Book Review The Magic Of Thinking Big

cover-thinking-big

Book Review The Magic Of Thinking Big

SEMBUHKAN DIRI ANDA DARI PENYAKIT KEGAGALAN YAITU DALIH

Karena anda berpikir untuk meraih kesuksesan, anda akan mempelajari perilaku manusia. Anda akan mempelajari perilaku manusia untuk menemukan, kemudian menerapkan prinsip menuai kesuksesan dalam kehidupan anda. Niscaya anda pun ingin segera memulainya.

Anda bisa menyelami manusia dan mengetahui bahwa orang orang yang tidak sukses menderita penyakit yang merusak pikiran. Kita menyebutnya penyakit dalih (excusitis). Tiap kegagalan dihinggapi penyakit ini dalam bentuk yang kian parah. Dan kebanyakan orang yang biasa biasa saja terjangkit penyakit dalih meskipun tidak terlalu parah.

Anda akan mengetahui bahwa penyakit dalih memisahkan orang yang ingin maju dari orang yang hanya bertopang dagu. Orang yang sukses dalam hidupnya biasanya tidak suka berdalih.

Namun, orang yang hanya berdiam diri dan tidak punya tujuan dalam hidupnya akan senantiasa memiliki berbagai dalih. Orang yang serba tanggung sangat cepat berdalih mengapa ia tidak sukses, mengapa ia tidak sanggup, dan mengapa ia tidak mampu menjadi pribadi yang didambakannya.

Pelajarilah kehidupan orang orang sukses dan temukan hal ini: orang sukses tidak pernah mengucapkan dalih yang biasa diucapkan orang yang serba tanggung

Saya tidak pernah bertemu atau mendengar eksekutif bisnis, perwira militer, penjual, professional, atau pemimpin dalam bidang apapun yang bersembunyi di balik dalih. Padalah, Roosevelt bisa saja bersembunyi di balik kakinya yang lumpuh. Truman bisa saja mengucapkan bahwa, “saya tak pernah mengenyam pendidikan tinggi”, Kennedy bisa saja mengatakan, “saya terlalu muda untuk menjadi Presiden”, Johnson dan Eisenhower bisa saja bersembunyi di balik penyakit jantungnya.

Seperti halnya penyakit lain, penyakit dalih ini akan makin memburuk jika tidak diobati dengan cepat. Seseorang yang terjangkit penyakit dalih akan melalui proses mental seperti ini, “saya tidak bekerja sebaik mungkin. Dalih apa yang bisa saya gunakan untuk bersembunyi dari rasa malu?, karena saya sering sakit?, karena saya berpendidikan rendah? Karena saya terlalu tua? Karena saya terlalu muda? Karena saya sedang sial? Karena ulah istri saya? Karena keluar salah mendidik saya?”

Begitu orang ini memilih dalih yang cocok, ia akan berpegang teguh padanya. Kemudian, dalih itu, ia kibar kibarkan untuk menjelaskan pada dirinya sendiri dan orang lain mengapa ia tidak bisa sukses.

Setiap kali orang ini berdalih, dalih tersebut tertanam kian dalam di alam bawah sadarnya. Pikiran kita, baik positif maupun negative, akan bertambah kuat ketika dipupuk dengan pengulangan yang terus menerus. Semula, korban penyakit dalih ini sadar dalihnya adalah kebohongan belaka. Namun kian sering ia mengulanginya, dirinya kian yakin bahwa dalih itu benar. Ia yakin dalihnya adalah alasan utama kegagalannya.

Dalam program individual berpikir sukses, prosedur pertama yang harus anda tempuh adalah menvaksinasi diri anda untuk melawan dalih, penyakit kegagalan.

 

EMPAT BENTUK PENYAKIT DALIH YANG PALING SERING TERJADI

Penyakit dalih muncul dalam berbagai bentuk, tapi tipe terburuk dari penyakit ini adalah dalih kesehatan, dalih kecerdasan, dalih usia, dan dalih keberuntungan. Mari kita lihat bagaimana kita bisa melindungi diri kita dari keempat penyakit ini:

  1. Tetapi saya sering sakit

Dalih kesehatan bervariasi dari “saya merasa tidak enak badan” hingga keluhan yang lebih khusus “ada yang salah dengan tubuh saya”. Kesehatan yang buruk, dalam ribuan bentuknya, selalu digunakan sebagai dalih untuk menggagalkan keinginan, didapuknya tanggung jawab yang lebih besar, peluang meraup lebih banyak penghasilan, dan kesempatan merengkuh kesuksesan.

Jutaan orang menderita dalih kesehatan. Dalam banyak hal, apakah dalih ini alasan yang bisa dibenarkan?, bayangkan sejenak semua orang sukses yang anda kenal. Mereka sebenarnya bisa menggunakan dalih kesehatan, tapi mereka tidak mau.

Dokter pribadi saya dan teman teman dokter bedah mengatakan kepada saya tidak ada orang yang memiliki kesehatan yang sempurna. Tentu ada sesuatu yang salah pada fisik setiap orang. Banyak orang menyerah seluruhnya atau sebagian kepada dalih kesehatan, tetapi orang yang berpikir sukses tidaklah demikian.

Pada suatu petang saya mengalami 2 hal yang menggambarkan sikap benar dan sikap salah dalam menyikapi kesehatan. Saya baru saja menyelesaikan ceramah di Cleveland. Setelah itu, seorang pemuda yang berusia sekitar tiga puluh tahun berbicara empat mata dengan saya selama beberapa menit. Ia memuji penampilan saya dalam pertemuan itu lalu berkata, “saya khawatir saya tidak mampu menerapkan ide ide anda dalam kehidupan saya”.

“anda harus tahu”, paparnya, “saya memiliki penyakit jantung dan saya harus sering memeriksakan diri”. Ia menjelaskan bahwa ia telah memeriksa dirinya kepada empat dokter berbeda, tapi mereka tidak bisa menemukan penyakit pemuda itu. Ia meminta nasehat saya.

