. Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihiNya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi” (Amsal 3:11-12). Berhubungan dengan 40 tahun pengembaraan di padang gurun, Musa menjelaskan kepada umat Israel, ‘Maka haruslah engkau insaf, bahwa Tuhan Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anakNya’.

Ketika kita mengerti bahwa penderitaan adakalanya merupakan disiplin yang penuh kasih dari Allah bagi kita, maka penderitaan lebih mudah diatasi, karena hal itu pada akhirnya adalah demi kebaikan kita. Sesungguhnya, “KETIKA KITA PENUH DENGAN PANDANGAN YANG DEMIKIAN TENTANG TUHAN, TIDAK ADA SEHARIPUN YANG BERLALU TANPA TERLIHAT SESUATU DARI KEBAPAAN DI DALAMNYA, YANG KITA TIDAK PERNAH PERHATIKAN SEBELUMNYA. SEGALA SESUATU TENTANG DIRI KITA BERUBAH DERAJAT DEMI DERAJAT. TANGGUNG  JAWAB MENJADI HAK ISTIMEWA, RASA SAKIT MELEMBUTKAN HATI DENGAN KERENDAHAN HATI YANG MENGASYIKKAN, DAN DUKA ADALAH KEHADIRAN SURGAWI” (F.W.FABER). ingat, apa yang Rasul Paulus nyatakan dalam Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

 

 

 

  1. Disiplin Untuk Pemurnian

Allah mendisiplin anak-anakNya untuk memurnikan karakter mereka. Penderitaan adalah salah satu cara yang Ia gunakan untuk pengudusan umatNya. “ADAKALANYA KITA BERTANYA-TANYA, TENTANG BEBERAPA PERLAKUAN ALLAH TERHADAP UMAT PILIHANNYA, MENGAPA IA HARUS MENCAMPAKKAN MEREKA BERULANG KALI KE DALAM WADAH PENCOBAAN. NAMPAK BAGI KITA BAHWA MEREKA SUDAH MENJADI EMAS MURNI. TETAPI IA MELIHAT DI DALAM DIRI MEREKA APA YANG TIDAK KITA LIHAT, KEMURNIAN YANG SELANJUTNYA ADALAH MUNGKIN…”(TRENCH).

Ajaran bahwa Allah membangun karakter di dalam umatNya dengan mengganjar mereka melalui penderitaan adalah prinsip Alkitab. Sang pemazmur mengenali kebenaran ini ketika dia berkata:

Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah. Tela memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak. Engkau telah membawa kami ke dalam jarring, mengenakan beban pada pinggang kami. Engkau telah membiarkan orang-orang melintasi kepala kami. Kami telah menempuh api dan air, tetapi Engkau telah mengeluarkan kami sehingga bebas. Aku akan masuk ke dalam rumahMu dengan membawa korban-korban bakaran, aku akan membayar kepadaMu nazarku…(Mazmur 66:10-13).

Beberapa tahun yang lalu seorang wanita di dalam jemaat, jatuh sakit yang sangat parah. Di atas tempat tidurnya dia mengatakan kepada pendeta: “Allah mengetahui bahwa saya membutuhkan penyakit ini supaya saya dapat berhenti menyimpang dan menjadi semakin serupa dengan Yesus”. Dalam sebuah surat kepada salah satu jemaatnya yang terbaring di atas tempat tidur karena sakit parah, Robert Murray McCheyne menulis:

SAYA INGIN MENDENGAR KABAR DARI KAMU, DAN KHUSUSNYA KETIKA ALLAH SEDANG MENYATAKAN DIRINYA KEPADA JIWAMU.SEMUA PERBUATANNYA ADALAH SANGAT INDAH. SESUNGGUHNYA, ADALAH MENGHERANKAN BAGAIMANA DIA MENGGUNAKAN PENDERITAAN UNTUK MEMBUAT KITA SEMAKIN MERASAKAN KASIHNYA. APAKAH KESULITAN MENGERJAKAN KESABARAN DI DALAM DIRI KAMU ?, APAKAH ITU MEMBAWA KAMU LEBIH DEKAT KEPADA TUHAN YESUS – UNTUK BERLINDUNG, SEMAKIN DALAM DI BALIK BATU ITU ?, APAKAH ITU MEMBUAT KAMU LEBIH TENANG DAN MENGETAHUI BAHWA IA ADALAH ALLAH?.. AH! SESUNGGUHNYA,KAMU MEMPEROLEH PERBAIKAN DARI KESULITAN JIKA HAL ITU TELAH MEMBAWA KAMU MENGALAMI DEMIKIAN.

 

  1. Disiplin sebagai persiapan

A.D.VAIL PERNAH MEMBERI KOMENTAR BAHWA ADAKALANYA ALLAH BERUSAHA MENCOBAI KITA KETIKA IA INGIN KITA MEMPEROLEH PENGERTIAN YANG LEBIH BESAR. NAMPAK, SESUNGGUHNYA, BAHWA ITULAH CARA ALLAH YANG UMUM UNTUK MEMPERSIAPKAN ORANG-ORANG UNTUK KEGUNAAN YANG LEBIH LUAS MELALUI DISIPLIN PRIBADI DARI PERCOBAAN. Musa adalah contoh Alkitabiah yang sangat baik tentang prinsip ini yang bekerja. Dalam Keluaran 3:1, Musa digambarkan sedang menggembalakan domba-domba di padang gurun. Dan ini bukanlah pekerjaan yang sementara, tetapi dia melalukan pekerjaan ini selama 40 tahun. Dia telah beralih dari posisi kerajaan di Mesir, anak dari putri Firaun menjadi gembala yang rendah. Mungkin itu khususnya sangat merendahkan Musa karena segala gembala kambing domba adalah suatu kekejian bagi orang Mesir (Kejadian 46:34). Dia nampaknya sosok yang begitu tragis. Dia telah kehilangan posisi yang penuh kuasa dan otoritas, kemasyurannya, kekayaannya. Dan dia sedang berada di posisi terendah di tanah yang kering dan tandus.

Tetapi, tunggu! Kedaulatan Allah sedang bekerja di sini. Dia sedang membimbing, memimpin, mengarahkan dan membentuk peristiwa-peristiwa bagi tujuan-tujuanNya. Karena di sinilah seorang gembala yang miskin dan berdosa yang suatu hari nanti menjadi gembala bangsa Israel. Dan, pada kenyataannya, 40 tahun itu dengan pekerjaan yang merendahkan dan latihan bagi tugas menggembalakan kawanan domba Tuhan melalui tanah yang kering dan tandus itu.

Hal itu seperti vaksinasi untuk penyakit cacar air atau sakit penyakit lainnya. Suntikan itu sendiri adalah tidak menyenangkan, efek samping sangat tidak nyaman, dan kenyataannya adalah bahwa seseorang diberikan dosis kecul dari penyakit tersebut. Akan tetapi, ketika diperhadapkan dengan sakit penyakit tersebut, system kekebalan tubuh seseorang mampu melawannya karena kekebalan yang semakin bertambah. Dengan demikian, system kekebalan seseorang dilatih dan dipersiapkan. Hal ini sama seperti kehidupan Kristen, sebagaimana Rasul Paulus mengatakan:

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus ? penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang ? seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau, kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan”. Tetapi dalam semuanya itu, kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita (Roma 8:35-37).

 

  1. Disiplin Sebagai Pengajaran

THOMAS BROOKS PERNAH MENGATAKAN, DIDIKAN ALLAH ADALAH PENGAJARAN-PENGAJARAN, CAMBUKANNYA ADALAH PELAJARAN-PELAJARAN KITA, GANJARAN-GANJARANNYA ADALAH GURU-GURU KITA, HUKUMAN-HUKUMANNYA ADALAH TEGURAN-TEGURAN KITA!. Dan untuk memperhatikan hal ini, orang-orang Ibrani dan Yunani mengekspresikan ganjaran dan pengajaran dengan satu kata yang sama, karena yang kedua adalah akhir yang sesungguhnya dari yang pertama. Memang istilah untuk disiplin atau ganjaran dalam bahasa Ibrani mengandung ide dari memberlakukan pengaruh yang mendidik terhadap orang lain (Brown Driven, 416). Seringkali adalah melalui penderitaan, dimana kita belajar sesuatu tentang hati kita sendiri, tentang karakter Allah, dan tentang dunia di sekeliling kita.

Di dalam kitab Pengkhotbah, Salomo mengajukan pertanyaan: “..apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek hidupnya ?” (Pengkhotbah 6:12). Dia kemudian membahas panjang lebar untuk menjawab pertanyaan yang penting ini. Satu jawaban yang dia sediakan terdapat di pasal 7 ayat 2.

Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia, hendaklah orang yang hidup memperhatikannya

Pernyataan ini sulit dimengerti karena, tentunya kebanyakan kita mempercayai persis kebalikannyalah yang benar. tetapi ada alinea terakhir yang menolong kita untuk melihat poin dari Salomo, itu secara literal mengatakan bahwa “hendaklah orang yang hidup memperhatikannya”. Pada saat penderitaan dan dukalah isu-isu penting tentang kehidupan itu muncul. Pada upacara kematian, orang-orang yang hidup diperhadapkan dengan akhir mereka – mereka juga akan mati sama seperti orang yang mereka sedang tonton itu. Pada saat menderita orang-orang diperhadapkan pada kondisi kehancuran dan kesia-siaan hidup mereka sendiri. Salomo meneruskan:

Bersedih lebih baik daripada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukacita (Pengkhotbah 7:3-4).