“baiklah”, jawab saya, “saya memang tidak paham mengenai penyakit jantung, tapi sebagai orang awam, ada tiga hal yang akan saya lakukan andai saya adalah anda. Pertama, saya akan menemui dokter spesialis jantung terbaik dan menerima diagnosisnya sebagai keputusan final. Anda sudah memeriksakan diri kepada empat dokter dan mereka semua tidak menemukan kelainan pada jantung anda. Biarkan dokter kelima ini yang memberi keputusan final. Mungkin jantung anda memang benar benar sehat. Namun, jika anda tetap menghkhatirkannya, jangan jangan nanti anda malah terkena penyakit jantung yang serius. Terus menerus mencari penyakit dalam diri anda hanya akan membuat anda sakit”.

“kedua, saya sarankan anda membaca buku tulisan Dr. Schindler, How to live 365 days a year. Dr Schindler menulis tiga dari empat ranjang rumah sakit ditempati orang orang yang mengidap EOO – emotionally induced illness. Bayangkan, tiga dari empat orang sakit akan sembuh jia mereka belajar mengendalikan emosi mereka. Bacalah buku Dr.Schindler dan terapkan manajemen emosi kepada diri anda”

“Ketiga, saya harus hidup hingga ajal menjemput”, saya terus menjelaskan beberapa nasehat yang saya terima beberapa tahun lalu dari seorang teman pengacara yang menderita tuberculosis. Teman saya ini tahu dirinya harus hidup teratur, tapi hal ini tidak membuat dirinya berhenti menjadi pengacara, menghidupi keluarganya, dan menikmati hidup. Kini, ia sudah berusia 78 tahun dan mengekspresikan falsafah hidupnya, “saya akan hidup hingga ajal menjemput saya dan saya pun takkan mencampuradukkan kehidupan dengan kematian. Ketika saya hidup di bumi, itu artinya saya akan hidup. Mengapa saya hidup hanya setengah setengah saja?, orang yang khawatir tentang kematian selama semenit berarti orang itu sudah mati selama semenit pula”.

Saya pun pergi setelah mengatakan hal itu karena harus naik pesawat menuju Detroit. Di atas pesawat itu, terjadi pengalaman kedua yang lebih menyenangkan. Setelah pesawat yang mulai terbang menimbulkan bunyi bising, saya mendengar suara berdetik. Dengan agak terkejut, saya melirik ke arah seseorang yang duduk di samping saya karena tampaknya suara itu berasal darinya.

Pria itu tersenyum lebar dan berujar, “Oh, itu bukan bom, bunyi itu keluar dari jantung saya”

Saya sangat terkesima, sehingga ia pun menuturkan apa yang terjadi. Tiga minggu lalu, pria itu menjalani operasi pemasangan katup plastic di jantungnya. Suara berdetik itu akan terdengar selama beberapa bulan hingga jaringan baru tumbuh di atas katup buatan tersebut. saya bertanya, kegiatan yang akan dilakukannya setelah ini.

“Oh, saya punya dua rencana besar. Saya akan belajar hukum begitu kembali ke Minnesota. Saya ingin bekerja di kantor pemerintah suatu saat. Dokter bilang saya harus istirahat selama beberapa bulan, tapi setelah itu saya akan menjadi sosok yang baru”.

Anda memiliki dua cara menghadapi masalah kesehatan. Orang pertama yang meragukan kesehatannya merasa khawatir, depresi dan menyerah pada kehidupan. Harus ada orang lain yang memberinya semangat karena ia tidak bisa maju. Orang kedua, setelah menjalani operasi yang sangat beresiko, justru ingin melakukan sesuatu yang baru. Perbedaan antara keduanya tampak dari cara mereka memandang kesehatan.

Saya pun mengalami pengalaman langsung dengan dalih kesehatan ini. Saya mengidap diabetes. Setelah tahu saya menderita penyakit ini. Saya diberitahu, “diabetes adalah penyakit fisik, tapi kerusakan terbesar berasal dari sikap negative terhadap diabetes. Jika anda menghkhatirkannya, anda bakal bermasalah”.

Setelah divonis mengidap diabetes, saya pun mengenal banyak penderita diabetes lainnya. Saya akan mengisahkan dua orang yang saling bertolak belakang. Ada seseorang yang menderita diabetes ringan, tapi hidup mengurung diri. Karena takut dengan cuaca di luar sana, pria ini mengenakan pakaian tebal. Ia takut terkena infeksi, jadi ia menghindari siapapun yang terkena selesma. Ia pun takut bekerja keras, jadi ia hanya berdiam diri. Orang ini menguras energy mentalnya hanya dengan mengkhawatirkan kejadian yang mungkin bakal terjadi. Ia membuat orang lain bosan dengan terus menceritakan “betapa mengerikan” penyakitnya itu. Penyakit sesungguhnya bukanlah diabetes. Orang ini adalah korban dalih kesehatan. Ia mengasihani dirinya sendiri sehingga menjadi orang mirip cacat.

Orang kedua yang bertolak belakang dengan orang pertama adalah seorang manajer divisi di perusahaan penerbitan besar. Penyakit diabetesnya berat. Ia harus disuntik insulin tiga puluh kali lebih sering daripada orang pertama tadi. Namun, ia hidup bukan untuk sakit. Ia hidup dengan bekerja dan menikmati hidup. Suatu saat ia berkata kepada saya, “memang tidak enak punyak penyakit, begitu pula bercukur. Namun saya tidak ingin berbaring saja di ranjang. Ketika saya disuntuk insulin, saya hanya ingin memuji para penemu insulin”.

Seorang sahabat saya sekaligus dosen terkenal, pulang dari Eropa pada 1945 dengan kehilangan salah satu lengannya. Kendati cacat, John tetap tersenyum dan selalu menolong orang lain. Ia selalu optimis layaknya orang lain yang saya kenal. Suatu hari saya dan dirinya berbincang lama tentang kekurangan fisiknya itu.

“Lengan saya yang hilang Cuma satu”, ujarnya, “memang memiliki dua lengan lebih baik daripada satu lengan. Namun, mereka Cuma memotong satu lengan saja. jiwa saya masih utuh 100 persen. Saya sungguh bersyukur karenanya”.

Seorang teman lain yang lengannya diamputasi adalah seorang pegolf terkenal. Suatu hari saya bertanya bagaimana dirinya mampu bermain nyaris sempurna dengan satu lengan. Saya katakan juga bahwa kebanyakan pegolf dengan dua lengan pun tidak mampu melakukannya. Ia menjawab dengan panjang lebar, “Dari pengalaman, saya tahu satu lengan dengan sikap yang benar akan mengalahkan dua lengan dengan sikap yang salah”. satu dengan dengan sikap yang benar akan mengalahkan dua lengan dengan sikap yang salah. renungkanlah sejenak. Perkataan ini tidak hanya berguna di lapangan golf, tapi bisa juga diterapkan dalam kehidupan anda.

 

4 Hal yang dapat anda lakukan untuk melawan dalih kesehatan

Vaksin terbaik terhadap dalih kesehatan mencakup 4 dosis berikut:

  1. Jangan berbicara tentang kesehatan anda.

Kian sering anda bercerita tentang penyakit anda misalnya selesma, penyakit anda kian memburuk. Berbicara tentang penyakit ibarat memupuki rumput liar. Orang lain akan bosan mendengarnya karena itu terkesan egois dan bawel. Pribadi yang berpikir sukses akan mengalahkan keinginan untuk berbicara tentang penyakitnya. Seseorang mungkin (saya tekankan kata mungkin) mendapat sedikit simpati, tapi ia tidak akan dihargai dan dihormati orang lain karena sifatnya yang suka mengeluh.

  1. Jangan mengkhawatirkan kesehatan anda.

Dr. Walter Alvarez, konsultan emeritus di Mayo Clinic, baru baru ini menulis, “Saya selalu meminta pencemas untuk menahan diri. Contohnya, tatkala saya melihat pria ini (seseorang yang yakin dirinya menderita penyakit kantung empedu meskipun delapan pemeriksaan sinar X menunjukkan empedunya itu normal), saya meminta supaya ia berhenti memeriksakan empedunya itu. Saya pun sudah meminta ratusan pria yang peduli dengan jantungnya, agar berhenti menjalani elektrokardiogram”.

  1. Bersyukur anda dianugrahi kesehatan yang baik. Ada pepatah kuno yang sering diucapkan, “saya menyesali sepatu yang butut hingga akhirnya saya bertemu dengan orang yang tidak punya kaki”. Lebih baik anda bersyukur dianugrahi kesehatan daripada mengeluh tidak enak badan. Bersyukur atas kesehatan yang anda miliki adalah vaksinasi kuat terhadap munculnya penyakit baru.
  2. Camkan, “Lebih baik bekerja sampai tua daripada menganggur karena anda tua”. Nikmatilah hidup anda. Jangan sia siakan hidup anda dengan berpikir bahwa anda akan masuk rumah sakit.

 

  1. Tapi anda harus punya kecerdasan untuk sukses.

Dalih kecerdasan atau kurang cerdas, kerap terjadi. Sesungguhnya, 95 persen manusia di sekitar kita mengidapnya dalam tingkat yang bervariasi. Berbeda dengan tipe dalih yang  lain, orang yang menderita penyakit ini sekedar menyimpannya dalam hati. Hanya segelintir orang yang berani mengakui secara terbuka bahwa mereka merasa kurang cerdas. Mereka Cuma merasakannya dalam hati.

Sebagian besar dari kita membuat dua kesalahan mendasar mengenai kecerdasan:

  1. Kita meremehkan kecerdasan kita
  2. Kita menganggap kecerdasan orang lain terlalu tinggi

Gara gara dua kesalahan tersebut, banyak orang meremehkan diri mereka sendiri. mereka gagal mengatasi situasi situasi yang menantang karena mereka mengira “pekerjaan itu memerlukan kecerdasan”. Kemudian, datanglah seseorang yang tidak memperdulikan kecerdasan, sehingga ia pun memperoleh pekerjaan itu.

Sesungguhnya, yang terpenting bukan besarnya kecerdasan yang anda miliki melainkan cara anda menggunakan kecerdasan itu. Pola pikir yang membimbing kecerdasan anda jauh lebih penting daripada kuantitas kecerdasan anda. Saya ulangi lagi karena hal ini sangat penting: pola pikir yang membimbing kecerdasan anda jauh lebih penting daripada besarnya kecerdasan yang anda miliki.

Dalam menjawab pertanyaan, “Mampukah anak anda menjadi seorang ilmuwan?”, Dr. Edward Teller, seorang ahli fisika terkemuka, mengatakan, “anak tidak membutuhkan pikiran yang cerdas untuk menjadi ilmuwan. Ia tidak memerlukan memori ajaib, juga tidak perlu memiliki nilai tinggi di sekolah. Namun, anak itu harus memiliki minat yang besar terhadap ilmu pengetahuan”.

Minat dan antusiasme adalah faktor yang penting dalam ilmu pengetahuan!. Dengan sikap positif, kooperatif, dan optimis, seseorang dengan IQ 100 akan memperoleh lebih banyak uang, mendapatkan rasa hormat, dan meraih kesuksesan daripada seseorang dengan IQ 120 yang bersikap negative, nonkooperatif, dan pesimis.

Jika anda bertekun pada sesuatu, pekerjaan-tugas-proyek, hingga selesai, anda jauh lebih bai daripada orang dengan kecerdasan yang menganggur, sekalipun ia genius.

Ketekunan adalah 95 persen dari kemampuan.

Setahun silam saat perayaan resmi, saya bertemu seorang teman kuliah yang sudah 10 tahun tidak bersua. Chuck adalah mahasiswa yang sangat cerdas dan lulus dengan pujian. Terakhir kali saya berjumpa dengannya, Chuck ingin merintis bisnis sendiri di Nebraska barat.

Saya bertanya bisnis apa yang sudah dibangun Chuck

“saya tidak membangun bisnis sendiri, saya belum mengatakan hal ini kepada orang lain lima atau setahun silam, tapi kini saya siap membicarakannya”.