Sekali lagi, pada saat-saat yang sulitlah kita sesungguhnya memperoleh beberapa pengetahuan tentang hari kita sendiri. Dukacitalah yang dapat mengantar kita pada ingatan yang benar, yaitu bahwa kekuatan kita terletak di dalam Allah dan Dial ah yang Mahakuasa.

DALAM KESESAKAN, KITA TIDAK HANYA BELAJAR TENTANG HATI KITA, TETAPI KITA JUGA BELAJAR TENTANG ALLAH DAN HUBUNGAN KITA DENGANNYA. WILLIAM WHATELY MENGATAKAN DEMIKIAN: KETIKA ANDA BERTEMU DENGAN  SALIB-SALIB, BENCANA-BENCANA, KATAKANLAH SEKARANG SAYA MELIHAT KEADILAN ALLAH DAN KEBENARAN ALLAH, SEKARANG SAYA MELIHAT KEJAHATAN DAN KEBURUKAN DOSA, DAN MAKA SEKARANG SAYA AKAN MERATAPI, BUKAN KARENA SAYA DISALIBKAN, TETAPI KARENA SAYA LAYAK MENERIMA SALIB INI, DAN YANG LEBIH PARAH LAGI.

Penderitaan memiliki dampak dengan memfokuskan pikiran dan hati orang Kristen pada apa yang nyata dan benar dan baik. Sang pemazmur berkata: “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu” (Mazmur 119:71).

Penderitaan mengajarkan kita untuk taat. Calvin memberikan komentar:

TUHAN JUGA MEMPUNYAI TUJUAN LAIN UNTUK MENYESAKKAN UMATNYA, UNTUK MENCOBAI KESABARAN MEREKA DAN MENGAJAR MEREKA UNTUK TAAT. BUKANNYA MEREKA DAPAT MENUNJUKKAN KETAATAN YANG LAIN KEPADANYA. TETAPI KETAATAN YANG TELAH DIBERIKAN KEPADA MEREKA. TETAPI IA SANGAT SENANG DENGAN BUKTI-BUKTI YANG TIDAK DAPAT DIRAGUKAN UNTUK MENUNJUKKAN DAN MEMPERJELAS ANUGRAH-ANUGRAH YANG DIA BERIKAN KEPADA ORANG-ORANG KUDUS SUPAYA ITU TIDAK MENJADI SIA-SIA, DAN TERSEMBUNYI DI DALAMNYA. OLEH KARENA ITU, DENGAN JELAS IA MENUNJUKKAN KUASA DAN KETAHANAN UNTUK BERTAHAN. DIA TELAH BERIKAN KEPADA HAMBA-HAMBANYA, IA DIKATAKAN TELAH MENCOBAI KESABARAN MEREKA (INSTITUTES OF THE CHRISTIAN STUDIES III, VIII, 4).

Penderitaan dapat menjadi latihan dalam cara berpikir yang benar.

 

  1. Disiplin sebagai pemulihan.

Disiplin Allah bagi orang Kristen adalah pada akhirnya untuk tujuan pemulihan, tidak pernah untuk menghancurkan. Dalam konteks kesesakan yang luar biasa, pemazmur menyatakan, “Tuhan telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut” (Mazmur 118:18). Yeremia melihat kedepan suatu saat dimana bangsa Israel akan mengenali dosanya dan hukuman Allah kepadanya dengan mengakui, “Engkau telah menghajar aku, dan aku telah menerima hajaran, seperti anak lembu yang tidak terlatih. Bawalah aku kembali, supaya aku berbalik, sebab Engkaulah Tuhan, Allahku, sungguh sesudah aku berbalik aku menyesal, dan sesudah aku tahu akan diriku, aku menepuk pinggang sebagai tanda berkabung, aku merasa malu dan bernoda, sebab aku menanggung aib masa mudaku” (Yeremia 31:18-19). Sesungguhnya “buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya” (Yesaya 42:3).

Disiplin untuk pemulihan dan terjadi pada level kovenan dan komunal. Dalam Bilangan 21, orang-orang Ibrani terus menerus melakukan kebiasaan mereka mengeluh terhadap Allah dan Musa karena kesulitan-kesulitan di padang durum (Bilangan 21:4-5). Kesabaran Allah habis dan maka Dia mengirim ular-ular diantara umatNya sebagai hukuman (Bilangan 21:6). Tetapi itu adalah ganjaran yang bersifat memulihkan, karena orang-orang itu datang kepada Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau, berdoalah kepada Tuhan supaya dijauhkanNya ular-ular ini daripada kami (Bilangan 21:7). Dan Tuhan menanggapinya dengan anugrah dengan mendirikan ulang tedung bagi kesembuhan orang-orang itu. Bangsa Israel dipulihkan melalui ganjaran.

Disiplin demi pemulihan juga terjadi terhadap individu. Ayub memberi komentar demikian: “Sesungguhnya berbahagialah manusia yang ditegur Allah, sebab itu janganlah engkau menolak didikan yang Mahakuasa. Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membalut, Dia yang memukuli, tetapi yang tanganNya yang menyembuhkan pula” (Ayub 5:17-18). Dan Rasul Paulus mengatakan: “Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian” (2 Korintus 7:10). Paulus memberi prinsip dengan sangat baik sehingga dia menggunakannya sebagai dasar dari disiplin gerejanya sendiri. Di 1 Korintus 5, Paulus menjelaskan bahwa dia mengekskomunikasikan seorang jemaat karena immoralitas seksual. Dia mengatakan: “Orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan” (1 Korintus 5:5). Rasul Paulus melakukan hal yang sama di 1 Timotius 1:20: “Bagi orang percaya, disiplin Allah adalah untuk memulihkan seorang ke jalan yang benar, untuk berbalik dari dosanya, dan menempatkan seorang ke jalan yang benar”.

 

  1. Cara-cara disiplin Allah.

Adalah jelas dengan demikian bahwa Allah sebagai Bapa Sorgawi mendisiplin anak-anakNya sendiri demi kebaikan mereka. Pertanyaan berikutnya untuk kita pertimbangkan adalah, apakah ada cara-cara atau metode-metode yang Allah gunakan untuk mendidik umatNya? Sebuah studi singkat dari pasal-pasal awal dalam kitab Habakuk akan menyediakan kita jawaban-jawaban bagi pertanyaan itu.

Kitab ini dimulai dengan keluh kesah nabi Habakuk, Ia meratapi kepasifan Allah menurutnya di tengah-tengah kejahatan. Ia mengatakan, ‘Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kau dengar’ (Habakuk 1:2). Mengapa Allah yang Mahakuasa dan benar membiarkan kejahatan untuk tidak dihukum ? Jelaslah bahwa dosa yang dikeluhakn oleh Habakuk adalah dosa dari umat perjanjian:

Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku, kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman ? ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku, perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul kembali (Habakuk 1:3-4a).

“Mengapa Allah tidak menjawabnya?”.

Dalam ayat 5-11. Allah menjawab Habakuk dengan cara yang sangat menarik. Tuhan menjawab, “Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai jika diceritakan (1:5). Sesungguhnya cara-cara Allah bukanlah cara-cara manusia (Yesaya 29:14-16). Orang-orang jahat di Yehuda akan dihukum, tetapi itu menuntut waktu, penghakiman dan cara Allah sendiri. Rencana Allah adalah untuk membangkitkan orang-orang Kasdim untuk menghukum Yehuda (1:6-8).

Karena respons Allah, Habakuk mengutarakan keluhan yang kedua (1:12-17). Intinya dari keluhannya adalah bagaimana mungkin Allah menghukum umatNya sendiri dengan menggunakan orang-orang Kasdim yang jahat dan lalim itu ?. Nabi itu beragumen, “Mataku terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?” (1:13). Pertanyaan Habakuk adalah sederhana dan langsung ke sasaran: bagaimana mungkin Allah menggunakan sebuah bangsa yang lebih jahat dari orang-orang Yehuda untuk mendisiplin orang-orang Yehuda? Ratapan ini mempertanyakan karakter Allah yang kudus menggunakan cara-cara yang jahat untuk mencapai tujuanNya untuk mendidik umatNya?, apakah hal ini sungguh adil ? ini adalah pertanyaan yang berhubungan dengan TRADISI, yang adalah usaha untuk mengerti tindakan-tindakan Allah di tengah-tengah kejahatan.