“Tatkala mengingat masa masa kuliah saat ini, saya paham, saya dulu pandai menggali mengapa ide bisnis takkan sukses. Saya mempelajari setiap perangkap yang mungkin terjadi dalam bisnis, juga setiap alasan mengapa bisnis kecil akan gagal, “anda harus punya modal yang cukup”, pastikan siklus bisnis anda benar, “adakah banyak permintaan terhadap barang atau jasa yang anda tawarkan?”, apakah industry lokal yang sudah stabil?, ada seribu satu alasan yang harus dikaji”

“Saya terpukul ketika melihat beberapa teman SMA saya yang dulunya tidak menonjol, bahkan tidak pernah kuliah, tapi sangat sukses membangun bisnisnya. Kebalikkannya, saya harus membanting tulang dengan mengaudit perusahaan pelayaran. Andai dulunya saya sedikit dilatih menjalankan bisnis kecil, mungkin kini saya akan lebih mapan”.

Pola pikir yang membimbing kecerdasan Chuck jauh lebih penting daripada besarnya kecerdasan Chuck.

Mengapa segelintir orang cerdas mengalami kegagalan?, selama beberapa tahun, saya bersahabat dengan seseorang yang termasuk kategori genius, memiliki kecerdasan tinggi, dan seorang anggota Phi Beta Kappa. Meski demikian, pria ini adalah seorang sosok paling tidak sukses yang saya kenal. Ia memiliki pekerjaan yang serba tanggung (karena ia takut menerima tanggung jawab besar). Ia tidak mau menikah (karena banyak pernikahan berakhir dengan perceraian). Ia hanya memiliki sedikit teman (karena ia bosan dengan banyak orang). Ia tidak pernah berinvestasi dalam bisnis property (karena ia takut kehilangan uangnya). Teman saya ini menggunakan kecerdasannya hanya untuk membuktikan mengapa semuanya gagal, bukannya mengarahkan kekuatan mentalnya untuk mencari jalan kesuksesan.

Karena pola pikir negative bercokol dalam benaknya, orang ini hanya berkontribusi sedikit dan tidak menghasilkan prestasi apapun dalam hidupnya. Dengan mengubah sikap, ia sebenarnya mampu melakukan hal hal yang besar. Pria ini memiliki kecerdasan yang sesungguhnya bisa digunakan untuk meraih sukses yang luar biasa, tapi it tidak memiliki kekuatan berpikir.

Saya mengenal teman lain yang menjadi angkatan darat setelah meraih gelar doktornya dari sebuah universitas terkemuka di New York. Bagaimana pria ini bisa melewatkan waktunya selama tiga tahun di angkatan darat? Bukan sebagai perwira. Bukan sebagai staf ahli. Namun, ia bekerja sebagai sopir truk di sana. Mengapa? Karena pikirannya dipenuhi dengan sikap negative terhadap sesama tentara (saya merasa lebih unggul dari tentara lainnya), terhadap metode dan prosedur militer (mereka bodoh), terhadap disiplin (disiplin hanya buat tentara lain, bukan buar saya), terhadap semuanya termasuk dirinya sendiri (saya merasa bodoh karena tidak mencoba menemukan jalan untuk meloloskan diri dari hukuman ini).

Orang lain tidak menghargai teman saya ini. Semua kecerdasannya terkubur. Sikap negatifnya mengubah dirinya menjadi pelayan.

Ingat, pola pikir yang membimbing kecerdasan anda jauh lebih penting daripada besarnya kecerdasan yang anda miliki. Bahkan, seseorang dengan gelar doctor pun tidak mampu menerapkan prinsip sukses yang paling mendasar ini.

Beberapa tahun silam, saya bersahabat dengan Phil F, seorang pegawai senior dari sebuah agen periklanan yang besar. Phil adalah direktur riset pemasaran di agen itu dan prestasinya sangat mengagumkan.

Apakah Phil orang yang cerdas? Sama sekali tidak. Phil nyaris tidak mengerti teknik riset. Ia nyaris tidak paham statistika. Ia pun bukan lulusan perguruan tinggi (walaupun semua bawahannya adalah lulusan perguruan tinggi). Namun, Phil tidak berpura pura mengerti tekni riset. Apa yang membuat Phil mampu meraup penghasilan 30.000 dollar setahun, sementara tak seorangpun bawahannya meraih penghasilan sebesar 10.000 dollar?

Inilah jawabannya,Phil adalah seorang insinyur yang mengatur “manusia”. Pikiran Phil 100 persen diisi dengan hal hal positif. Phil mampu menginspirasi anggota timnya ketia mereka kurang bersemangat. Phil adalah pribadi yang antusias. Ia pandai membangkitkan antusiasme orang lain. Phil mengerti orang lain dan ia menyukai mereka karena dirinya benar benar melihat hal yang menggerakkan mereka.

Semunya bukan disebabkan kecerdasan Phil, melainkan cara Phil mengelola kecerdasan sehingga dirinya jadi tiga kali lebih bernilai di perusahaannya daripada orang lain yang memiliki IQ tinggi.

Dari setiap 100 orang yang mendaftar ke perguruan tinggi, kurang dari lima puluh orang saja yang akan lulus. Saya penasaran dan meminta penjelasan kepada seorang direktur bidang pendaftaran dari sebuah universitas terkemuka.

“Itu bukan karena mereka kurang cerdas”, katanya, “Kami tidak akan menerima mereka jika mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup. Dan bukan pula karena uang. Siapapun yang ingin membiayai dirinya sendiri di perguruan tinggi bisa kuliah. Alasannya adalah sikap. Anda akan terkejut, katanya, “banyak mahasiswa meninggalkan bangku kuliah karena mereka tidak menyukai dosen dosennya, mata kuliah yang harus diambil dan sesama manusia”.

Alasan serupa, yaitu pikiran negative, menjelaskan mengapa pintu tertutup bagi banyak eksekutif muda yang ingin menuju posisi puncak. Alih alih kecerdasan yang kurang, penghambat karier ribuan eksekutif muda adalah sikap murung, negative, dan pesemis. Seorang eksekutif pernah berkata kepada saya, “kami tidak mempromosikan jabatan seorang eksekutif muda berdasarkan kecerdasannya. Yang menyebabkan ia gagal adalah sikapnya”.

Sebuah perusahaan asuransi pernah menugaskan saya untuk mempelajari mengapa 25 persen agen tingkat atas mampu menjual 75 persen produk asuransi, tetapi 25 persen agen tingkat bawah hanya sanggup menjual 5 persen dari volume total.

Ribuan arsip personalia telah ditelaah dengan hati hati. Penyelidikan itu membuktikan tidak ada perbedaan dalam kecerdasan. Selain itu, perbedaan tingkat pendidikan tidak ada kaitannya dengan perbedaan dalam sukses penjualan. Perbedaan antara orang sukses dan tidak sukses akhirnya mengerucut menjadi perbedaan sikap, atau perbedaan manajemen pola pikir.

Kelompok orang sukses itu lebih antusias, hampir tidak merasa khawatir, dan menyukai orang lain.

Kita memang tidak bisa banyak mengubah besarnya kemampuan kita, tapi kita sanggup mengucah cara kita menggunakan kemampuan yang kita miliki.

Pengetahuan adalah kekuatan, hanya ketika anda menggunakannya secara konstruktif. Dalih kecerdasan terkait erat dengan anggapan keliru tentang pengetahuan. Kita sering mendengar bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Namun pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Pengetahuan itu hanyalah potensi kekuatan. Pengetahuan baru menjadi kekuatan ketika anda menggunakannya untuk membangun diri anda.

Ilmuwan terkemuka Einstein pernah ditanyai berapa ukuran kaki dalam satu mil. Eintein menjawab, “Saya tidak tahu. Mengapa saya harus mengisi benak saya dengan fakta fakta yang dalam dua menit bisa saya temukan di buku referensi standar?”

Einstein mengajarkan sebuah pelajaran berharga bagi kita. Ia merasa menggunakan benak untuk berpikir lebih penting daripada menggunakannya sebagai gudang penimbun fakta.

Henry Ford pernah mengajukan gugatan kepada Chicago Tribune karena kasus pencemaran nama baik. Tribune menyubut Ford sebagai orang bebal, lalu Ford berkata, “buktikanlah”.

Tribune lalu mengajukan beberapa pertanyaan sederhana seperti, “Siapakah benedict arnod?”, kapan dimulainya, perang revolusi?, dan lainnya. Ford yang tidak mengenyam pendidikan formal tidak mampu menjawab sebagian besar pertanyaan tersebut.

Akhirnya, Ford jengkel dan berkata, “saya memang tidak mampu menjawab pertanyaan pertanyaan itu, tapi saya bisa menemukan seseorang yang bisa menjawabnya dalam lima menit”.

Henry Ford tidak pernah tertarik pada informasi yang beragam. Ia tahu hal yang harus diketahui setiap eksekutif perusahaan, yaitu kemampuan memperoleh informasi lebih penting daripada menggunakan benak sebagai penimbun fakta.

Berapa nilai seorang pria penimbun fakta?, baru baru ini, saya melewatkan petang yang menarik dengan seorang teman, direktur utama perusahaan manufaktur yang baru berdiri dan berkembang pesat. Kami menonton acara kuis terpopuler di televise. Selama beberapa pekan, pria peserta kuis itu tampil di acara tersebut. ia mampu menjawab seluruh pertanyaan dari berbagai subjek, bahkan pertanyaan tersulit sekalipun.

Setelah pria itu menjawab pertanyaan sulit, yaitu sesuatu tentang gunung di argentina, teman saya itu menatap saya dan bertanya, “berapa gaji yang kira kira akan saya tawarkan pada pria peserta kuis itu jika ia bekerja di perusahaan saya?”

“berapa?”, tanya saya balik

“Tidak lebih dari 300 dollar”, bukan setiap pekan atau bulan, tapi seumur hidupnya. Saya sudah menilainya. Orang itu tidak mampu berpikir. Ia hanya mampu menghafal. Ia hanya ensilokpedia berjalan. Dengan uang 300 dollar saya bisa membeli satu seti ensilokpedia yang lengkap. Padahal, mungkin 300 dollar itu terlalu banyak. Saya bisa menemukan 90 persen jawaban jawaban pria itu dari alamanak keluarga seharga 2 dollar”.

 

Tiga cara menyembuhkan dalih kecerdasan

Berikut adalah 3 cara mudah untuk menyembuhkan dalih kecerdasan:

  1. Jangan pernah remehkan kecerdasan anda dan jangan pernah anggap kecerdasan orang lain terlalu tinggi. Jangan remehkan diri anda. Berkonsentrasilah pada asset anda. Temukan talenta terpendam anda. Ingat, anda tidak perlu mencemaskan besarnya kecerdasan anda, yang penting anda menggunakan kecerdasan tersebut. alih alih mengkhawatirkan hasil tes IQ, kelolalah kecerdasan anda.
  2. Setiap hari, ingatkan diri anda beberapa kali, “sikap saya lebih penting dari kecerdasan saya”. Praktikkan sikap positif dalam pekerjaan dan alasan mengapa anda tidak sanggup. Kembangkan sikap “saya menang”. Terapkan kecerdasan anda agar anda menjadi positif dan kreatif. Gunakan kecerdasan anda untuk menemukan cara menang, bukannya membuktikan kekalahan anda.
  3. Ingatlah, kemampuan berpikir jauh lebih bernilai daripada kemampuan mengingat fakta. Gunakan benak anda untuk menciptakan dan mengembangkan banyak ide sekaligus menemukan cara baru yang lebih mudah untuk melakukan banyak hal. Bertanyalah kepada diri anda,. Apakah saya menggunakan kemampuan mental saya untuk menorehkan sejarah, atau apakah saya hanya menggunakannya untuk menghafal sejarah yang ditorehkan orang lain?