Allah menjawab keluhan Habakuk yang kedua di dalam 2:1-3. Pada ayat pembuka, nabi itu sedang berada di menara pengintaiannya menunggu untuk Allah berbicara kepadanya. CALVIN MENGATAKAN: “MENARA PENGINTAIAN ADA DALAM LUBUK HARI, DIMANA KITA DAPAT MENARIK DIRI DARI DUNIA”. Di dalam ayat 2, Firman Allah datang kepada nabi itu, dan itu adalah sebuah perintah supaya Habakuk menulis visinya di atas loh-loh. TINDAKAN INI MEREFLEKSIKAN RELEVANSI YANG BERTAHAN DARI WAHYI YANG AKAN IA TERIMA, JUGA SEBAGAI TINDAKAN UNTUK MENGKLARIFIKASI VISI TERSEBUT. Tujuan yang kedua ini untuk mengukir ke dalam loh-loh visi tersebut jelas terdapat di dalam kalimat terakhir dari ayat 2, yang secara literal berkata: “supaya orang sambil lalu dapat membacanya”. Wahyu dari visi sangat jelas sehingga orang yang berlari dalam sebuah lomba dapat dengan mudah membacanya sambil lalu.

Pesan dari visi itu terletak di ayat 3. Allah telah menetapkan waktunya bagi orang-orang Kasdim untuk datang dan mendisiplin Yehuda. Itu tidak akan gagal, tetapi itu akan pasti terjadi. Siapakah yang dapat menolak atau menunda Firman Allah ? maka, Habakuk mempertanyaan penggunaan orang-orang Kasdim untuk mendisiplin Yehuda. Allah menjawab dengan mengatakan bahwa itulah yang sesungguhnya, Dia akan lakukan. Habakuk seharusnya tidak salah tentang hal itu, karena itu terukir di loh-loh batu.

Fakta bahwa Allah menggunakan orang-orang Kasdim untuk mendisiplin Yehuda pada akhirnya menunjuk pada Kedaulatan Allah. Dia mengontrol semua peristiwa yang terjadi di Sorga dan di Bumi. Walaupun Babel adalah orang-orang tanpa Tuhan, Allah dapat menggunakan mereka dengan cara apapun sebagaimana Ia suka!. Dan dengan demikian, kita melihat dalam Amos 4 bagaimana Allah menggunakan kelaparan, kekeringan, tulah-tulah, hama dan penyakit gandum, dan bahwa kematian untuk mendisiplin umatNya dan untuk memulihkan mereka kepada diriNya.

SEBAGAI ORANG KRISTEN, KETIKA KITA MENGALAMI PENDERITAAN, KITA SEHARUSNYA MEREFLEKSIKAN HIDUP KITA SENDIRI. KITA SEHARUSNYA MELIHAT KE DALAM HATI KITA, DAN MUNGKIN KITA DAPAT MELIHAT ALLAH SEDANG MENDIDIK KITA DAN BERUSAHA UNTUK MEMBAWA KITA KEMBALI KE JALAN HIDUP YANG BENAR SEBAGAI ANAKNYA. PENDERITAAN CENDERUNG MEMBUAT PIKIRAN DAN HATI KITA BERFOKUS PADA TINDAKAN-TINDAKAN DAN PIKIRAN-PIKIRAN KITA. SEMOGA HAL ITU MENJADI SANGAT BERMANFAAT BAGI KITA SUPAYA KITA MENJADI SEMAKIN SERUPA DENGAN YESUS KRISTUS.

 

  1. Penderitaan Sebagai Hukuman.

Karena dosa, semua manusia layak menerima hukuman Allah. Kita semua memperoleh kematian (Roma 6:23) dan kita layak menerima murka Allah datang atas kita. Allah adalah Allah yang adil, dan karenanya, Ia menuntut agar keadilanNya dipenuhi. SELURUH UMAT MANUSIA HARUS MEMBAYAR HARGA PEMBERONTAKANNYA MELAWAN ALLAH. ORANG-ORANG HARUS DIHUKUM KARENA DOSA-DOSA MEREKA.

Tetapi, tepat sekali bila kita mengatakan bahwa Allah mengasihi semua orang. Itu adalah pernyataan yang kuat yang membutuhkan penjelasan. Ia memang mengasihi semua orang secara umum. MACLEOD MENGATAKAN HAL INI DEMIKIAN: KASIH ALLAH YANG UMUM BAGI SELURUH UMAT MANUSIA MEMBERIKAN KEPADA UMAT MANUSIA BERBAGAI MACAM BERKAT YANG BERHARGA – MATAHARI BERSINAR, HUJAN  TURUN DAN KITA SEMUA MENIKMATI MANFAAT DARI SENI, DARI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI, DARI KEMAKMURAN, DARI KESUBURAN GLOBAL, DARI PERSAHABATAN MANUSIAWI DAN KASIH DAN DARI SEMUA KEINDAHAN HUBUNGAN MANUSIAWI (A FAITH TO LIVE BY, 45). Demikianlah kasih yang Allah miliki bagi semua manusia. Namun, ada kasih dalam Allah yang melebihi manfaat-manfaat yang sementara itu. Hal itu adalah kasih yang menyelamatkan yang hanya dimiliki oleh umat pilihan Allah bagi mereka yang secara khusus dipisahkanNya bagi kasihNya yang menebus itu. Itulah kasih yang dalam, khusus dan pribadi yang Allah berikan kepada umatNya.

ADA DUA TIPE ORANG DI BUMI: ORANG PILIHAN, MEREKA YANG BAGINYA ALLAH LIMPAHKAN KASIHNYA YANG MENYELAMATKAN ITU (EFESUS 1:3-4), DAN MEREKA YANG BAGINYA ALLAH BERIKAN KASIH UMUM TETAPI BUKAN KASIHNYA YANG MENYELAMATKAN.

Cara dimana Allah berikan dengan melimpah kasihNya yang menyelamatkan itu kepada umat pilihan adalah melalui pekerjaan anakNya Yesus Kristus (Yohanes 3:16, 1 Petrus 1:18-19). Kristus mati bagi umat pilihan Allah. Dan satu tujuan utama dari kematianNya adalah menjadi pengganti bagi umat pilihan dan dengan demikian mengambil bagi diriNya hukuman dan kutukan yang adalah milik umat pilihan Allah. Sebagaimana Rasul Paulus katakana: “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita” (Galatia 3:13). Jadi, karena pekerjaan Kristus, orang-orang percaya dibebaskan dari hukuman Allah yang seharusnya layak kita terima. Ini adalah anugrah yang sungguh luar biasa!. SALAH SATU KONSEKUENSI TERBESAR DARI PESAN INJIL INI ADALAH FAKTA BAHWA KETIKA SEORANG KRISTEN MENDERITA DAN MENGALAMI KESESAKAN ITU TIDAK PERNAH UNTUK TUJUAN MENGHUKUM ATAU MENGHANCURKAN. Hal-hal itu selalu demi kebaikan dan keuntungan orang Kristen, itu adalah demi pemulihan. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

Hal yang sama tidak dapat dikatakan bagi orang-orang yang belum percaya. BAGI MEREKA YANG TIDAK DIPILIH, TIDAK ADA PENANGGUHAN HUKUMAN ALLAH. ORANG-ORANG YANG TIDAK PERCAYA LAYAK MENERIMA MURKA ALLAH (KOLOSE 3:5-6). Tidak ada pertobatan dalam diri mereka, melainkan mereka tetap hidup dalam dosa mereka. Mereka melakukan kejahatan dengan sengaja dan dengan maksud jahat. Dan mereka tidak memiliki perantara. Dan tidak seorang pun yang menanggung hukuman bagi mereka. Satu konsekuensi dari kenyataan ini adalah bahwa penderitaan sementara bersifat hukuman dan persiapan. Itu bukanlah untuk pemulihan tetapi untuk hukuman.

 

  1. Penderitaan Sementara.

Mereka yang bukan pilihan adalah benda-benda kemurkaanNya yang telah disiapkan untuk kebinasaan! (Roma 9:22). “Murka Allah tetap” di atas mereka (Yohanes 3:36). JONATAN EDWARDS MENGGAMBARKAN POSISI MEREKA DI BUMI DI DALAM KHOTBAH BERJUDUL ORANG-ORANG BERDOSA DI TANGAN ALLAH YANG MURKA. “MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG HARUS DIMURKAI” (EFESUS 2:3). Murka Allah dapat datang kepada orang-orang yang tidak percaya di bumi ini di dalam bentuk penderitaan, bencana dan kesesakan. KESUKARAN-KESUKARAN DUNIAWI INI DAPAT MENJADI TANDA-TANDA DARI HUKUMAN ALLAH BAGI ORANG TIDAK PERCAYA. PENULIS KITAB AMSAL MENGATAKAN DEMIKIAN TENTANG ORANG-ORANG FASIK:

Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut yang serong. Yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki, dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang harinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba. Sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi (6:12-15).

Sesungguhnya, murka Allah yang dijanjikan dapat datang kepada orang-orang yang tidak percaya sekarang ini di atas bumi sebagai penghakiman. Hal ini sangat jelas. Paulus mengatakan bahwa “Murka Allah nyata dari Surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia” (Roma 1:18).

Ada banyak contoh-contoh dalam Alkitab tentang murka Allah di atas orang-orang berdosa yang tidak bertobat di dunia ini. Jadi, misalnya, air bah pada zaman Nuh datang ke seluruh umat manusia karena “dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kejadian 6:5).

Penderitaan, saat itu, dalam bentuk kematian dan kehancuran terjadi atas bumi karena hukuman yang layak diterima oleh umat manusia. Ketika orang-orang Astod menempatkan tabut Allah di kuil Dagon, Allah membawa penderitaan yang sangat hebat di atas mereka karena kejahatan mereka. Kita membaca, “Tangan Tuhan menekan orang-orang Astod itu dengan berat dan Ia membingungkan mereka, Ia menghajar mereka dengan borok-borok, baik Astod maupun daerahnya” (1 Samuel 5:6). Di Mesir, Allah membawa bencana yang begitu hebat di atas orang-orang Mesir karena mereka dengan jahat menindas orang-orang Israel (Mazmur 78:43-51). Firaun adalah target khusus dari murka dan kemarahan Allah karena menolak membiarkan umat Israel pergi meninggalkan Mesir (Keluaran 4:23, 10:3).

SERINGKALI PENGHAKIMAN ALLAH YANG SEMENTARA TERHADAP ORANG-ORANG YANG TIDAK PERCAYA DAPAT TERJADI DALAM BENTUK KEADILAN YANG IRONIS, YAITU BENTUK YANG PALING MENDASAR DARI PENGHAKIMAN DI BUMI BAGI ORANG TIDAK PERCAYA BERDASARKAN TINDAKANNYA SENDIRI YANG KEJI. DI MAZMUR 9:15-16, DAUD MELETAKKAN PRINSIP PENTING TENTANG KEADILAN YANG IRONIS INI. DIA KATAKAN: BANGSA-BANGSA TERBENAM DALAM PELUBANG YANG DIBUATNYA, KAKINYA TERTANGKAP DALAM JARING YANG DIPASANGNYA SENDIRI. TUHAN TELAH MEMPERKENALKAN DIRINYA, IA MENJALANKAN PENGHAKIMAN, ORANG FASIK TERJERAT DALAM PERBUATAN TANGANNYA SENDIRI.

Keadilan yang ironis adalah suatu bentuk ironi dramatis dimana kekuatan dari tindakan atau kata-kata seorang menghasilkan sesuatu yang kebalikan dari tujuannya. Dalam 2 Tawarikh 26, Uzia digambarkan sedang menajiskan dan menodai bait suci. Sebagai akibat perbuatannya, Uzia, dengan cara yang ironis, dijangkiti penyakit kusta. Teks mengatakan: ‘Tuhan telah menimpakan tulah kepadanya’ (ayat 20). Melalui tindakan Allah, Uzia sendiri menjadi najis dan bernoda. Di dalam kitab Ester, Haman yang jahat itu secara ironis disulakan pada tiang yang didirikannya untuk Mordekhai (7:10).

Bahkan peristiwa penyaliban mengandung rasa keadilan yang ironis. Di sana Iblis dan pasukannya menyalibkan Anak Allah, tetapi peristiwa itu sendirilah yang menyebabkan dan menandai kekalahan mereka. Melalui kematian dan kebangkitanNya, Kristus sepenuhnya mengalahkan si jahat dan para pengikutnya.

Murka Allah di atas orang-orang yang tidak lahir baru, di atas bumi ini dapat menjadi bengis. Berkaitan dengan orang-orang Mesir pada saat keluarnya bangsa Israel itu dari Mesir, sang pemazmur mengatakan:

Ia melepaskan kepada mereka murkaNya yang menyala-nyala, kegemasan, kegeraman, dan kesesakan, suatu pasukan malaikat yang membawa malapetaka (Mazmur 78:49).

Karena orang-orang Amalek telah melawan bangsa Ibrani di saat-saat mengembara di padang gurun, Allah pada kemudian haru memerintahkan Saul untuk “pergilah sekarang kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya dan janganlah ada belas kasihan kepadanya” (1 Samuel 15:2-3). Kehancuran ini disebut murkaNya (Tuhan) yang menyala-nyala (1 Samuel 28:18).

Bagaimanapun, kenyataannya adalah bahwa hukuman yang dialami di bumi ini oleh orang-orang yang tak percaya hanyalah “kecapan” sebelumnya tentang apa yang akan datang. Dengan kata lain, penderitaan, kesesakan, sakit penyakit dan kematian hanyalah cicipan dari minuman yang sepenuhnya dari kematian kekal bagi orang tidak percaya. ITU BERSIFAT SEBAGAI PERSIAPAN BELAKA UNTUK APA YANG DAPAT DIHARAPKAN PADA KEKEKALAN. HAL INI SULIT, TETAPI KITAB SUCI MENYATAKAN HAL INI DENGAN JELAS BAHWA ITU ADALAH BENAR.

 

  1. Penderitaan Yang kekal

Paulus menggambarkan masa depan bagi orang-orang fasik dengan cara demikian: “Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Roma 2:5-6). Hukuman dan penderitaan yang abadi ini yang berasal dari murka Allah adalah pasti. Paulus menjelaskan, “Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian (yaitu dosa) mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka” (Efesus 5:6). Dan dia berkata di Kolose: “Karena itu, matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka” (3:5-6). Bagi orang-orang bukan pilihan Allah, tidak ada yang dapat menghalanginya, itu adalah hujan yang deras yang akan datang. Orang-orang tidak percaya suatu hari nanti akan menderita dengan beban yang sangat berat dan kuasa yang tak berkesudahan dari kemarahan Allah.

Penderitaan ini adalah kekal dan abadi, kebenaran ini ditafsirkan oleh JONATHAN EDWARDS dalam khotbahnya yang terkenal itu:

ADALAH SANGAT MENGERIKAN UNTUK MENGALAMI KEBENGISAN DARI MURKA ALLAH HANYA SESAAT, TETAPI ANDA HARUS MENGALAMINYA SAMPAI KEKEKALAN. PENDERITAAN YANG MENGERIKAN DAN SANGAT HEBAT INI TIDAK AKAN ADA AKHIRNYA. KETIKA ANDA MELIHAT KE DEPAN, ANDA AKAN MELIHAT KEKEKALAN YANG SANGAT PANJANG, SUATU MASA YANG TANPA ADA BATASNYA TERHAMPAR DI DEPANMU, YANG AKAN MENELAN SEMUA YANG ANDA PIKIRKAN, DAN MEMBUAT JIWAMU TERHERAN, DAN ANDA AKAN SANGAT KEHILANGAN HARAPAN UNTUK MEMPEROLEH KEBEBASAN, UNTUK KERINGAN, DAN ISTIRAHAT SEDIKIT PUN. ANDA AKAN TAHU SECARA PASTI BAHWA KAMU TIDAK AKAN BERTAHAN UNTUK WAKTU YANG LAMA, JUTAAN DARI JUTAAN WAKTU, UNTUK BERGUMUL DAN BERTENTANGAN DENGAN PEMBALASAN YANG SANGAT HEBAT DAN TANPA AMPUN ITU, DAN KETIKA KALIAN TELAH BERTAHAN DI DALAMNYA, KETIKA SUDAH BEGITU BANYAK WAKTU YANG KALIAN HABISKAN DENGAN CARA DEMIKIAN, KALIAN AKAN TAHU BAHWA SEMUANYA ITU HANYALAH SATU TITIK DARI APA YANG TERSISA. SEHINGGA HUKUMANMU ITU AKAN TIDAK TERHINGGA (SINNERS IN THE HANDS OF AN ANGRY GOD).

Pengakuan Iman Westminster (Westminster confession of faith) mengatakan bahwa orang-orang fasik yang tidak mengenal Allah, dan tidak taat terhadap Injil Yesus Kristus, akan dilemparkan ke penyiksaan kekal dan dihukum dengan kehancuran yang abadi dari kehadiran Tuhan, dan dari kemuliaan kuasaNya (XXXIII:2). Berhubungan dengan penghakiman yang kekal, Yesus mengajarkan dan mereka ini akan masuk ke tempat penyiksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal (Matius 25:46).

Sama seperti penderitaan yang sementara, penderitaan yang kekal adalah dampak dari murka yang bengis dari Allah. Tetapi, yang pertama tidak dapat dibandingkan dengan yang kedua. Pengakuan Skotlandia (The Scots confessions) mengatakan demikian: “orang meninggal yang jahat dan tak beriman mengalami penderitaan yang hebat, siksaan dan kesakitan yang tak terkatan” (XVII). Yohanes menyebut penghakiman ini terhadap orang-orang fasik kilangan anggur yaitu kegeraman murka Allah (Wahyu 19:15). Tentang ayat ini, Edwards layak untuk dikutip sekali lagi:

KATA-KATA ITU SANGAT MENGERIKAN. JIKALAU HANYA DIKATAKAN “MURKA ALLAH”, KATA-KATA INI HANYA MENYISYARATKAN APA YANG MENGERIKAN YANG TANPA BATASNYA: TETAPI ITU ADALAH “KEBENGISAN DAN MURKA ALLAH” KEGERAMAN ALLAH! KEBENGISAN YEHOVA! O, BETAPA MENGERIKAN HAL ITU! SIAPAKAH YANG DAPAT MENGATAKAN DAN MEMPERKIRAKAN APA YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA (SINNERS IN THE HANDS OF AN ANGRY GOD).