 

  1. Tidak ada gunanya, saya terlalu tua (atau terlalu muda)

Dalih usia adalah penyakit kegagalan dimana seseorang merasa terlalu tua atau terlalu muda.

Anda sudah mendengar ratusan orang dari segala usia yang mengatakan kinerja mereka serba tanggung karena, “kini, saya terlalu tua (atau terlalu muda) untuk memulainya. Saya tidak mampu mewujudkan keinginan atau kemampuan saya karena kendala usia”.

Fakta ini sungguh mengejutkan karena hanya segelintir orang yang merasa pantas melakukan sesuatu sesuai dengan usianya. Dalih ini sangat merugikan karena menutup peluang ribuan orang. Mereka merasa usialah yang menjadi kendala sehingga mereka pun tak mau mencoba hal baru.

Perkataan, “saya terlalu tua” adalah bentuk dalih usia yang paling umum. Penyakit ini menyebar melalui cara cara yang samar. Kisah sinetron di televise menayangkan seorang eksekutif puncak yang kehilangan jabatannya karena perusahaannya melakukan merger. Ia tidak bisa menemukan pekerjaan lain karena faktor usia. Pria tua itu butuh waktu berbulan bulan untuk menemukan pekerjaan, tapi dirinya tidak bisa. Akhirnya, setelah sempat merencanakan bunuh diri, orang itu memutuskan untuk menikmati masa tua dan masa pensiunnya.

Topic, “mengapa anda tersingkir di usia 40 tahun”, banyak ditanyangkan dan dimuat di sinetron serta artikel majalah. Topic ini populer bukan karena menampilkan fakta sesungguhnya, melainkan karena itu dikonsumsi orang orang cemas yang mencari dalih.

 

Cara menangani dalih usia

Penyakit dalih usia bisa disembuhkan. Beberapa tahun silam, ketika menjadi pembicara dalam suatu program pelatihan penjualan, saya menemukan serum yang sanggup menyembuhkan penyakit ini sekaligus memvaksinasi anda agar tidak terjangkit.

Ada seorang peserta pria bernama cecil yang berusia 40 tahun dan berupaya bekerja sebagai tenaga penjualan sebuah perusahaan manufaktur. Namun, cecil merasa dirinya sudah terlalu tua. “bagaimanapun juga, saya harus mulai dari awal lagi. Dan saya terlalu tua untuk itu. Usia saya sudah 40 tahun”, kata cecil.

Saya berbincang dengan cecil beberapa kali tentang masalah usianya itu. Saya menggunakan petuah kuno saya, “anda hanya merasa tua karena anda merasakannya”, namun petuah ini tidak manjur karena banyak orang menjawab, “saya memang merasa sudah tua”.

Akhirnya, saya menemukan metode yang mujarab. Satu hari setelah sesi pelatihan, saya mencobanya kepada cecil. Saya berkata, “cecil, kapan dimulainya usia produktif seseorang?”.

Ia berpikir selama beberapa detik lalu menjawab, “oh, saya rasa ketika ia berusia 20 tahun”.

“baiklah”, kata saya, “lalu kapan usia produktif seseorang akan berakhir?”

Cecil menjawab, “nah, jika orang itu sehat dan senang bekerja, saya rasa ia masih produktif ketika berusia 70 tahun atau lebih”.

Saya berkata, “kalau begitu, banyak orang masih produktif setelah mencapai usia 70 tahun. Saya setuju dengan pernyataan anda bahwa usia produktif kita merentang dari usia dua puluh hingga tujuh puluh tahun.

Artinya, masih ada lima puluh tahun. Berapa tahun produktif yang sudah anda lalui?, dua puluh tahun, kata cecil.

Dan berapa tahun produktif lagi yang tersisa bagi anda?, tiga puluh tahun, jawabnya

Dengan kata lain, cecil, anda belum mencapai setengah usia produktif. Anda baru menjalani 40 persen dari tahun produktif anda

Saya menatap cecil dan menyadari dirinya sudah memahami penjelasan saya. Cecil sembuh dari dalih usia. Masih ada tiga puluh tahun yang bisa diisinya dengan banyak peluang. Pola pikirnya berubah dari “saya sudah tua” menjadi saya masih muda. Kini cecil, menyadari faktor usia bukanlah hal yang penting. Usia bisa menjadi berkat atau penghalang, semuanya ditentukan oleh sikap anda.

Jika anda sembuh dari penyakit dalih usia, anda akan melihat banyak peluang yang sebelumnya anda pikir tertutup rapat. Seorang kerabat saya menyita waktunya selama bertahun tahun dengan mengerjakan banyak hal berbeda – menjual barang, menjalankan bisnis, bekerja di bank, tapi ia tidak pernah menemukan keinginan yang didambakannya. Akhirnya, ia menyimpulkan bahwa ia ingin mengabdikan diri menjadi pendeta. Namun saat ia mempertimbangkan hal itu, ia merasa dirinya terlalu tua. Usinya 45 tahun, tabungannya sedikit, dan ketiga anaknya masih kecil.

Untungnya, kerabat saya itu bertekad bulat dan berjanji pada dirinya sendiri, “kendati usia saya sudah 45 tahun, saya harus menjadi pendeta”

Dengan semangat membara, ia mendaftarkan diri pada program pelatihan pendeta di Wisconsin. Lima tahun kemudian, ia ditabiskan menjadi pendeta dan melayani jemaat yang besar di Illinois.

Terlalu tua untuk meraih profesi yang didambakannya? Tentu tidak. Masih ada dua puluh tahun produktif yang terbentang di hadapannya. Saya berbicara dengan kerabat saya ini dan ia pun berkata, “andai saya tidak membuat keputusan besar ketika berusia 45 tahun, saya akan menghabiskan sisa hidup saya sebagai orang tua yang merana. Kini, saya merasa seperti pemuda berusia 20 tahun”.

Dan ia pun tampak awet muda. Tatkala anda sukses melawan dalih usia, anda akan merengkuh optimisme hidup dan semangat muda. Ketika anda mengalahkan ketakutan terhadap batasan usia, anda akan hidup lebih lama dan makin sukses.