Pada akhirnya, kita perlu mengenali bahwa penderitaan yang kekal dari non pilihan Allah adalah hasil dari penghakiman Allah. Itu adalah konsekuensi dari murka dari Allah yang tak terbatas itu. Ini adalah sesuatu yang menakutkan dan mengerikan. Dan hal itu harus menimbulkan rasa kekaguman dalam seluruh umat manusia. Yesus mengajarkan hal itu ketika Dia katakana, “Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabatKu, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapa yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Lukas 12:4-5).

Murka Allah yang akan datang kepada orang tidak percaya dalam bentuk hukuman kekal adalah hal yang sulit dijelaskan. Tetapi kita perlu mengerti bahwa itu adalah akhir yang layak diterima. Westminster confession of faith menyatakan: Setiap dosa, baik yang diwariskan maupun yang dilakukan, yang adalah pelanggaran terhadap hukum yang kudus dari Allah, dan kebalikan darinya di dalam sifatnya itu sendiri, akan membawa penghakiman bagi orang berdosa, untuk itu ia pasti akan menerima murka Allah, kutukan dari hukum Allah, dan dengan demikian harus mati, dengan segala penderitaan yang bersifat rohani, sementara dan kekal” (VI:6). Dosa pasti membawa kematian, dalam segala bentuknya. Tanpa seorang perantara atau penyelamat hasil akhirnya adalah pasti tanpa keringan.

 

 

 

  1. Jawaban Satu-Satunya.

Umat pilihan diselamatkan karena perbuatan. Akan tetapi, bukanlah karena perbuatan atau pencapaian mereka sendiri yang membuat mereka diselamatkan dari penghukuman dan penderitaan yang kekal. Karena umat manusia diperbudak oleh dosa. Dan keberdosaan ini meliputi semua area dari keberadaan dan kehidupan manusia: itu adalah dosa yangn meliputi segalanya. Dengan demikian, Paulus menyimpulkan bahwa semua orang dalam keadaan alami mereka adalah “mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu” (Efesus 2:1). Sesungguhnya, “Upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). Dan sebagai orang mati, mereka dalam keadaan yang tak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak dapat menyelamatkan diri mereka dari murka yang akan datang. Mereka tidak dapat memilih Allah dan cara hidupNya. mereka hanya dapat bertingkah seperti orang-orang mati. Intinya, Kitab Suci mengajarkan bahwa orang-orang mati di dalam dosa mereka, rusak secara total, dan mereka tidak memiliki kemampuan atau kecenderungan untuk menyelamatkan diri mereka bahkan jika hal itu ditawarkan kepada mereka.

Sangat jelas dengan demikian, manusia tidak dapat diselamatkan oleh perbuatan baik atau kemampuan mereka. Jika seorang harus diselamatkan dari penghakiman yang adil itu, itu seharusnya adalah pekerjaan Allah. Melalui usaha Allah, orang-orang dapat lahir kembali dan dibangkitkan dari kematian. Dan karena itu, adalah inisiatif dan pekerjaan Allah itu sendiri, maka itu adalah keputusannya tentang siapa yang akan diselamatkan dari penghakiman. Paulus meringkas ide ini di dalam suratnya kepada Gereja di Roma:

“Jika demikian, apa yang hendak kita katakana ?, apakah Allah tidak adil ? Mustahil!. Sebab Ia berfirman kepada Musa: AKU AKAN MENARUH BELAS KASIHAN KEPADA SIAPA AKU MENARUH BELAS KASIHAN DAN AKU AKAN BERMURAH HATI KEPADA SIAPA AKU MAU BERMURAH HATI!”. Jadi, hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: “itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKu di dalam engkau, dan supaya namaKu dimasyurkan di seluruh bumi’. Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendakiNya” (Roma 9:14-18).

Konteks dari pernyataan Paulus ini adalah definisinya tentang siapa dan bagaimana seorang dapat menjadi percaya, seorang yang telah dibenarkan oleh pekerjaan Allah (Roma 1:16-17).

Cara yang dipakai Allah untuk menyelamatkan umat pilihanNya adalah melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu Salib (Yohanes 1:29, Ibrani 10:14). Dalam kematianNya itu. Penebus yang tanpa dosa itu mengambil dosa dan kutukan dari umatNya. Walaupun Dia tidak layak menerima satupun dari itu, Ia mengambil hutang-hutang dan tanggungan-tanggungan dari gereja atas diriNya. Kristus mengambil bagi diriNya hukuman yang layak diterima umatNya untuk dosa-dosa mereka dan Dia memaku semuanya itu di Kayu Salib. Ia mati mengambil semua hukuman dosa dari umat pilihanNya. Jadi, orang-orang berdosa diselamatkan melalui perbuatan – yaitu perbuatan Yesus Kristus!.

Perbuatan Kristus di atas kayu Salib mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang sangat indah bagi mereka yang menerimanya. PERTAMA, HAL ITU MENGHENTIKAN MURKA DAN KEMARAHAN ALLAH UNTUK DATANG KE ATAS UMATNYA (DISEBUT PENDAMAIAN / MEMPERDAMAIKAN ATAU PROPITIATION). PENGHAKIMAN ILAHI YANG LAYAK DITERIMA DENGAN DEMIKIAN TELAH DIATASI. KEDUA, SEMUA DOSA ORANG PERCAYA TELAH DITUTUPI MELALUI PEKERJAAN KRISTUS (DISEBUT PENUTUPAN / MENUTUPI / EXPIATION). SEBAGAIMANA MCLEOD KATAKAN: “KETIDAKTAATAN KITA SECARA KESELURUHAN DITUTUPI OLEH KETAATAN DARI ANAK ALLAH” (A FAITH TO LIVE BY, 135). KETIGA, PEKERJAAN ALLAH MENJADIKAN UMAT ALLAH MEMILIKI HUBUNGAN YANG BENAR DENGANNYA (DISEBUT REKONSILIASI ATAU RECONCILIATION).

Semua yang Kristus lakukan di atas kayu Salib membawa perdamaian antara Allah dan umatNya. Tidak ada penghukuman bagi mereka: pengampunan, keselarasan, dan kesembuhan telah diperoleh. Sebagimana Paulus katakana di dalam Roma 8:1, ‘Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus’.

Penebusan adalah pekerjaan Allah. Ia membeli umatNya dengan darahNya sendiri (Kis 20:28). Di dalam suratnya kepada Gereja di Efesus, Paulus menunjukkan kepada mereka bahwa “sebab di dalam Dia dan oleh darahNya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karuniaNya yang dilimpahkanNya kepada kita” (1:7-8a). diselamatkan karena perbuatan! Diselamatkan karena perbuatan!… DISELAMATKAN KARENA PERBUATAN YESUS KRISTUS!

ORANG PERCAYA TIDAK MENDERITA SECARA KEKAL KARENA PENDERITAAN YESUS KRISTUS. DI ATAS KAYU SALIB DIA MENGALAMI RASA SAKIT PADA TUBUH, RASA SAKIT DARI KEMATIAN, RASA SAKIT DI DALAM JIWANYA DAN RASA SAKIT DARI SORGA, BUMI DAN NERAKA. DI SANA DIA MEMBAYAR UPAH DOSA DAN PENGHAKIMAN. BUKANKAH INI SEBUAH BERITA YANG SANGAT MENAKJUBKAN ? IA MENDERITA SUPAYA UMATNYA DAPAT DIBEBASKAN DARI PENDERITAAN. INI ADALAH PESAN INJIL TENTANG YESUS KRISTUS DAN PEKERJAANNYA YANG SANGAT MENGAGUMKAN DI ATAS KAYU SALIB. JIKA SAUDARA BELUM MENGENALNYA, MAUKAH SAUDARA DATANG KEPADANYA SAAT INI JUGA ? MENERIMA, PERCAYA BAHWA YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN ?

 

  1. Kecukupan Anugrah

“Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya”

Sebelum kita dapat belajar tentang kecukupan anugrah Allah, kita harus belajar tentang ketidakcukupan diri kita. Seperti sudah saya katakana, makin kita melihat keberdosaan kita, makin kita menghargai anugrah menurut makna dasarnya sebagai karunia Allah yang tidak layak kita dapatkan. Secara serupa, makin kita melihat kerapuhan, kelemahan dan kebergantungan kita, makin kita menghargai anugrah Allah dalam dimensinya sebagai bantuan Ilahi. Sebagaimana anugrah bersinar lebih cemerlang pada latar belakang kelemahan manusiawi kita.