Kisah seorang teman kuliah saya ini mampu memberikan pandangan menarik tentang cara mengalahkan dalih usia. Bill lulus dari Harvard pada 1920 an. Setelah berkecimpung dalam bisnis pialang saham dengan hasil pas pasan selama 24 tahun, ia ingin menjadi professor di perguruan tinggi. Teman teman bill mengingatkannya bahwa ia akan kewalahan menjalani program pendidikan. Namun, bill tetap bertekad bulat untuk meraih cita citanya. Ia lalu mendaftar diri pada usia 51 tahun du University of Illinois.

Ia memperoleh gelarnya pada usia 55 tahun. Kini, bill menjabat ketua jurusan ilmu ekonomi di suatu perguruan tinggi. Ia sangat bahagia. Ia tersenyum sambil berujar, “saya mendapatkan kembali sepertiga dari semua tahun yang saya sia siakan”. Usia lanjt adalah penyakit kegagalan. Anda harus mengalahkannya, sehingga bisa terus maju tanpa menghiraukan faktor usia.

Kapan seseorang dikatakan terlalu muda? Dalih usia yang mengatakan “saya terlalu muda” sungguh merusak diri kita. Sekitar setahun silam, seorang pemuda berusia 23 tahun bernama jerry menemui saya karena punya masalah. Jerry adalah pria baik. Ia pernah menjadi penerjun paying, lalu meneruskan kuliah. Sambil kuliah, jerry menafkahi istri dan putranya dengan menjadi tenaga penjualan sebuah perusahaan transportasi. Ia melakukan tugasnya dengan baik, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai tenaga penjualan.

Namun kini Jerry merasa khawatir, “Dr Schwartz, saya punya masalah. Perusahaan saya menawarkan jabatan manajer penjualan kepada saya. Artinya saya akan mengepalai delapan tenaga penjual”, terangnya. “selamat, itu berita yang luar biasa!”, kata saya, “kenapa anda terlihat khawatir?”

“delapan tenaga penjualan tersebut berusia 21 tahun lebih tua dari saya. Apa yang anda sarankan bagi saya?, sanggupkah saya menangani hal ini?”, tanya jerry.

“Jerry, manajer umum pasti sudah mempertimbangkan anda cukup matang. Jika tidak, ia takkan menawari anda jabatan itu. Ingatlah tiga hal penting dan segalanya akan berjalan lancar. Pertama, jangan takut terhadap usia anda. Seorang bocah petani akan dianggap sebagai petani dewasa ketika dirinya sanggup mengerjakan pekerjaan petani dewasa. Usia bocah itu bukanlah penghalang. Dan inipun berlaku bagi anda. Ketika anda terbukti mampu menjalankan tugas sebagai manajer penjualan berarti anda sudah cukup matang”.

“kedua, tetaplah rendah hati. Hargailah semua tenaga penjualan. Mintalah pendapat mereka. Anda harus menampilkan diri anda sebagai pemimpin tim, bukan diktaktor. Lakukan hal itu, mereka akan bekerja sama dengan anda, bukan melawan anda”.

“ketiga, anda harus membiasakan diri memimpin orang yang lebih tua. Banyak pemimpin menyadari mereka lebih muda daripada bawahannya. Jadi, biasakan diri anda mengepalai orang yang lebih tua. Ini akan sangat membantu anda di tahun tahun berikutnya, bahkan ketika ada peluang yang lebih besar sekalipun”.

“dan, ingatlah jerry, usia anda bukanlah penghalang kecuali anda sendiri yang menjadikannya penghalang”.

Kini, jerry sudah sukses. Ia mencintai bisnis transportasi, dan sedang berencana mendirikan perusahaan sendiri dalam beberapa tahun mendatang.

Usia muda menjadi hambatan ketika kita berpikir demikian. Anda sering mendengar bahwa pekerjaan pekerjaan tertentu, seperti menjual surat berharga dan asuransi, mensyaratkan kematangan fisik. Anda harus beruban dan botak untuk memperoleh kepercayaan investor, itu syarat yang tidak masuk akal. Syarat terpenting adalah seberapa baik pengetahuan anda terhadap pekerjaan yang dijalankan. Jika anda mengenal pekerjaan anda dan memahami orang lain, anda sudah cukup matang untuk menjalankannya.

Usia tidak terkait langsung dengan kemampuan, kecuali anda menyakinkan diri sendiri bahwa pertambahan usia anda akan menyebabkan anda makin matang.

Banyak pemuda atau pemudi merasa karier mereka terhambat gara gara faktor usia. Kerap kali, orang lain yang merasa tidak aman dan takut kehilangan jabatannya akan berusaha menjegal karier anda dengan berdalih usia anda belum cukup matang atau alasan lainnya.

Namun, orang yang sungguh sungguh piawai tidak akan berbuat demikian. Mereka akan memberi anda tanggung jawab karena merasa anda mampu menanganinya dengan baik. Kendati masih muda, keunggulan diri anda akan tampak tatkala anda menampilkan kemampuan dan sikap positif.

Secara ringkas, cara menghilangkan dalih usia adalah:

  1. Anda harus memandang usia anda saat ini dengan positif. Pikirkan bahwa anda masih muda, bukanlah usia tua. Tataplah masa depan untuk merengkuh antusiasme dan semangat muda
  2. anda harus menghitung sisa waktu produktif anda. Seseorang yang berusia tiga puluh tahun masih memiliki 80 persen waktu produktifnya. Orang yang berusia lima puluh tahun masih memiliki 40 persen waktu produktif. Hidup ini senantiasa lebih lama daripada taksiran orang lain
  3. anda harus menginvestasikan masa depan dengan mewujudkan keingina anda. Anda akan sungguh terlambat jika anda berpikir negative dan merasa sudah terlambat. Jangan berpikir, “saya seharusnya memulainya bertahun tahun silam”. Itu adalah pemikiran orang gagal. Berpikirlah, “saya akan memulainya saat ini, tahun tahun yang cemerlang terbentang di hadapan saya”. Itulah pola pikir orang sukses.