Paulus berkata dalam ROMA 5:20: “DIMANA DOSA BERTAMBAH BANYAK, DI SANA ANUGRAH MENJADI BERLIMPAH-LIMPAH”. Dalam 2 KORINTUS 12, ia pun dapat berkata sama tepatnya, “dimana kelemahan manusia bertambah banyak, di sana anugrah menjadi berlimpah-limpah”. Pada hakekatnya itulah yang dikatakan dengan cara lain di ayat 9: “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “CUKUPLAH ANUGRAHKU BAGIMU, SEBAB JUSTRU DALAM KELEMAHANLAH KUASAKU MENJADI SEMPURNA”..SEBAB ITU, AKU TERLEBIH SUKA BERMEGAH ATAS KELEMAHANKU, SUPAYA KUASA KRISTUS TURUN MENAUNGI AKU. Mengenai hal ini PHILIP HUDGES MENULIS, “YA, KELEMAHAN HINA MANUSIA BERFUNGSI UNTUK MEMPERBESAR DAN MEMPERJELAS KESEMPURNAAN KUASA ILAHI DENGAN CARA YANG TIDAK PERNAH DAPAT DILAKUKAN OLEH KECUKUPAN MANUSIA. MAKIN BESAR KELEMAHAN SANG HAMBA, MAKIN JELAS KUASA ANUGRAH MAJIKANNYA YANG SERBA MENCUKUPI”.

Kuasa Allah yang memasuki kelemahan kita adalah ungkapan nyata dari anugrahNya, datang untuk membantu kita lewat pelayanan Roh Kudus dalam hidup kita. Inilah karya misterius Roh Kudus dalam roh kita. Dengannya menguatkan dan memampukan kita untuk menyongsong keadaan apa pun secara benar.

 

Adequacy of Grace

“Be ye strong in the Lord, on the strength of His power”

Before we can learn about the sufficiency of God’s grace, we must learn about the inadequacy of our self. As I say, the more we see our sinfulness, the more we appreciate the meaning of grace according to God’s essence as the gift that is not worth getting. Similarly, the more we see fragility, weakness and our dependence, the more we appreciate God’s grace in its dimensions as the divine assistance. As grace shine more brilliantly in the background of our human weakness.

Paul says in Romans 5:20: “WHERE sin abounded, GRACE IS THERE abounded”. In 2 Corinthians 12, he can say the same precise, “where human frailty abounded, there grace abounded”. In essence that is what is said in another way, in verse 9: “But God said to me:” Enough My Grace to YOU, my power in weakness CAUSE TO BE PERFECT “.. CAUSE THAT, LIKE ME PRIOR glory in my weaknesses, CHRIST AUTHORITY TO BE ME DOWN shade. Of this HUDGES PHILIP WRITE, “Yes, HUMAN WEAKNESS TO WORK FOR PERFECTION Enlarge and clarify the DIVINE AUTHORITY BY WHICH NEVER CAN BE DONE BY A HUMAN ADEQUACY. WEAKNESS OF THE SERVANT OF MORE, MORE POWER OF GRACE IS DEFINITELY his employer that completely inadequate “.

The power of God to enter our weakness is the real expression of grace, come to help us through the ministry of the Holy Spirit in our lives. This mysterious work of the Holy Spirit in our spirit. With him to strengthen and enable us to meet any situation correctly.

 

42.Dari Pengalaman Mentah

“Aku tahu apa itu kekurangan”.

PHILIP HUDGES BERKATA: “SETIAP ORANG PERCAYA HARUS BELAJAR BAHWA KELEMAHAN MANUSIA DAN ANUGRAH ILAHI SELALU BERIRINGAN”.

Paulus telah belajar bahwa anugrah Allah memang cukup. Kemampuan Ilahi melalui kuasa Roh Kudus akan menunjangnya di tengah siksaan durinya, dan di kedalaman: “kelemahan, siksaan, kesukaran, penganiayaan dan kesengsaraan” (ayat 10).

Ketika Paulus menulis perkataan itu kepada orang Korintus, sudah berlalu 14 tahun sejak ia menerima wahyu-wahyu luar biasa itu. Jika kita anggap ia menerima duri itu kira-kira pada waktu bersamaan, dan bahwa segera sesudahnya ia meminta sampai 3 kali supaya duri itu disingkirkan, kita dapat berkata bahwa Paulus memiliki pengalaman hampir 14 tahun untuk membuktikan bahwa anugrah Allah cukup. Kesukaran, masalah dan bahaya terus berlanjut setelah itu (2 Korintus 11:25-28).

Paulus bukanlah teolog menara gading. Ia tidak menulis dari ruang belajar pendeta atau kantor konselor yang nyaman (demikian pula halnya dengan setiap pendeta atau konselor yang cakap hari ini). Paulus menulis dari pengalaman mentah karena ia “sudah pernah di sana”. Sengsara yang dialaminya adalah sengsara sungguhan, anugrah yang diterimanya adalah anugrah sungguhkan. Itu bukan teori, khayalan, atau sekedar tindakan menguatkan diri supaya tetap bersemangat. Tidak, Paulus mengalami ungkapan kasih dan kuasa Allah yang sangat nyata sewaktu Roh Kudus melayangkan penghiburan dan dorongan kepadanya di tengah kesusahan.

 

From Raw Experience

“I know what it lacked”.

PHILIP HUDGES SAYS: “EVERYONE SHOULD LEARN TO BELIEVE THAT THE WEAKNESS OF HUMAN AND DIVINE GRACE ALWAYS hand in hand”.

Paul had learned that God’s grace is sufficient. The ability of the Divine by the power of the Holy Spirit will support it in the middle of torture needles, and in depth: “weakness, persecution, hardship, persecution and tribulation” (verse 10).

When Paul wrote these words to the Corinthians, was passed 14 years since she received extraordinary revelations that. If we assume that she received a thorn at approximately the same time, and that soon afterward he asked for up to 3 times that the thorn is removed, we can say that Paul has nearly 14 years of experience to prove that God’s grace sufficient. Difficulties, problems and dangers continue long after it (2 Corinthians 11:25-28).

Paul was not an ivory tower theologian. He does not write from the study pastor or counselor’s office is comfortable (as does every pastor or counselor who qualified today). Paul wrote of the experience of raw because he “had never been there”. Passion was experiencing was real passion, grace is the grace received. That’s not a theory, fantasy, or simply act to strengthen themselves in order to remain vibrant. No, Paul was an expression of love and the very real power of God as the Holy Ghost sent a consolation and encouragement to him in the midst of adversity.

 

 

 

  1. Sangat Ingin Memahami

“Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Ajarkanlah ketetapan-ketetapanMu kepadaku”

Di samping sikap tekun, kita juga perlu sikap bergantung seperti yang teruangkap dalam Amsal 2:3: “Ya, jikalau Engkau berseru kepada pengertian dan menunjukkan suaramu kepada kepandaian”. Ini menunjukkan makna bergantung yang hampir putus asa. Sikap ini jauh berbeda dengan doa sepintas lalu memohon pertolongan Allah ketika kita memulai pelajaran Alkitab mingguan.

APAKAH KITA BENAR-BENAR PERCAYA BAHWA KITA BERGANTUNG KEPADA ROH KUDUS UNTUK MENERANGI PEMAHAMAN KITA ? ATAU APAKAH SEBENARNYA KITA BERGANTUNG KEPADA KEMAMPUAN INTELEKTUAL KITA DALAM MEMPELAJARI ALKITAB ?. SAYA KIRA BANYAK DARI KITA, MESKI DI BIBIR MENGAKU BERGANTUNG PADA ROH, SEBENARNYA BERGANTUNG KEPADA INTELEKTUAL KITA SENDIRI.

Mempertahankan sikap tekun sekaligus bergantung memang sulit. Tetapi kita harus melakukannya apabila kita mau belajar dari Roh Kudus. Ia mengganjar kemalasan atau sikap percaya diri yang berdosa. Ia memberkati ketekunan apabila ketekunan itu dikejar dengan sikap bergantung yang tulus kepadaNya. Kita bukan sedang bicara tentang memperoleh banyak pengetahuan dari Alkitab belaka, tetapi tentang mengembangkan pendirian berdasarkan Alkitab yang menjadi panduan hidup kita.

Patut disayangkan, tampaknya banyak sekali orang Kristen yang mendekati pelajaran Alkitab sama seperti mendekati pelajaran-pelajaran yang bersifat akademis itu. Ketika kita melakukan hal ini, kita cenderung menjadi sombong daripada rendah hati. Kita menyombongkan “keunggulan” pengetahuan kita akan kebenaran Alkitab, bukannya merendahkan diri karena tidak mentaati ajaran Alkitab. Kita harus berdoa meminta pengetahuan tentang kebenaran yang akan mengubah hidup kita, bukan yang memberikan informasi kepada pikiran kita belaka, kita perlu berdoa bersama pemazmur , ‘perlihatkan kepadaku, ya Tuhan, petunjuk ketetapan-ketetapanMu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir’ (Mazmur 119:33).

 

Really want to understand

“Blessed art thou, O Lord, Teach the provisions of statutes to me”

In addition to the diligent attitude, we also need to rely as teruangkap attitude in Proverbs 2:3: “Yes, if you say to show your voice to the understanding and intelligence”. This suggests that the meaning depends almost desperate. This attitude is much different than cursory prayer ask God’s help when we start a weekly Bible study.

DO WE REALLY BELIEVE THAT WE DEPEND TO THE HOLY SPIRIT FOR OUR UNDERSTANDING illuminate? OR DO WE REALLY DEPEND IN OUR INTELLECTUAL ABILITY TO STUDY THE BIBLE?. THINKS MY MANY OF U.S., EVEN IN THE LIPS admitted DEPEND ON THE SPIRIT, THE REAL PROPERTY TO DEPEND OUR OWN.

Determined at the same time maintaining a dependent is difficult. But we must do if we are to learn from the Holy Spirit. He rewards laziness or self-confident attitude that sin. He blessed perseverance perseverance if it is pursued with a sincere attitude to rely on Him. We are not talking about getting a lot of Biblical knowledge, but about developing a stance based on the Bible to guide our lives.

Regrettably, it seems that many Christians who approach the study of the Bible just as close to the lessons that are academic. When we do this, we tend to be arrogant rather than humble. We brag about the “superiority” of our knowledge of the truth of the Bible, instead of humbling themselves because they do not obey the teachings of the Bible. We must pray for the knowledge of the truth that will change our lives, instead of providing information to our minds alone, we need to pray with the psalmist, ‘show me, O God, guide assessment statutes, I will hold it until the last moment’ (Psalm 119 : 33).

 

  1. Hati Nurani Yang Jujur

“Berbahagialah orang yang dosanya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya”

Allah memberi kita semua hati nurani, yakni kompas moral di dalam hati yang bersaksi tentang hukumNya. Dalam diri orang berdosa atau orang yang membenarkan diri (yakni orang yang ciri dominannya jelas-jelas berdosa atau jelas-jelas membenarkan diri), hati nurani “terkeraskan” sampai kadar tertentu. TETAPI DALAM DIRI ORANG KRISTEN YANG BERTUMBUH, HATI NURANI MENJADI MAKIN PEKA TERHADAP PELANGGARAN HUKUM ALLAH”. Sebagai akibatnya, hati nurani mendakwa kita. Ia bukan saja menuduh kita dalam hal-hal dosa tertentu tetapi, lebih lagi, dalam hal keberdosaan kita secara keseluruhan. Kita mengetahui bahwa dosa-dosa tertentu merupakan ungkapan hati kita yang fasik. Keberdosaan kita sangat nyata bagi kita, dan kita sukar percaya bahwa Allah tidak lagi mengingat pelanggaran.

Di sinilah saya merasa tertolong oleh pemvisualan “kambing hitam” Perjanjian Lama yang membawa pergi dosa-dosa umat yang telah diletakkan di atas kepalanya. Inilah gambaran akurat tentang perbuatan Yesus terhadap dosa saya.

Nyatanya, karya Kristus bagi saya masih lebih besar lagi. “Terlebih lagi darah Kristus, yang melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tidak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup”. Hanya darah Kristus yang dapat membersihkan hati nurani kita dan meredakan tuduhannya kepada kita. Supaya kita dibersihkan, kita harus setuju dengan hati nurani kita dan bersungguh-sungguh menyesal. Kemudian, oleh iman, kita harus menerapkan sendiri realitas darahNya yang membersihkan. Beban dari rasa bersalah yang belum dibereskanpun akan berhenti.

Percayakah anda bahwa dosa yang sekarang anda sadari dengan rasa sakit dan malu tidak pernah diperhitungkan terhadap diri anda ?. jika oleh iman anda melihat Yesus sebagai ‘kambing hitam’ anda, anda akan mengalami realitas kebenaran ajaib itu. Anda akan dibebaskan dari hati nurani yang merasa bersalah sehingga dapat beribah kepada Tuhan yang hidup.

 

The Honest Conscience

“Blessed are those whose sin is not reckoned by God”

God gave us all a conscience, the moral compass in the heart that testifies of His law. In the sinner or the people who justify themselves (ie, the dominant characteristic of which is clearly innocent or clearly justify themselves), the conscience “hardened” to some degree. BUT IN THE GROWING CHRISTIAN SELF, MORE SENSITIVE CONSCIENCE BE A VIOLATION OF THE LAW OF GOD “. As a result, our consciences convict. He is not alone in accusing us of certain things but sin, more so, in terms of our sinfulness as a whole. We know that certain sins are expressions of our hearts are wicked. Our sinfulness is very real to us, and we could not believe that God is no longer considering the offense.

This is where I feel helped by pemvisualan “black sheep” of the Old Testament that takes away the sins of the people who have been placed on his head. This is an accurate depiction of Jesus’ deeds of my sin.

In fact, the work of Christ to me is even greater. “Moreover, the blood of Christ, who through the eternal Spirit offered Himself have God as an offering without blemish, will purify our consciences from acts that waste, so that we can worship the living God”. Only the blood of Christ can cleanse our consciences and assuage his allegations to us. So we cleaned, we must agree with our conscience and sincere regret. Then, by faith, we must apply the reality of His blood that cleanses itself. Burden of guilt that has not dibereskanpun will stop.

You believe that the sin that you now realize the pain and shame have never counted against you?. if by faith you see Jesus as the ‘black sheep’, you will experience the reality of the miraculous truth. You will be freed from a guilty conscience so as to beribah the living God.

 

45.Seberapa Jujur?

“Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi Tuhan”

Pada malam natal, bel di pintu rumah sebuah keluarga berbunyi. Ketika suami tersebut membuka pintu, tampaklah gadis cilik tetangga yang berusia 4 tahun sedang memegang sepiring kue, “Ibu saya mengirimkan kue untuk anda”, katanya dengan senyum lebar. Suami tersebut berterima kasih dan menaruh kue itu di suatu tempat dan segera melupakannya, karena keluarga tersebut akan pergi menghadiri kebaktian malam Natal. Beberapa hari kemudian, ketika suami tersebut berjalan ke mobil, gadis cilik itu lewat trotoar dengan sepeda roda tiganya, “Pak, anda suka kue itu?”, tanyanya dengan harapan besar. “Ohm kue itu enak”, kata suami tersebut, padahal kue tersebut sama sekali tidak pernah dicicipi.

Selagi berkendara, suami tersebut mulai memikirkan apa yang dikatakannya. Saya telah berdusta, tidak ragu lagi. Mengapa saya melakukannya? Karena itu jalan yang bijak-itu menyelamatkan saya dari rasa malu dan kekecewaan si gadis cilik (meski kebanyakan saya lebih memikirkan diri saya, bukan dia), itulah yang suami tersebut pikirkan. Tentu, dampaknya kecil atau malah tidak ada. Tetapi itu dusta dan Allah berkata tanpa pandang bulu bahwa ia membenci dusta.

Ketika memikirkan kejadian itu, saya mulai sadar bahwa itu bukan kasus yang berdiri sendiri. Roh Kudus mengingatkan saya kepada hal-hal lain yang tampak seperti “dusta social” yang tidak berdosa – membesar-besarkan cerita atau sedikit memanipulasi fakta. Saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya tidak sejujur yang saya kira. Allah memberi saya pelajaran berharga, meskipun merendahkan.

Ketika cerita itu saya tuturkan kepaa beberapa pendengar, saya mendapat reaksi sulit dari beberapa orang. Sebagian orang, yakni orang-orang Kristen yang tulus, mengganggap saya rewel, terlalu berlebihan dengan soal kejujuran mutlak ini. Tetapi pertimbangkan Daniel. Catatan Alkitab menyatakan bahwa musuh-musuhnya tidak dapat menemukan kesalahan padanya. Tampaknya jelas bahwa para pegawai pemerintah itu akan menuding hal apa pun yang tidak konsisten, tak peduli seberapa kecil atau tak berarti, untuk memburukkan Daniel di depan Raja Darius. Tetapi mereka tidak menemukan apa-apa. Daniel rupanya telah menguasai soal integritas mutlak ini. Kita harus punya sasaran yang sama.

 

How honest?

“People who are lying lips are an abomination to the Lord”

On Christmas Eve, the doorbell rang a family home. When my husband opened the door, I saw a little girl 4 year old neighbor who was holding a plate of cake, “My mother sent a cake for you”, he said with a grin. Husband is grateful for the pastry and put it somewhere and forget about it soon, because the family was going to a Christmas Eve service. A few days later, when her husband was walking to the car, the little girl through the pavement with his tricycle, “Sir, you like cake?”, He asked with great expectations. “Ohm’s delicious cake”, said the husband, even though the cake had never tasted.

While driving, my husband began to think about what he said. I have lied, no doubt. Why do I do? Because it is street-wise it’s saved me from shame and disappointment of the girl (though mostly I prefer to think of me, not him), that the husband is thinking. Of course, the impact is small or even absent. But that was a lie, and God said indiscriminately that he hated a lie.

When thinking about the incident, I began to realize that it’s not a stand-alone case. The Holy Spirit reminded me of other things that looked like a “social lie” that is not sinful – to exaggerate a little story or manipulate the facts. I must face the fact that I do not honestly as I think. God gave me a valuable lesson, though humbling.

When I tell a story kepaa some listeners, I got a tough reaction from some people. Some people, namely Christians who are sincere, I assume fussy, too much with absolute honesty about this. But consider Daniel. The Bible records state that his enemies could not find fault in him. It seems clear that government officials would be accused of anything that is not consistent, no matter how small or insignificant, to denigrate Daniel before King Darius. But they did not find anything. Daniel seems to have mastered the absolute integrity of this matter. We must have the same goals.