 

  1. Kasus saya berbeda: saya adalah pembawa sial.

Baru baru ini, saya mendengar seorang ahli di bidang perhubungan darat berdiskusi tentang masalah keselamatan di jalan raya. Ia menunjukkan bahwa lebih dari 40.000 orang meninggal setiap tahun karena kecelakaan.

Hal terpenting yang diucapkan ahli tersebut adalah kecelakaan dalam arti sesungguhnya itu tidak ada. Yang disebut kecelakaan itu adalah akibat keteledoran manusia, gangguan mesin, atau gabungan dari keduanya.

Perkataan ahli itu sejalan dengan perkataan para pemikir bijak yang selama berabad abad mengatakan: ada penyebat dari segalanya yang terjadi.

Tidak ada hal yang terjadi tanpa sebab. Tidak kebetulan pada cuaca hari ini. Itu adalah akibat dari beberapa sebab. Kehidupan kita pun bukan pengecualian.

Kerap kali anda mendengar seseorang menyalahkan nasib sial saat tertimpa masalah. Dan acap kali pula anda mendengar seseorang menyebut kesuksesan orang lain sebagai nasib mujur.

Saya akan menggambarkan bagaimana kita menjadi korban dalih keberuntungan. Baru baru ini saya bersantap siang bersama 3 eksekutif muda. Topic pembicaraan hari ini adalah George C, yang kemarin baru dipromosikan dari kelompok mereka untuk menempati jabatan yang lebih tinggi.

Mengapa George sukses memperoleh jabatan itu? Tiga orang ini mengutarakan berbagai alasan seperti George itu beruntung, George itu penjilat, istri George merayu sang boss dan semuanya, kecuali kebenaran. Padahal, George adalah pribadi yang sungguh berkualitas. Ia melakukan pekerjaannya dengan baik. Ia bekerja keras, kepribadiannya pun lebih baik dan efektif.

Saya juga tahun para petinggi perusahaan sudah mempertimbangkan dengan matang untuk memilih dan mempromosikan salah satu dari keempat orang ini. Tiga teman saya yang kecewa ini seharusnya menyadari bahwa keputusan eksekutif puncak tidak didasarkan pada proses pengundian.

Saya pernah membicarakan dalil keberuntungan dengan seorang tenaga penjual perusahaan pembuat mesin. Ia sangat tertarik dan mengisahkan pengalaman pribadinya.

“saya tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya, tapi setiap tenaga penjualan harus bergulat dengan masalah tersulit. Kemarin, topic yang anda bicarakan tadi sungguh terjadi di perusahaan saya”, urai sang tenaga penjualan.

“seorang tenaga penjual masuk kantor sekitar pukul 16:00 dengan pesanan peralatan mesin sebesar 112.000 dollar. Tenaga penjualan lain yang prestasinya rendah ada di kantor saat itu. Setelah mendengar john memberitahukan kabar baik tersebut, ia mengucapkan selamat dengan perasaan dengki kepada john dan berkata, “wah, john, kau beruntung sekali!”.

“tenaga penjualan dengan prestasi rendah itu hanya menganggap bahwa pesanan yang diperoleh john hanyalah faktor keberuntungan semata. Padahal selama beberapa bulan, john sudah melayani konsumen itu. Ia sering berbincang dengan beberapa orang konsumennya. John bergadang beberapa hari hanya untuk memikirkan produk terbaik bagi mereka. Lalu john meminta para insinyur kami membuatkan desain peralatan tersebut, john bukannya beruntung, kita tidak bisa menyebut pekerjaan terencana sebagai keberuntungan semata”.

Anda keberuntungan digunakan untuk mereorganisasi general motors. Jika keberuntungan diterapkan untuk menentukan siapa mengerjakan apa dan siapa yang pergi kemana, semua bisnis akan hancur. Coba sejenak asumsikan general motors harus direorganisasi berdasar keberuntungan. Untuk melaksanakan reorganisasi tersebut, nama para karyawan akan ditulis dan diletakkan dalam sebuah tong. Nama karyawan yang pertama keluar akan menjadi direktur utama, nama kedua menjadi wakit direktur utama, dan seterusnya.

Itu terdengar bodoh, bukan?, itulah yang terjadi jika semuanya berdasarkan keberuntungan. Orang yang menduduki posisi puncak dalam pekerjaan apapun, manajemen bisnis, penjualan, hukum, rekayasa teknologi, acting, dan sebagainya, mampu meraihnya karena mereka mempunyai keunggulan sikap dan akal sehat dalam kerja kerasnya.

 

Taklukkan dalih keberuntungan dengan 2 cara:

  1. anda harus menerima hukum sebab akibat. Perhatikan sejenak, sesuatu yang dianggap sebagai nasib baik seseorang. Anda akan mendapati bahwa persiapan, perencanaan, dan pola pikir meraih kesuksesanlah yang menyebabkan seseorang sukses, bukan nasib baik belaka. Kemudian, perhatian sesuatu yang tampak sebagai nasib sial. Perhatikan, dan anda akan menemukan alasan alasan tertentu. Pak sukses mengalami kerugian, tapi ia belajar dan kembali beruntung. Namun ketika pak serta tanggung merugi, ia tidak sanggup belajar dari pengalamannya
  2. jangan menjadi pengkhayal. Jangan bertopang dagu dengan bermimpi merengkuh kesuksesan tanpa berusaha. Kita takkan sukses hanya dengan bermodal keberuntungan. Sukses hanya mampu diraih dengan melakukan banyak hal dan menguasai prinsip prinsip kesuksesan. Jangan bergantung pada keberuntungan untuk promosi jabatan, kemenangan, dan hal hal terbaik dalam hidup anda. Keberuntungan bukan dirancang untuk membuahkan hal hal baik. Anda justru harus berkonsentrasi mengembangkan kualitas yang baik dalam diri anda hingga meraih kemanangan.

Sumber: Bab 2, Buku The Magic of thinking big, Penerbit MIC

http://www.micpublishing.co.id/product/the-magic-of-thinking-big/