 

  1. My Heavenly Father Watches Over Me

I trust in God where ever I may be

Upon the land or on the rolling sea

For come what may from day to day

My heavenlty Father wachers over me

“I trust in God, I know He cares for me”

“On mountains bleak or on the rolling sea”

“The billows roll He keeps my soul”

“My Heavenly Father watches over me”

He makes the road an object of His care

He guides the eagle through the pathless air

And surely He remembers me

My Heavenly Father watches over me

The valley may be dark, the shadows deep

But on the shepherd guards His lonely sheep

And through the gloom He leads me home

My Heavenly Father watches over me.

 

  1. Grace Alone

Ev’ry promise we can me, ev’ry prayer and step of faith

Ev’ry different we will make, is only by His Grace

Ev’ry mountain we will climb, ev’ry ray of hope we shine

Ev’ry blessing left behind is only by His grace

Ev’ry soul we long to reach, ev’ry heart we hope to teach

Ev’ry where we share His peace, is only by His grace

Ev’ry loving word we say, ev’ry tear we wipe a way

Ev’ry sorrow turned to praise is only by His grace

Grace alone which God supplies, strength unknown

He will provide, Christ in us our corner stone

We will go forth in grace alone.

 

  1. The Church’s One Foundation

The Church’s one foundation is Jesus Christ her Lord. She is His new creation by water and the world. From heav’n He came and sought her to be His holy bride, with His own blood. He bought her and for her life He died.

Elect from every nation, yet one o’er all the earth, Her charter of salvation, one Lord, one faith, one birth, one holy name she blesses, partakes one holy food, and to one hope she presses, with every grace endued.

The chuch shall never perish! Her dear Lord to defend, to guide, sustain, and cherish, is with her to the end. Though there be, those that hate her, and false sons in her pale, against of foe or traitor, she ever shall prevail.

Though with a scornful wonder, Men see her sore oppressed. By schisms rent asunder, by heresies distressed, yet saints their watch are keeping. Their cry goes up, “How long?”, and soon the night of weeping shall be the morn of song!

Mid toil and tribulation, and tumult of her war, she waits the consummation of peace forevermore, till, with the vision glorious, her longing eyes are blest, and the great church victorious shall be the church at rest.

Yet she on earth halt union, with God the Three in one, and mystic sweet communion with those whose rest is won, with all her sons and daughters, who, by the master’s hand led through the deathly waters, repose in Eden land.

O happy ones and holy! Lord, give us grace that we like them, the meek and lowly, on high may dwell with Thee, There, past, the border mountains, where in sweet values the bride, with Thee by living fountains, forever shall abide.

 

 

  1. Whisper A Prayer

Whisper a prayer in the morning

Whisper a prayer at noon

Whisper a prayer in the evening

To keep your heart in tune.

God answers prayer in the morning

God anwers prayer at noon

God answers prayer in the evening

He’ll keep your heart in tune.

Jesus may come in the morning

Jesus may come at noon

Jesus may come in the evening

So keep your heart in tune.

 

  1. Pass Me Not, O Gentle Savior

Pass me not, O Gentle Savior

Hear my humble cry

While others Thou art calling

Do not pass me by.

“Savior, Savior, Hear my humble cry, while on others Thou art calling, do not pass me by”.

Let me at Thy throne of mercy

Find a sweet relief

Kneeling there in deep contrition

Help my unbelief

Trusting only in Thy merit

Would I seek Thy face

Heal my wounded, broken spirit

Save me by Thy grace

Thou the spring of all my comfort

More than life to me

Whom have I on earth beside Thee ?

Whom in heav’n but Thee ?

 

  1. Take my life and Let it be

Take my life, and let it be consecrated, Lord, to Thee

Take my moments and my days, let them flow in ceaseless praise

Let them flow in ceaseless praise.

Take my hands, and let them move at the impulse of Thy love

Take my feet, and let them be swift with messages from Thee

Filled with messages from Thee

Take my silver and gold, not a mite would I withhold

Take my intellect, and use ev’ry power as Thou choose

Ev’ry power as Thou shalt choose

Take my will, and make itu Thine, it shall be no longer mine

Take my heart, it is Thine own, it shall be Thy royal throne

It shall be Thy royal throne

Take my love, my Lord, I pour at Thy feet its treasure store

Take myself, and I will be ever, all for Thee

Ever, only, all for Thee.

 

  1. Here I Am, Lord
  2. the Lord of sea and sky, I have heard My people cry

All who dwell in dark and sin, My hand will save

I who made the stars of night, I will make their darkness bright

Who will bear My light to them whom shall I send ?

I, the Lord of snow and rain, I have born My people’s pain

I have wept for love of them, they turn away

I will break their heart of stone, give them hearts for love alone

I will speak My word to them, whom shall I send ?

  1. the Lord of wind and flame, I will tend the poor and lame.

I will set a feast for them, my hand will save

Finest bread I will provide, till their hearts be satisfied

I will give My live to them, whom shall I send ?

“Here I am, Lord, Is it Lord ?”

“I have heard you calling me in the night”

“I will go Lord, if you lead me”

“I will hold your people in my heart”

 

  1. How Great Thou Art

O Lord, my God, when I in awesome wonder

Consider all the words. Thy hands have made

I see the stars, I hear the rolling thunder

Thy power out the universe displayed

When thro’ the woods and forest glades I wander

And hear the birds sing sweetly in the trees,

When I look down from loftly mountain grandeur

And hear the brook and feel the gentle breeze

And when I think that God, His son not sparing

Sent Him to die, I scarce can take it in,

That in the cross my burden gladly bearing

He bled and died to take away my sin

When Christ shall come with shout of acclamation

And take me home, what joy shall fill my heart!

Then I shall bow in humble adoration,

And there proclaim: “My God, how great Thou art!”.

“Then sings my soul, my savior God to Thee”

“How great the birds sing sweetly in the trees”

“When I look down from lofty mountain grandeur”

“and hear the brook and feel the gentle breeze”.

 

  1. I Know Whom I Have Believed

I know not why God’s wondrous grace

To me He halt made known

Nor why, unworthy, Christ in love

Redeemed me for His own

I know not how this saving faith

To me He did impart

Nor how believing in His word

Wrought peace within my heart

I know not how the spirit moves

Convincing men of sin

Revealing Jesus through the word

Creating faith in Him

I know not when my Lord may come

At night or noonday fair

Nor if I’ll the vale with Him

Or meet Him in the air

“But I know whom I have believed”

“And am persuaded that He is able”

“To keep that which I’ve committed”

“Unto Him against that day”.

 

  1. Why You Have Chosen Me ?

Why you have chosen me out of millions your child to be, you know all the wrong that I’ve done. O how could you pardon me, forgive my iniquity, to save me give Jesus your son.

I am amazed to know that a God so great could love me so. He’s willing and wanting to bless. His grace is so wonderful, His mercy’s bountiful, I can’t understand it I confess.

In this world of darkeness many lives are filled with emptiness, They too need to know of your love. O Lord help me point to them the truth, the life, the way and bless each life I meet day to day.

“O Lord help me be what you want to be, your word I will strive to obey, my life I now give for you, I will live and walk by your side all the way”.

 

  1. O Love that will not let me go

O love that will not let me go, I rest my weary soul in Thee, I give Thee back the life I owe. That in thine ocean depths its flow, may richer fuller be.

O light that folow’st all my way, I yiled my flick ‘ring torch to Thee, My heart restores its borrowed ray, that in Thy sunshine’s blaze its day, may brighter fairer be.

O joy that sleekest me thro’ pain, I yield my close my heart to Thee, I trace the rainbow thro’ the rain, and feel the promise is not vain, that morn tearless be.

O Cross that liftest up my head, I dare not ask to fly from Thee, I lay in dust life’s glory dead, and from the ground there blos soms red. Life that shall endless be.

 

  1. From Greenland’s Icy Mountains

From Greenland’s Icy mountains, from India’s coral strand

Where Afric;s sunny fountains roll down their golden sand

From many an ancient river, from many a palmy plain

They call us to deliver their land from error’s chain.

What though the spicy breezes blow soft o’er Ceylon’s isle

Though every prospect pleases, and only man is vile ?

In vain with lavish kindness the gifts of God are strown

The heathen in his blindness bows to wood and stone

Shall we, whose souls are lighted with wisdom from a high

Shall we to those benighted the lamp of life deny ?

Salvation! O salvation! The joyful sound proclaim,

Till earth’s remotest nation has learned Messiah’s Name

Waft, waft, ye winds, His story, and you, ye waters, roll

Till, like a sea of glory, it spreads from pole to pole

Till o’er our ransomed nature the Lamb for sinners slain

Redeemer, King, Creator, in bliss returns to reign.

 

  1. The Gift Of Love

Though I may speak with bravest life and have the gift to all in spire and have not love: my words are vain, as sounding brass and hopeless gain.

Though I may give all I posses, and striving so my love profess, but not be given by love with in, the profit soon turns strangely thin.

Come, spirit come, our hearts control, our spirits long to be made whole, let in ward love guide every deed, by this we worship and are freed.


Tagged: